Insitekaltim, Samarinda – Kepala Dinkes Samarinda Ismid Kusasih menjelaskan, hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat sebanyak 29 penderita AIDS meninggal dunia.
Meski angka tersebut lebih rendah dibandingkan sepanjang 2025 yang mencapai 103 kasus kematian.
Namun pemerintah, tetap memperkuat upaya deteksi dini dan pengobatan untuk menekan angka kematian akibat HIV/AIDS.
Dinkes Samarinda terus mendorong masyarakat yang memiliki faktor risiko untuk melakukan pemeriksaan sedini mungkin.
Semakin cepat HIV terdeteksi dan diobati, semakin besar peluang penderita menjalani hidup sehat dan mencegah penyakit berkembang menjadi AIDS.
Lebih jauh tentang penderita yang meninggal, ia menjelaskan, kematian yang tercatat bukan disebabkan langsung oleh virus HIV. Melainkan karena penderita, telah memasuki fase AIDS sehingga sistem kekebalan tubuh menurun drastis dan rentan terhadap berbagai penyakit penyerta.
“Yang meninggal itu rata-rata sudah dalam kondisi AIDS. Mereka biasanya meninggal karena penyakit penyerta seperti tuberkulosis (TBC) atau penyakit lain akibat daya tahan tubuh yang sudah sangat lemah,” ujarnya, Rabu, 15 Juli 2026.
Ia menjelaskan, HIV dan AIDS merupakan dua kondisi yang berbeda. HIV merupakan infeksi virus yang masih dapat dikendalikan melalui terapi antiretroviral (ARV). Sedangkan AIDS, merupakan stadium lanjut ketika sistem imun penderita telah mengalami kerusakan berat.
Sepanjang 2025, Dinkes Samarinda menemukan 492 kasus baru HIV. Sementara hingga Mei 2026, kasus baru yang ditemukan mencapai 184 orang berdasarkan hasil skrining yang dilakukan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Menurut Ismid, jumlah temuan kasus baru berbeda dengan jumlah pasien yang menjalani pengobatan aktif. Saat ini, tercatat sekitar 2.211 orang masih menjalani terapi HIV secara berkelanjutan di Samarinda.
“HIV harus diobati seumur hidup. Karena itu jumlah pasien yang menjalani terapi bersifat akumulatif dari tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, data kasus baru juga tidak sepenuhnya menggambarkan jumlah penderita yang berdomisili di Samarinda. Pasalnya, sebagian pasien berasal dari daerah lain namun menjalani pemeriksaan maupun pengobatan di Kota Tepian.
“Tujuan utama kami bukan hanya menemukan kasus baru, tetapi juga memastikan pasien menjalani pengobatan secara rutin agar kualitas hidup tetap baik dan angka kematian dapat ditekan,” pungkas Ismid.

