Insitekaltim, Samarinda – Dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terhadap penurunan angka stunting di daerah tersebut masih belum dapat diukur.
Pasalnya, sasaran program selama ini, lebih banyak menyentuh anak sekolah dan belum secara khusus ditujukan untuk kelompok yang berisiko mengalami stunting.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih, menjelaskan, pelaksanaan MBG yang telah berjalan lebih dari satu tahun. Belum bisa dijadikan indikator penurunan stunting, karena cakupan penerima manfaatnya masih bersifat umum.
“Kalau sekarang MBG masih menyasar anak sekolah secara umum, sehingga dampaknya terhadap stunting belum bisa dilihat. Belum bisa disampaikan apakah ada penurunan atau tidak,” ujarnya, Senin, 13 Juli 2026.
Menurut Ismid, penilaian terhadap efektivitas program baru dapat dilakukan. Setelah sasaran MBG diarahkan kepada kelompok yang lebih spesifik, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi atau balita yang menjadi kelompok prioritas, dalam upaya pencegahan stunting.
Ia mengatakan, mulai bulan ini pemerintah mulai memfokuskan pelaksanaan MBG kepada kelompok yang dikenal sebagai 3B, yakni ibu hamil (bumil), bayi, dan ibu menyusui.
Kelompok tersebut dinilai menjadi sasaran paling strategis dalam memutus rantai stunting sejak masa awal kehidupan.
“Dengan sasaran yang lebih tepat, nantinya dampak program terhadap penurunan stunting akan lebih mudah dievaluasi. Saat ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan hasilnya,” katanya.
Dinkes Samarinda pun akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan program tersebut sembari menjalankan berbagai intervensi gizi lainnya sebagai bagian dari upaya menekan prevalensi stunting di Kota Tepian.

