Insitekaltim, Samarinda – Di tengah meningkatnya biaya transportasi dan energi pada Mei 2026, Kalimantan Timur (Kaltim) masih mampu menjaga stabilitas harga.
Pemprov Kaltim mencatat inflasi sebesar 0,17 persen secara bulanan, sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,11 persen.
Peningkatan inflasi, terutama dipengaruhi kenaikan tarif angkutan udara dan harga BBM nonsubsidi. Sementara penurunan harga sejumlah komoditas pangan, membantu menahan tekanan inflasi lebih lanjut.
Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK), kenaikan inflasi bulanan tersebut mendorong inflasi tahunan (year on year/yoy) Kalimantan Timur mencapai 3,04 persen.
Sementara itu, inflasi tahun kalender (year to date/ytd) tercatat sebesar 1,65 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, mengatakan, tekanan inflasi pada Mei 2026 terutama berasal dari kelompok transportasi yang mengalami kenaikan. Seiring meningkatnya tarif angkutan udara dan harga bahan bakar minyak.
“Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan avtur yang berdampak pada meningkatnya biaya transportasi,” ujarnya.
Pada periode laporan, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dex, dan Dexlite tercatat naik rata-rata sekitar 9 persen.
Selain kelompok transportasi, penyediaan makanan dan minuman/restoran juga memberikan kontribusi terhadap inflasi. Kondisi ini mencerminkan, masih tingginya aktivitas konsumsi masyarakat yang mendorong permintaan terhadap berbagai barang dan jasa.
Meski demikian, tekanan inflasi yang lebih tinggi berhasil diredam oleh deflasi pada komponen volatile foods atau kelompok pangan bergejolak yang tercatat sebesar minus 1,09 persen secara bulanan.
Deflasi tersebut menunjukkan, membaiknya pasokan dan normalisasi harga sejumlah komoditas pangan strategis.
Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas daging ayam ras, kangkung, dan ikan tongkol.
Sementara, komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi pada Mei 2026 antara lain angkutan udara, beras, minyak goreng, solar, dan sewa rumah.
Adapun komoditas yang berperan menahan laju inflasi meliputi daging ayam ras, emas perhiasan, ikan layang atau benggol, kangkung, serta bahan bakar rumah tangga.
Untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Kalimantan Timur terus memperkuat sinergi melalui implementasi strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Pada aspek keterjangkauan harga, selama Mei 2026 TPID telah melaksanakan 60 kegiatan Gerakan Pangan Murah, operasi pasar, dan berbagai program stabilisasi harga lainnya di sejumlah daerah, seperti Samarinda, Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Mahakam Ulu, dan Bontang.
Dari sisi ketersediaan pasokan, TPID terus memperkuat pemantauan stok serta memastikan kecukupan pasokan komoditas strategis, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha 2026.
Sementara itu, untuk menjaga kelancaran distribusi, TPID meningkatkan koordinasi antarwilayah guna memastikan rantai pasok berjalan lancar dan mengantisipasi potensi hambatan distribusi yang dapat memicu kenaikan harga.
Pada aspek komunikasi efektif, TPID Provinsi Kalimantan Timur secara rutin menggelar rapat koordinasi mingguan dan menyelenggarakan High Level Meeting (HLM) TPID Kota Samarinda sebagai bagian dari penguatan kesiapan pengendalian inflasi menjelang Iduladha.
Selain itu, TPID juga terus mengintensifkan komunikasi publik melalui penyampaian informasi terkait ketersediaan pasokan, perkembangan harga, serta edukasi belanja bijak kepada masyarakat.
Langkah tersebut , dilakukan untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali. Sekaligus mencegah perilaku konsumsi berlebihan , menjelang hari besar keagamaan.

