Insitekaltim, Samarinda – Hingga Juni 2026 Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat penemuan kasus baru Human Immunodeficiency Virus (HIV) mencapai 184 orang.
“Hingga Juni ini penemuan kasus HIV sekitar 184 orang, sedangkan yang sudah menjalani pengobatan sebanyak 140 orang,” ujar Ismid Kusasih, Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Kamis, 25 Juni 2026.
Ismid mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil dari upaya skrining yang terus diperluas.
Menurutnya, semakin banyak kasus ditemukan sejak dini, maka semakin cepat pula pasien dapat memperoleh pengobatan.
Ismid menjelaskan, karena masih memasuki pertengahan tahun, pihaknya belum dapat menyimpulkan apakah jumlah kasus HIV tahun ini mengalami peningkatan atau penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Namun, Dinkes akan terus memperkuat kegiatan skrining agar penemuan kasus dapat dilakukan lebih cepat.
“Karena HIV adalah penyakit menular, semakin cepat ditemukan maka semakin cepat pula pasien mendapatkan pengobatan,” katanya.
Ia mengibaratkan penanganan HIV sama seperti saat pandemi Covid-19, di mana deteksi dini menjadi kunci memutus rantai penularan.
Selain memperkuat skrining, Dinkes Samarinda juga menyambut baik rencana DPRD Kota Samarinda yang akan menyusun Peraturan Daerah (Perda). Tentang, penanggulangan tuberkulosis (TB) dan HIV.
Regulasi tersebut, dinilai akan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular.
“Ini akan menjadi payung hukum yang kuat dalam pelaksanaan program,” ungkapnya.
Berdasarkan hasil pemantauan Dinkes, pola penularan HIV di Samarinda masih didominasi melalui hubungan seksual berisiko, yang terbanyak disebabkan oleh lelaki suka lelaki (LSL).
Ismid menyebut tren tersebut sejalan dengan kondisi yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
“Kalau dilihat, kasus HIV memang banyak berkaitan dengan perilaku seksual berisiko. Polanya hampir sama dengan yang terjadi di seluruh Indonesia,” jelasnya.
Dinkes Samarinda mengimbau masyarakat, untuk tidak ragu melakukan pemeriksaan HIV. Terutama bagi kelompok yang memiliki faktor risiko.
Menurut Ismid, deteksi dini dan kepatuhan menjalani terapi menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien sekaligus mencegah penularan kepada orang lain.

