Insitekaltim, Samarinda – Beredarnya tudingan yang menyebut Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji sebagai pihak yang diduga berada di balik aksi demonstrasi di Benua Etam memicu perbincangan publik di media sosial.
Isu tersebut mencuat setelah beredar foto dan video yang memperlihatkan Seno Aji bersama sejumlah pihak yang dikaitkan dengan aksi unjuk rasa.
Wakil Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kaltim Akhmed Reza Fachlevi menegaskan, agar publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan dari informasi yang belum terverifikasi. Isu yang beredar lebih banyak bersumber dari opini masyarakat dan narasi media sosial yang belum tentu sesuai fakta.
“Yang jelas kami dari Fraksi Gerindra tetap fokus bagaimana ke depan ini tidak terlepas dari apa yang disampaikan masyarakat kepada kami,” ujar Reza, Senin, 25 Mei 2026.
Fraksi Gerindra tetap menjalankan agenda kelembagaan, termasuk proses hak angket yang telah dijadwalkan pada 10 Juni 2026 untuk pembentukan panitia khusus (pansus).
“Yang jelas kami tetap berproses terkait dengan hak-hak ini. Sudah dijadwalkan pimpinan DPRD tanggal 10 Juni untuk pembentukan pansus. Ini bersifat profesional dan objektif agar hak angket berjalan sesuai mekanisme,” katanya.
Reza juga menilai isu yang mengaitkan Wakil Gubernur dengan aksi demonstrasi tidak perlu dibesar-besarkan karena berpotensi mengganggu stabilitas politik daerah.
“Terlepas dari isu-isu yang ada itu hanya opini masyarakat. Sampai saat ini Pak Wakil Gubernur dan Pak Gubernur masih sejalan, bergandengan tangan membangun Kaltim,” tegasnya.
Ia meminta publik untuk tidak membangun narasi saling berhadapan antara Gubernur dan Wakil Gubernur.
“Jangan ada opini seolah-olah ini dibuat versus. Kita harap suasana di Kaltim tetap kondusif, aman, dan pembangunan bisa berjalan baik,” ujarnya.
Menurutnya, aksi penyampaian aspirasi masyarakat adalah hal yang wajar dalam demokrasi, namun tidak boleh dikaitkan dengan tuduhan tanpa dasar.
“Wajar masyarakat menyampaikan aspirasi. Tinggal bagaimana kita menyikapinya secara baik dan benar, jangan sampai menimbulkan kegaduhan,” katanya.
Reza yang juga menyebut pentingnya klarifikasi dan tabayyun dalam menyikapi isu-isu politik yang berkembang cepat di ruang publik.
“Kalau kita terus memperbesar kegaduhan, yang rugi kita semua. Lebih baik kita bermuhasabah dan tabayyun agar pemerintahan di Kaltim bisa lebih baik ke depan,” tegasnya.
Dibeberapa pemberitaan Seno Aji menjelaskan, foto yang beredar merupakan momen pertemuan saat dirinya baru menjabat sekitar enam hingga tujuh bulan lalu, ketika menerima audiensi terkait Rumah Sakit Islam.
“Astaga, itu foto lama saat kami baru menjabat kurang lebih enam atau tujuh bulan yang lalu, Pak Barkati meminta waktu audiensi terkait Rumah Sakit Islam,” ujar Seno Aji.
Pertemuan tersebut berlangsung di Rumah Jabatan (Rujab) Wakil Gubernur Kaltim dan berlangsung dalam suasana hangat, lantaran saat itu kondisi kantor cukup padat aktivitas.
Pihaknya menerima aspirasi terkait pengelolaan Rumah Sakit Islam, dengan durasi pertemuan sekitar 30 menit.
“Pertemuan sekitar setengah jam. Mereka pamit, dan saya sampaikan bahwa hasil pertemuan ini akan saya laporkan kepada Pak Gubernur,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keesokan harinya dirinya langsung menyampaikan hasil pertemuan tersebut kepada Gubernur Kaltim sebagai bentuk koordinasi pemerintahan.
“Besoknya saya sampaikan agenda pertemuan itu ke Pak Gubernur,” tandasnya.

