Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Usai Revitalisasi Pasar Pagi Sistem Klaster Kios, Belum Mampu Tarik Pengunjung Secara Merata

    July 31, 2026

    Sekolah Rakyat Samarinda Dibuka, Pengaman Tangga hingga Pengelolaan Limbah Belum Tuntas

    July 31, 2026

    Hipertensi Masih Jadi Penyakit Terbanyak di Samarinda, Capai 53.972 Kasus dalam Enam Bulan

    July 31, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Ekonomi»Usai Revitalisasi Pasar Pagi Sistem Klaster Kios, Belum Mampu Tarik Pengunjung Secara Merata
    Ekonomi

    Usai Revitalisasi Pasar Pagi Sistem Klaster Kios, Belum Mampu Tarik Pengunjung Secara Merata

    Nur AjijahBy Nur AjijahJuly 31, 202603 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Suasana Jual Beli di Pasar Pagi (Insitekaltim/Nur)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Penataan kios berbasis klaster di gedung Pasar Pagi yang baru direvitalisasi, menjadi salah satu penyebab lesunya aktivitas perdagangan.

    Hal tersebut dikeluhkan sejumlah pedagang, yang mengatakan penempatan kios yang berpencar membebani biaya operasional pedagang. Sementara tata letak yang diterapkan, dinilai belum mampu menarik arus pengunjung secara merata.

    Ketua Forum Pedagang Pasar Pagi Thoriq Hakim mengatakan, sejak awal para pedagang telah mengusulkan agar pembagian kios mempertimbangkan jumlah petak yang dimiliki setiap pedagang.

    “Namun, usulan tersebut tidak diakomodasi,” ungkap Thoriq.

    Menurutnya, banyak pedagang yang memiliki lebih dari satu kios justru memperoleh lokasi yang tersebar di berbagai lantai, sehingga sulit untuk dioperasikan secara bersamaan.

    “Kalau kiosnya berpencar, otomatis kami harus menambah karyawan. Sementara satu kios saja belum tentu menghasilkan, apalagi harus membuka beberapa kios sekaligus,” ujarnya saat ditemui di Pasar Pagi, Jumat, 31 Juli 2026.

    Ia mencontohkan, ada pedagang yang memiliki belasan kios tetapi tersebar mulai lantai tiga hingga lantai tujuh. Akibatnya, sebagian besar kios terpaksa ditutup karena biaya operasional tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.

    Thoriq menilai, apabila pembagian kios dilakukan berdasarkan kelompok jumlah petak dan ditempatkan dalam satu area yang berdekatan, maka lebih banyak kios yang dapat beroperasi sehingga aktivitas perdagangan menjadi lebih hidup.

    Selain itu, ia menilai revitalisasi Pasar Pagi hanya berhasil dari sisi tampilan fisik, tetapi belum mampu menghidupkan fungsi pasar sebagai pusat perdagangan.

    “Kalau dari sisi estetik memang bagus, tetapi dari sisi fungsi menurut saya gagal. Penataan ruangnya tidak mempertimbangkan masukan pedagang sehingga dampaknya sekarang pasar menjadi sepi,” katanya.

    Ia juga mengaku Forum Pedagang telah beberapa kali mengirim surat permohonan audiensi kepada Dinas Perdagangan untuk menyampaikan berbagai masukan. Namun hingga kini belum ada tanggapan.

    “Kami bukan menolak kebijakan pemerintah. Kami justru ingin memberikan solusi karena kami yang setiap hari berjualan di sini. Tapi sampai empat kali berkirim surat belum pernah diajak berdiskusi,” ungkapnya.

    Salah satu usulan yang disampaikan pedagang ialah memusatkan seluruh area kuliner di lantai tujuh agar menjadi daya tarik bagi pengunjung sekaligus mendorong pergerakan masyarakat ke seluruh lantai pasar.

    “Kalau pusat kuliner dijadikan satu di atas, orang yang datang makan pasti melewati kios-kios di lantai lain. Itu bisa memancing transaksi di seluruh area pasar,” jelasnya.

    Keluhan serupa juga disampaikan pedagang jamu di lantai dua, Ohan. Ia menilai penerapan sistem klaster justru membatasi pedagang dalam menjual barang yang dibutuhkan konsumen.

    Menurutnya, sejumlah pedagang mendapat teguran ketika menjual produk di luar kategori klaster yang telah ditentukan.

    “Kami terkendala klaster. Padahal tujuannya supaya pembeli lebih banyak pilihan. Kalau terus dibatasi, pengunjung juga semakin sedikit,” katanya.

    Selain persoalan penataan, Ohan juga mengeluhkan kondisi bangunan yang masih mengalami tempias saat hujan, terutama di beberapa titik di lantai dua.

    Para pedagang berharap, pemerintah segera mengevaluasi sistem penataan Pasar Pagi dengan melibatkan pelaku usaha secara langsung agar revitalisasi yang telah dilakukan tidak hanya menghasilkan bangunan yang megah, tetapi juga mampu menghidupkan kembali aktivitas ekonomi para pedagang.

     

    Distribusi kios Kios Pasar Pagi Pasar Pagi Samarinda
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Nur Ajijah

    Related Posts

    Sekolah Gratis Belum Menjamin Anak Bertahan di Bangku Sekolah

    July 30, 2026

    Di Tengah Isu PHK, Disnakertrans: Pengangguran Kaltim Justru Turun

    July 30, 2026

    Jaga Stabilitas Ekonomi Ketahanan Protein Hewani Jadi Strategi di Kaltim

    July 30, 2026

    Tekan Inflasi, BPS Minta Penguatan Komoditas Lokal Harus Berkelanjutan

    July 29, 2026

    Ekonomi Samarinda 2025 Melambat Bukan Menurun, Ini Penjelasannya

    July 28, 2026

    Efisiensi Anggaran Jadi Pemicu Pertumbuhan Ekonomi Samarinda Melambat ke 6,22 Persen

    July 27, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    You must be logged in to post a comment.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Usai Revitalisasi Pasar Pagi Sistem Klaster Kios, Belum Mampu Tarik Pengunjung Secara Merata

    Nur AjijahJuly 31, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Penataan kios berbasis klaster di gedung Pasar Pagi yang baru direvitalisasi, menjadi…

    Sekolah Rakyat Samarinda Dibuka, Pengaman Tangga hingga Pengelolaan Limbah Belum Tuntas

    July 31, 2026

    Hipertensi Masih Jadi Penyakit Terbanyak di Samarinda, Capai 53.972 Kasus dalam Enam Bulan

    July 31, 2026

    Warga Diminta Segera Melapor Bila Muncul Riwayat Pemeriksaan Tak Dikenal di Satu Sehat

    July 31, 2026

    Anak Putus Sekolah hingga Anak Jalanan Masuk Sekolah Rakyat, MPLS Dua Pekan Dimulai

    July 31, 2026
    1 2 3 … 3,249 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.