Insitekaltim, Samarinda – Penataan kios berbasis klaster di gedung Pasar Pagi yang baru direvitalisasi, menjadi salah satu penyebab lesunya aktivitas perdagangan.
Hal tersebut dikeluhkan sejumlah pedagang, yang mengatakan penempatan kios yang berpencar membebani biaya operasional pedagang. Sementara tata letak yang diterapkan, dinilai belum mampu menarik arus pengunjung secara merata.
Ketua Forum Pedagang Pasar Pagi Thoriq Hakim mengatakan, sejak awal para pedagang telah mengusulkan agar pembagian kios mempertimbangkan jumlah petak yang dimiliki setiap pedagang.
“Namun, usulan tersebut tidak diakomodasi,” ungkap Thoriq.
Menurutnya, banyak pedagang yang memiliki lebih dari satu kios justru memperoleh lokasi yang tersebar di berbagai lantai, sehingga sulit untuk dioperasikan secara bersamaan.
“Kalau kiosnya berpencar, otomatis kami harus menambah karyawan. Sementara satu kios saja belum tentu menghasilkan, apalagi harus membuka beberapa kios sekaligus,” ujarnya saat ditemui di Pasar Pagi, Jumat, 31 Juli 2026.
Ia mencontohkan, ada pedagang yang memiliki belasan kios tetapi tersebar mulai lantai tiga hingga lantai tujuh. Akibatnya, sebagian besar kios terpaksa ditutup karena biaya operasional tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.
Thoriq menilai, apabila pembagian kios dilakukan berdasarkan kelompok jumlah petak dan ditempatkan dalam satu area yang berdekatan, maka lebih banyak kios yang dapat beroperasi sehingga aktivitas perdagangan menjadi lebih hidup.
Selain itu, ia menilai revitalisasi Pasar Pagi hanya berhasil dari sisi tampilan fisik, tetapi belum mampu menghidupkan fungsi pasar sebagai pusat perdagangan.
“Kalau dari sisi estetik memang bagus, tetapi dari sisi fungsi menurut saya gagal. Penataan ruangnya tidak mempertimbangkan masukan pedagang sehingga dampaknya sekarang pasar menjadi sepi,” katanya.
Ia juga mengaku Forum Pedagang telah beberapa kali mengirim surat permohonan audiensi kepada Dinas Perdagangan untuk menyampaikan berbagai masukan. Namun hingga kini belum ada tanggapan.
“Kami bukan menolak kebijakan pemerintah. Kami justru ingin memberikan solusi karena kami yang setiap hari berjualan di sini. Tapi sampai empat kali berkirim surat belum pernah diajak berdiskusi,” ungkapnya.
Salah satu usulan yang disampaikan pedagang ialah memusatkan seluruh area kuliner di lantai tujuh agar menjadi daya tarik bagi pengunjung sekaligus mendorong pergerakan masyarakat ke seluruh lantai pasar.
“Kalau pusat kuliner dijadikan satu di atas, orang yang datang makan pasti melewati kios-kios di lantai lain. Itu bisa memancing transaksi di seluruh area pasar,” jelasnya.
Keluhan serupa juga disampaikan pedagang jamu di lantai dua, Ohan. Ia menilai penerapan sistem klaster justru membatasi pedagang dalam menjual barang yang dibutuhkan konsumen.
Menurutnya, sejumlah pedagang mendapat teguran ketika menjual produk di luar kategori klaster yang telah ditentukan.
“Kami terkendala klaster. Padahal tujuannya supaya pembeli lebih banyak pilihan. Kalau terus dibatasi, pengunjung juga semakin sedikit,” katanya.
Selain persoalan penataan, Ohan juga mengeluhkan kondisi bangunan yang masih mengalami tempias saat hujan, terutama di beberapa titik di lantai dua.
Para pedagang berharap, pemerintah segera mengevaluasi sistem penataan Pasar Pagi dengan melibatkan pelaku usaha secara langsung agar revitalisasi yang telah dilakukan tidak hanya menghasilkan bangunan yang megah, tetapi juga mampu menghidupkan kembali aktivitas ekonomi para pedagang.

