Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    RTLH Harus Diintervensi Guna Dukung Percepatan Penurunan Stunting

    Juni 10, 2026

    Piala Dunia 2026 Dongkrak Antusiasme Warga, Warkop Siap Jadi Tempat Nobar

    Juni 10, 2026

    Patuh Pada Partai, PAN Klaim Tak Hadiri Sidang Paripurna Hak Angket

    Juni 10, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Advertorial»DPRD Bontang»Standarisasi Data Lemah, Angka Stunting di Bontang Sulit Ditekan
    DPRD Bontang

    Standarisasi Data Lemah, Angka Stunting di Bontang Sulit Ditekan

    SittiBy SittiOktober 30, 202403 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Anggota Komisi A DPRD Bontang, Muhammad Yusuf.
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Bontang – Angka stunting di Kota Bontang dinilai sulit ditekan akibat lemahnya standarisasi dalam pengukuran dan pencatatan data di lapangan. Anggota DPRD Bontang Muhammad Yusuf mengungkapkan bahwa kader-kader kesehatan yang bertugas menimbang dan mencatat data stunting masih mengalami kebingungan akibat belum adanya standar seragam dalam penentuan status stunting pada anak-anak.

    Yusuf menjelaskan bahwa belum ada panduan yang konsisten mengenai batasan berat dan tinggi badan yang pasti untuk mendefinisikan status stunting di Bontang. Ketiadaan standar ini berakibat pada hasil pengukuran yang beragam antara satu posyandu dan posyandu lainnya, sehingga data yang tercatat tidak bisa merepresentasikan kondisi sebenarnya.

    “Semua kader harus memiliki standar yang sama dalam menentukan apakah seorang anak tergolong stunting atau tidak. Misalnya, jika di bawah berat tertentu baru dikatakan stunting, dan itu harus diterapkan seragam. Saat ini, standarnya belum jelas, jadi hasilnya cenderung acak,” ungkap Yusuf dalam pernyataannya beberapa hari lalu.

    Yusuf juga menyoroti alokasi anggaran sebesar Rp3 miliar dari total Rp27 miliar anggaran kesehatan di Bontang yang dirasa belum memadai untuk menekan angka stunting. Sementara sebagian besar anggaran kesehatan, sebesar Rp24 miliar, dialokasikan untuk program BPJS, penanganan stunting hanya menerima porsi kecil.

    “Dana untuk stunting masih sangat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan di lapangan. Dengan dana yang terbatas, tentu upaya menekan angka stunting juga terbatas,” ujar Yusuf.

    Dalam hal ini, Yusuf juga menyarankan agar alokasi anggaran dan pelaksanaan program kesehatan ditinjau ulang. Menurutnya, perlu adanya strategi yang lebih tepat agar dana yang terbatas dapat lebih efektif dimanfaatkan.

    Tidak hanya pada standarisasi dan anggaran, Yusuf juga menyoroti rendahnya insentif bagi kader yang bertugas di posyandu. Saat ini, kader kesehatan hanya menerima insentif sebesar Rp150 ribu per bulan, yang diterima setiap tiga bulan sekali. Insentif yang minim ini dikhawatirkan memengaruhi semangat para kader dalam menjalankan tugas.

    “Kader kesehatan di posyandu kasihan sekali, mereka hanya mendapat Rp150 ribu per bulan, dan itu pun dibayarkan per tiga bulan. Kondisi ini membuat mereka jadi kurang semangat,” kata Yusuf.

    Ia mengusulkan agar insentif kader ditingkatkan demi menjaga kualitas data dan semangat para kader yang berada di garda depan pencatatan kasus stunting. Yusuf meyakini bahwa motivasi kader juga berperan dalam keberhasilan program stunting di daerah.

    Selain persoalan teknis di lapangan, Yusuf juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menimbang anak secara rutin. Menurut data Dinas Kesehatan Bontang, angka stunting dapat turun jika lebih dari 80 persen masyarakat rutin melakukan penimbangan di posyandu. Namun, sejauh ini kesadaran tersebut masih minim.

    “Semakin banyak yang menimbang anaknya, angka stunting bisa turun. Namun sayangnya, kesadaran masyarakat masih rendah,” ujar Yusuf.

    Menurut Yusuf, selain perbaikan standar dan dukungan finansial, peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak juga perlu terus dilakukan. Ia berharap masyarakat dapat lebih proaktif mendukung program kesehatan ini.

    “Jangan kita selalu menjadi beban pemerintah, sekali-kali kita bantu pemerintah,” tutup Yusuf.

    DPRD Bontang Muhammad Yusuf Posyandu Stunting
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Sitti

    Related Posts

    Tekan Risiko Stunting, Wawali Samarinda Soroti Pentingnya Edukasi Calon Pengantin

    Juni 8, 2026

    Percepat Penurunan Stunting, Kepala BKKBN Kaltim Dorong Sinkronisasi Data RLTH

    Juni 8, 2026

    DPRD Samarinda Dorong Penguatan Posyandu untuk Capai Target Penurunan Stunting

    April 29, 2026

    Wawali Samarinda Tekankan Peran Posyandu dalam Percepatan Penurunan Stunting

    April 29, 2026

    Cegah Stunting Sejak Dini, DPRD Samarinda Dorong Kolaborasi Lintas Sektor

    Februari 6, 2026

    Inovasi Penanganan Stunting, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Dilibatkan, Data Pasien Divalidasi Mandiri

    Februari 5, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    RTLH Harus Diintervensi Guna Dukung Percepatan Penurunan Stunting

    R’syaJuni 10, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Kepala Perwakilan BKKBN Kalimantan Timur (Kaltim) Sunarto menegaskan perbaikan rumah tidak layak…

    Piala Dunia 2026 Dongkrak Antusiasme Warga, Warkop Siap Jadi Tempat Nobar

    Juni 10, 2026

    Patuh Pada Partai, PAN Klaim Tak Hadiri Sidang Paripurna Hak Angket

    Juni 10, 2026

    Tak Ikut Paripurna Angket, Sarkowi Konsisten Pilih Interpelasi

    Juni 10, 2026

    Peserta Gratispol Boleh Naik Kelas, tapi Perawatan Diusulkan Tak Lagi Ditanggung APBD

    Juni 10, 2026
    1 2 3 … 3,136 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.