Insitekaltim, Samarinda – Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang akan berlangsung mulai Mei hingga Agustus mendatang mulai disiapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda. Pendataan ini akan menjangkau seluruh pelaku usaha, dari skala mikro hingga besar, melalui metode door to door.
Kepala BPS Kota Samarinda Supriyanto menjelaskan, sensus dilakukan secara menyeluruh, bukan sampling. Petugas akan mendatangi langsung masyarakat untuk memastikan aktivitas ekonomi yang ada.
“Ini sensus jadi semua didata. Nanti kita kelompokkan sesuai skala usaha untuk melihat kondisi ekonomi secara utuh,” ujarnya, Rabu 15 April 2026.
Namun, tantangan utama justru bukan pada teknis pendataan, melainkan pada keterbukaan masyarakat. Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda Iswandi menilai, masih ada kekhawatiran warga saat diminta memberikan data, terutama yang berkaitan dengan usaha dan ekonomi.
“Masalahnya nanti di lapangan petugas datang, ngetok rumah, minta data. Apalagi soal usaha, masyarakat sering tidak terbuka karena takut datanya disalahgunakan,” ungkapnya.
Ia menegaskan sensus merupakan program nasional, sehingga keberhasilannya sangat bergantung pada partisipasi masyarakat sebagai objek utama pendataan.
Menurutnya, solusi utama bukan hanya pada kesiapan petugas, tetapi bagaimana membangun kepercayaan melalui sosialisasi yang masif hingga ke tingkat paling bawah.
“Makanya kita dorong sosialisasi dari camat, lurah sampai RT. Ini penting supaya masyarakat paham dan tidak ragu,” jelasnya.
Bahkan DPRD Samarinda siap turun langsung membantu jika proses sosialisasi menemui kendala di lapangan. Seluruh anggota dewan disebut siap dilibatkan sesuai daerah pemilihan masing-masing.
“Kalau memang kesulitan kita bisa turunkan 45 anggota dewan ke dapil masing-masing untuk bantu sosialisasi,” tegasnya.
Iswandi juga mengingatkan pengalaman di lapangan menunjukkan pendataan ekonomi bukan hal mudah. Tanpa pendekatan yang tepat, data yang dihasilkan berpotensi tidak maksimal.
Di sisi lain BPS juga menjalankan program “Kelurahan Cantik” atau Kelurahan Cinta Statistik sebagai upaya memperkuat tata kelola data di tingkat kelurahan. Program ini dinilai menjadi pendukung dalam penyediaan data dasar, meski fokusnya berbeda dengan sensus ekonomi.
Dengan berbagai tantangan tersebut, pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya menjadi agenda pendataan, tetapi juga ujian dalam membangun kepercayaan publik terhadap pengelolaan data oleh pemerintah.

