Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Calon Tunggal, Adipt Maraja Berpeluang Terpilih Aklamasi di Muscab HIPMI Bontang

    Juli 11, 2026

    Meniru Rawa Nusantara, Rahasia Air Ideal untuk Ikan Cupang

    Juli 11, 2026

    10 Jurusan Kuliah yang Paling Disesali di Tahun 2026

    Juli 11, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Kesehatan»Kasus TBC dan HIV di Samarinda Terus Meningkat, Penanganan Kesehatan Masih Jadi Tantangan
    Kesehatan

    Kasus TBC dan HIV di Samarinda Terus Meningkat, Penanganan Kesehatan Masih Jadi Tantangan

    Nur AjijahBy Nur AjijahJuni 6, 2026Updated:Juli 2, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Direktur RSUD IA Moeis, dr Osa Rafshodia (Narasi.co/Ira)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Kasus tuberkulosis (TBC) dan HIV/AIDS di Kota Samarinda menunjukkan tren meningkat. Seiring bertambahnya, jumlah penduduk dan tingginya mobilitas masyarakat.

    Selain persoalan pengobatan yang membutuhkan waktu panjang. Stigma sosial terhadap penderita masih menjadi tantangan besar dalam upaya pengendalian kedua penyakit tersebut.

    Direktur RSUD IA Moeis Samarinda, dr Osa Rafshodia, mengatakan, peningkatan kasus TBC dan HIV hampir terjadi setiap tahun.

    Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari posisi Samarinda. Sebagai kota tujuan dan kota singgah, yang terus mengalami pertumbuhan penduduk.

    “Ya pasti naik. Samarinda ini kan kota singgah. Penduduknya juga terus bertambah setiap tahun,” ujarnya di RSUD IA Moeis Samarinda, Jumat, 5 Juni 2026.

    Osa menjelaskan, salah satu kendala utama dalam penanganan TBC maupun HIV adalah kepatuhan pasien menjalani pengobatan.

    “Khusus TBC, pasien harus menjalani terapi dalam waktu cukup lama hingga dinyatakan sembuh,” ujarnya.

    Karena itu, keberhasilan pengobatan tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan. Tetapi juga dukungan keluarga, lingkungan, serta berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) yang memiliki peran dalam edukasi masyarakat.

    “Kalau TBC, pasien harus rutin berobat dan keluarganya juga perlu diperiksa. Sedangkan pada HIV, yang penting jangan sampai ada hukuman sosial atau stigma dari masyarakat,” katanya.

    Menurut Moeis, upaya penanggulangan kedua penyakit tersebut, tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan lintas sektor, agar edukasi kepada masyarakat berjalan lebih efektif dan pasien tidak menghentikan pengobatan di tengah jalan.

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan Samarinda, sepanjang 2025 tercatat sekitar 4.000 kasus TBC di Kota Tepian. Sementara kasus HIV/AIDS mencapai 492 kasus, terdiri dari 354 kasus pada laki-laki dan 138 kasus pada perempuan.

    Kelompok usia produktif masih mendominasi jumlah kasus HIV, dengan 295 kasus. Selain itu, hingga awal September 2025 tercatat 63 pasien meninggal dunia akibat HIV/AIDS.

    Angka tersebut menambah catatan tingginya beban penyakit HIV di Samarinda. Pada 2024 lalu, hasil skrining terhadap sekitar 47 ribu warga menemukan 527 kasus baru HIV/AIDS dengan angka kematian mencapai lebih dari 100 orang.

    Osa menegaskan, TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan. Apabila pasien menjalani pengobatan secara teratur, hingga tuntas.

    Sementara untuk HIV, pengobatan bertujuan mengendalikan virus sehingga penderita tetap dapat menjalani kehidupan secara produktif.

    “Kalau TBC bisa sembuh. Kalau HIV bisa diatasi dan dikendalikan, tetapi memang berbeda dengan TBC yang bisa dinyatakan sembuh,” pungkasnya.

     

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Nur Ajijah

    Related Posts

    Dinkes Kaltim Perkuat Skrining dan Pengobatan Terhadap Masyarakat yang Terpapar HIV

    Juli 11, 2026

    Efisiensi Anggaran Tak Ganggu Pelayanan Kesehatan, SPM Tetap Sesuai Target

    Juli 10, 2026

    RSUD Abdul Wahab Sjahranie Bedah Fasilitas, Keluarga Pasien Hemodialisa Mulai Nikmati Ber-AC

    Juli 9, 2026

    Tingkatkan Mutu Layanan Kesehatan, RSUD AWS Libatkan Publik Susun Standar Pelayanan

    Juli 8, 2026

    Hadirkan PET CT Scan, Layanan Kedokteran Nuklir RSUD AWS Pertama di Luar Jawa-Bali

    Juli 8, 2026

    Sudah 28 Ribu Peserta, Dinkes Ajak Warga Manfaatkan Layanan Cek Kesehatan Gratis di Samarinda

    Juli 7, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Calon Tunggal, Adipt Maraja Berpeluang Terpilih Aklamasi di Muscab HIPMI Bontang

    R’syaJuli 11, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Adipt Maraja berpeluang terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Cabang…

    Meniru Rawa Nusantara, Rahasia Air Ideal untuk Ikan Cupang

    Juli 11, 2026

    10 Jurusan Kuliah yang Paling Disesali di Tahun 2026

    Juli 11, 2026

    5 Tanda Social Battery Habis, Kenali Bedanya dengan Antisosial

    Juli 11, 2026

    Gerindra Dorong 70 Persen Dana Probebaya Dialihkan untuk Pelatihan Kerja Warga

    Juli 11, 2026
    1 2 3 … 3,207 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.