Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Kasus TBC dan HIV di Samarinda Terus Meningkat, Penanganan Kesehatan Masih Jadi Tantangan

    Juni 6, 2026

    Naik Tipis Dipicu Tarif Angkutan Udara dan BBM, Inflasi Kaltim Mei 2026 Masih Terkendali

    Juni 6, 2026

    Nilai Matematika Nasional Merosot, Novan Soroti Krisis Guru dan Kebijakan Pusat

    Juni 6, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Kesehatan»Kasus TBC dan HIV di Samarinda Terus Meningkat, Penanganan Kesehatan Masih Jadi Tantangan
    Kesehatan

    Kasus TBC dan HIV di Samarinda Terus Meningkat, Penanganan Kesehatan Masih Jadi Tantangan

    Nur AjijahBy Nur AjijahJuni 6, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Direktur RSUD IA Moeis, dr Osa Rafshodia (Narasi.co/Ira)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Kasus tuberkulosis (TBC) dan HIV/AIDS di Kota Samarinda menunjukkan tren meningkat. Seiring bertambahnya, jumlah penduduk dan tingginya mobilitas masyarakat.

    Selain persoalan pengobatan yang membutuhkan waktu panjang. Stigma sosial terhadap penderita masih menjadi tantangan besar dalam upaya pengendalian kedua penyakit tersebut.

    Direktur RSUD IA Moeis Samarinda, dr Osa Rafshodia, mengatakan, peningkatan kasus TBC dan HIV hampir terjadi setiap tahun.

    Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari posisi Samarinda. Sebagai kota tujuan dan kota singgah, yang terus mengalami pertumbuhan penduduk.

    “Ya pasti naik. Samarinda ini kan kota singgah. Penduduknya juga terus bertambah setiap tahun,” ujarnya di RSUD IA Moeis Samarinda, Jumat, 5 Juni 2026.

    Osa menjelaskan, salah satu kendala utama dalam penanganan TBC maupun HIV adalah kepatuhan pasien menjalani pengobatan.

    “Khusus TBC, pasien harus menjalani terapi dalam waktu cukup lama hingga dinyatakan sembuh,” ujarnya.

    Karena itu, keberhasilan pengobatan tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan. Tetapi juga dukungan keluarga, lingkungan, serta berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) yang memiliki peran dalam edukasi masyarakat.

    “Kalau TBC, pasien harus rutin berobat dan keluarganya juga perlu diperiksa. Sedangkan pada HIV, yang penting jangan sampai ada hukuman sosial atau stigma dari masyarakat,” katanya.

    Menurut Moeis, upaya penanggulangan kedua penyakit tersebut, tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan lintas sektor, agar edukasi kepada masyarakat berjalan lebih efektif dan pasien tidak menghentikan pengobatan di tengah jalan.

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan Samarinda, sepanjang 2025 tercatat sekitar 4.000 kasus TBC di Kota Tepian. Sementara kasus HIV/AIDS mencapai 492 kasus, terdiri dari 354 kasus pada laki-laki dan 138 kasus pada perempuan.

    Kelompok usia produktif masih mendominasi jumlah kasus HIV, dengan 295 kasus. Selain itu, hingga awal September 2025 tercatat 63 pasien meninggal dunia akibat HIV/AIDS.

    Angka tersebut menambah catatan tingginya beban penyakit HIV di Samarinda. Pada 2024 lalu, hasil skrining terhadap sekitar 47 ribu warga menemukan 527 kasus baru HIV/AIDS dengan angka kematian mencapai lebih dari 100 orang.

    Osa menegaskan, TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan. Apabila pasien menjalani pengobatan secara teratur, hingga tuntas.

    Sementara untuk HIV, pengobatan bertujuan mengendalikan virus sehingga penderita tetap dapat menjalani kehidupan secara produktif.

    “Kalau TBC bisa sembuh. Kalau HIV bisa diatasi dan dikendalikan, tetapi memang berbeda dengan TBC yang bisa dinyatakan sembuh,” pungkasnya.

     

    dr Osa Rafshodia HIV AIDS RSUD IA Moeis TBC TBC dan HIV/AIDS
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Nur Ajijah

    Related Posts

    Raperda TBC-HIV Perkuat Pencegahan hingga Akar Rumput

    Juni 6, 2026

    Kasus TBC-HIV Meningkat, DPRD Samarinda Desak Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Penanganan

    Juni 6, 2026

    RSUD IA Moeis Tambah Kapasitas Ruang Isolasi TBC dan HIV dari 6 Menjadi 10 Tempat Tidur

    Juni 5, 2026

    Dokter Favorit Berpotensi Tingkatkan Risiko Kelelahan, Dapat Mempengaruhi Kualitas Layanan

    Juni 5, 2026

    Raperda TBC-HIV Segera Rampung, DPRD Samarinda Ingin Pencegahan Lebih Agresif

    Juni 5, 2026

    RSUD Kewalahan Tampung Pasien TBC dan HIV, DPRD Samarinda Minta RS Swasta Jangan Lepas Tangan

    Juni 5, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    Anda harus masuk untuk berkomentar.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Kasus TBC dan HIV di Samarinda Terus Meningkat, Penanganan Kesehatan Masih Jadi Tantangan

    Nur AjijahJuni 6, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Kasus tuberkulosis (TBC) dan HIV/AIDS di Kota Samarinda menunjukkan tren meningkat. Seiring bertambahnya,…

    Naik Tipis Dipicu Tarif Angkutan Udara dan BBM, Inflasi Kaltim Mei 2026 Masih Terkendali

    Juni 6, 2026

    Nilai Matematika Nasional Merosot, Novan Soroti Krisis Guru dan Kebijakan Pusat

    Juni 6, 2026

    Raperda TBC-HIV Perkuat Pencegahan hingga Akar Rumput

    Juni 6, 2026

    Kasus TBC-HIV Meningkat, DPRD Samarinda Desak Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Penanganan

    Juni 6, 2026
    1 2 3 … 3,125 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.