Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Efisiensi Anggaran Jadi Pemicu Pertumbuhan Ekonomi Samarinda Melambat ke 6,22 Persen

    July 27, 2026

    Pemprov Kaltim Pasang CCTV, Untuk Pantau Pencurian MCB dan Kabel di Jembatan Mahulu

    July 27, 2026

    Disdukcapil Kaltim Ingatkan Maraknya Modus Penipuan Berkedok Aktivasi IKD

    July 27, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Kesehatan»Kasus TBC dan HIV di Samarinda Terus Meningkat, Penanganan Kesehatan Masih Jadi Tantangan
    Kesehatan

    Kasus TBC dan HIV di Samarinda Terus Meningkat, Penanganan Kesehatan Masih Jadi Tantangan

    Nur AjijahBy Nur AjijahJune 6, 2026Updated:July 2, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Direktur RSUD IA Moeis, dr Osa Rafshodia (Narasi.co/Ira)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Kasus tuberkulosis (TBC) dan HIV/AIDS di Kota Samarinda menunjukkan tren meningkat. Seiring bertambahnya, jumlah penduduk dan tingginya mobilitas masyarakat.

    Selain persoalan pengobatan yang membutuhkan waktu panjang. Stigma sosial terhadap penderita masih menjadi tantangan besar dalam upaya pengendalian kedua penyakit tersebut.

    Direktur RSUD IA Moeis Samarinda, dr Osa Rafshodia, mengatakan, peningkatan kasus TBC dan HIV hampir terjadi setiap tahun.

    Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari posisi Samarinda. Sebagai kota tujuan dan kota singgah, yang terus mengalami pertumbuhan penduduk.

    “Ya pasti naik. Samarinda ini kan kota singgah. Penduduknya juga terus bertambah setiap tahun,” ujarnya di RSUD IA Moeis Samarinda, Jumat, 5 Juni 2026.

    Osa menjelaskan, salah satu kendala utama dalam penanganan TBC maupun HIV adalah kepatuhan pasien menjalani pengobatan.

    “Khusus TBC, pasien harus menjalani terapi dalam waktu cukup lama hingga dinyatakan sembuh,” ujarnya.

    Karena itu, keberhasilan pengobatan tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan. Tetapi juga dukungan keluarga, lingkungan, serta berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) yang memiliki peran dalam edukasi masyarakat.

    “Kalau TBC, pasien harus rutin berobat dan keluarganya juga perlu diperiksa. Sedangkan pada HIV, yang penting jangan sampai ada hukuman sosial atau stigma dari masyarakat,” katanya.

    Menurut Moeis, upaya penanggulangan kedua penyakit tersebut, tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan lintas sektor, agar edukasi kepada masyarakat berjalan lebih efektif dan pasien tidak menghentikan pengobatan di tengah jalan.

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan Samarinda, sepanjang 2025 tercatat sekitar 4.000 kasus TBC di Kota Tepian. Sementara kasus HIV/AIDS mencapai 492 kasus, terdiri dari 354 kasus pada laki-laki dan 138 kasus pada perempuan.

    Kelompok usia produktif masih mendominasi jumlah kasus HIV, dengan 295 kasus. Selain itu, hingga awal September 2025 tercatat 63 pasien meninggal dunia akibat HIV/AIDS.

    Angka tersebut menambah catatan tingginya beban penyakit HIV di Samarinda. Pada 2024 lalu, hasil skrining terhadap sekitar 47 ribu warga menemukan 527 kasus baru HIV/AIDS dengan angka kematian mencapai lebih dari 100 orang.

    Osa menegaskan, TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan. Apabila pasien menjalani pengobatan secara teratur, hingga tuntas.

    Sementara untuk HIV, pengobatan bertujuan mengendalikan virus sehingga penderita tetap dapat menjalani kehidupan secara produktif.

    “Kalau TBC bisa sembuh. Kalau HIV bisa diatasi dan dikendalikan, tetapi memang berbeda dengan TBC yang bisa dinyatakan sembuh,” pungkasnya.

     

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Nur Ajijah

    Related Posts

    Perdana Ikuti Penilaian Kota Pangan Aman, Dinkes Sebut Jadi Ajang Evaluasi

    July 27, 2026

    Pusat Layanan Gedung Pandurata Jadi Rawat Inap Baru RSUD AWS

    July 26, 2026

    Meski Berat dan Merepotkan, Tumbler Tetap Jadi Andalan Anak Muda Saat Beraktivitas

    July 26, 2026

    Kasus Tertinggalnya Kawat Medis Pada Pasien, Dinkes Dorong Perbaikan Tata Kelola Pelayanan

    July 25, 2026

    Aktif Jalani Pengobatan HIV, Masih 2.211 Orang Penderita di Samarinda

    July 24, 2026

    Setiap Risiko Tindakan Medis Harus Dijelaskan kepada Pasien

    July 23, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Efisiensi Anggaran Jadi Pemicu Pertumbuhan Ekonomi Samarinda Melambat ke 6,22 Persen

    Nur AjijahJuly 27, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda mencatat laju pertumbuhan ekonomi 2025, berada di…

    Pemprov Kaltim Pasang CCTV, Untuk Pantau Pencurian MCB dan Kabel di Jembatan Mahulu

    July 27, 2026

    Disdukcapil Kaltim Ingatkan Maraknya Modus Penipuan Berkedok Aktivasi IKD

    July 27, 2026

    Dua Wakil Indonesia Siap Bersaing di Srikandi Merdeka Cup 2026

    July 27, 2026

    BPBD Kaltim Gandeng Dunia Usaha Percepat Pemulihan Pascabencana

    July 27, 2026
    1 2 3 … 3,242 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.