Insitekaltim, Samarinda – Anggota Komisi IV DPRD Kaltim Syahariah Mas’ud menyoroti tingginya tingkat pengangguran perempuan di Kaltim sepanjang 2025.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi daerah belum sepenuhnya mampu menciptakan lapangan kerja yang inklusif, khususnya bagi perempuan.
Dalam lapoean LKPJ DPRD Kaltim, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Kaltim berada pada angka 5,20 persen. Meski secara umum terlihat stabil, kondisi ketenagakerjaan di lapangan dinilai masih memerlukan perhatian serius.
Pertumbuhan kesempatan kerja sepanjang tahun lalu hanya bertambah sekitar 1.635 orang, sementara jumlah pengangguran justru meningkat 393 orang.
Situasi itu menunjukkan pertumbuhan ekonomi daerah belum mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja baru.
Yang menjadi perhatian khusus adalah tingkat pengangguran perempuan yang mencapai 7,30 persen atau naik 2,17 poin. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan tingkat pengangguran laki-laki di Kaltim.
“Saya sangat setuju kalau perempuan-perempuan itu harus dinomorsatukan, khususnya perempuan-perempuan Kaltim,” ujar Syahariah usai rapat paripurna ke-9 DPRD Kaltim, Senin, 18 Mei 2026.
Tingginya angka pengangguran perempuan harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah melalui kebijakan ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan berpihak pada pemberdayaan perempuan.
Ia berharap perempuan di Kaltim tetap aktif dan mandiri secara ekonomi, meski telah berkeluarga dan memiliki suami yang bekerja.
“Kami sangat berharap agar perempuan-perempuan kita ini jangan menganggur. Walaupun dia punya keluarga, tetap dia bekerja, tetap dia semangat,” katanya.
Perempuan memiliki kemampuan dan kualitas kerja yang tidak kalah dibanding laki-laki. Bahkan, ia mengaku lebih banyak merekrut pekerja perempuan karena dinilai memiliki etos kerja yang baik.
“Perusahaan kami itu ada ribuan yang sudah kami pekerjakan. Lebih banyak perempuan dibanding laki-laki. Karena kami sangat menghargai perempuan,” ungkapnya.
Dukungannya terhadap peningkatan partisipasi perempuan di dunia kerja bukan untuk mendiskreditkan laki-laki, melainkan mendorong perempuan agar lebih mandiri dan memiliki daya saing ekonomi.
“Perempuan tidak kalah bagus kerjanya dibandingkan laki-laki. Saya tidak mengucilkan laki-laki, tetapi saya selaku perempuan dan seorang ibu berharap ibu-ibu Kaltim jangan menganggur tapi bekerja,” tegasnya.
Kemandirian ekonomi perempuan juga penting dalam menjaga stabilitas rumah tangga dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Selagi kuat, walaupun punya suami sehebat apa pun, perempuan harus bekerja. Jangan mengharap suami,” katanya.
Oleh karena itu, Syahariah mendorong pemerintah daerah agar lebih serius membuka lapangan kerja yang ramah dan inklusif bagi perempuan, sekaligus memperkuat kebijakan ketenagakerjaan yang mampu menjawab ketimpangan gender di sektor pekerjaan di Bumi Etam.

