Insitekaltim, Samarinda – Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya di Kalimantan Timur (Kaltim). Hingga pertengahan Juli, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 78 titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
Temuan itu menjadi sinyal meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjelang puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus.
Kutai Timur (Kutim) menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, mencapai 27 titik, disusul Kutai Kartanegara sebanyak 15 titik.
Sementara Berau dan Samboja masuk dalam wilayah yang mendapat perhatian khusus karena terdeteksi memiliki hotspot berkategori high confidence, atau berpotensi kuat berkaitan dengan titik api sehingga perlu segera diverifikasi di lapangan.
Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan Huda Abshor Mukhsinin mengatakan, peningkatan hotspot dipengaruhi kondisi kemarau yang lebih kering dibanding tahun lalu akibat pengaruh El Nino.
“Puncak musim kemarau diprakirakan terjadi pada Agustus. Sementara dampak El Nino masih akan terasa hingga September sampai November,” ujarnya di kutip dari laman resminya, Minggu, 19 Juli 2026.
Meski jumlah hotspot meningkat, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap seluruh titik panas sebagai kebakaran hutan maupun lahan. Hotspot merupakan hasil pemantauan satelit yang menunjukkan adanya anomali suhu permukaan dan masih memerlukan pemeriksaan langsung sebelum dipastikan sebagai titik api.
Namun, kondisi cuaca yang semakin kering membuat potensi kebakaran lebih mudah terjadi apabila muncul sumber api di lapangan. Karena itu, aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar diminta dihentikan selama musim kemarau berlangsung.
Memasuki puncak kemarau, BMKG juga meminta pemerintah daerah memperkuat langkah pencegahan melalui patroli rutin di kawasan rawan kebakaran serta mempercepat penanganan apabila ditemukan titik api.
Di sisi lain, masyarakat diimbau segera melaporkan jika melihat asap atau indikasi kebakaran agar tidak berkembang menjadi karhutla yang lebih luas.

