Insitekaltim, Samarinda – Ponsel menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari bekerja, belajar, mencari hiburan, hingga berkomunikasi, hampir semua aktivitas kini dilakukan melalui perangkat digital.
Di tengah tingginya intensitas penggunaan gawai, muncul istilah digital detox, yakni upaya mengurangi penggunaan media sosial atau perangkat digital dalam kurun waktu tertentu.
Tujuan digital detox bukan untuk meninggalkan teknologi sepenuhnya, melainkan memberi jeda dari paparan informasi yang terus-menerus dan membangun kebiasaan menggunakan media sosial secara lebih seimbang.
Lantas, benarkah cara ini dapat memberikan manfaat bagi kesehatan mental?
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Network Open pada 2025 mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Penelitian yang melibatkan 373 responden berusia 18–24 tahun di Amerika Serikat itu meminta peserta mengurangi penggunaan media sosial selama satu pekan.
Hasilnya menunjukkan peserta mengalami penurunan gejala kecemasan sebesar 16,1 persen, depresi 24,8 persen, serta insomnia 14,5 persen dibandingkan sebelum membatasi penggunaan media sosial.
Namun, peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut masih memiliki keterbatasan karena hanya melibatkan kelompok usia tertentu dan dilakukan dalam waktu yang relatif singkat.
Karena itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui dampak jangka panjang digital detox.
Selain durasi penggunaan media sosial, perhatian para peneliti juga tertuju pada kebiasaan doomscrolling, yaitu aktivitas menggulir berita atau konten negatif secara terus-menerus.
Menurut Harvard Health Publishing, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang terus terpapar informasi yang memicu stres dan kecemasan, serta berpotensi memengaruhi kualitas tidur dan kemampuan berkonsentrasi.
Meski demikian, media sosial tetap memiliki berbagai manfaat apabila digunakan secara bijak. Harvard T.H. Chan School of Public Health menyebutkan, platform digital dapat membantu seseorang membangun relasi, memperoleh informasi, hingga menemukan komunitas yang saling mendukung.
Oleh karena itu, yang menjadi perhatian bukanlah media sosial itu sendiri, melainkan bagaimana seseorang mengatur waktu dan pola penggunaannya.
Menerapkan digital detox tidak harus dilakukan secara ekstrem. Mengurangi durasi penggunaan media sosial secara bertahap, mematikan notifikasi yang tidak diperlukan, atau menyediakan waktu tanpa gawai di sela aktivitas harian dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.
Pada akhirnya, digital detox bukanlah solusi tunggal untuk menjaga kesehatan mental. Namun, berdasarkan temuan sejumlah penelitian, membatasi penggunaan media sosial dapat menjadi salah satu cara yang membantu sebagian orang mengurangi dampak negatif dari penggunaan media sosial yang berlebihan, selama dilakukan secara konsisten dan disertai pola hidup yang sehat.

