Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Bukan Kekurangan Anggaran, Ini Alasan Insentif Guru Samarinda Terlambat Dibayar

    September 9, 2026

    Hadapi Eskalasi Karhutla, Pemkot Siagakan Damkar dengan Response Time 10 Menit

    September 9, 2026

    Usai Pemadaman Karhutla, Kualitas Udara dan ISPU PM2.5 Turun ke Kategori Sedang

    September 9, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Digital Detox, Benarkah Baik untuk Kesehatan Mental?
    Lifestyle

    Digital Detox, Benarkah Baik untuk Kesehatan Mental?

    R’syaBy R’syaJuli 19, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Meluangkan waktu menikmati suasana tanpa gawai menjadi salah satu bentuk sederhana digital detox untuk mengurangi paparan aktivitas digital (Insitekaltim/R’sya)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Ponsel menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari bekerja, belajar, mencari hiburan, hingga berkomunikasi, hampir semua aktivitas kini dilakukan melalui perangkat digital.

    Di tengah tingginya intensitas penggunaan gawai, muncul istilah digital detox, yakni upaya mengurangi penggunaan media sosial atau perangkat digital dalam kurun waktu tertentu.

    Tujuan digital detox bukan untuk meninggalkan teknologi sepenuhnya, melainkan memberi jeda dari paparan informasi yang terus-menerus dan membangun kebiasaan menggunakan media sosial secara lebih seimbang.

    Lantas, benarkah cara ini dapat memberikan manfaat bagi kesehatan mental?

    Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Network Open pada 2025 mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Penelitian yang melibatkan 373 responden berusia 18–24 tahun di Amerika Serikat itu meminta peserta mengurangi penggunaan media sosial selama satu pekan.

    Hasilnya menunjukkan peserta mengalami penurunan gejala kecemasan sebesar 16,1 persen, depresi 24,8 persen, serta insomnia 14,5 persen dibandingkan sebelum membatasi penggunaan media sosial.

    Namun, peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut masih memiliki keterbatasan karena hanya melibatkan kelompok usia tertentu dan dilakukan dalam waktu yang relatif singkat.

    Karena itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui dampak jangka panjang digital detox.

    Selain durasi penggunaan media sosial, perhatian para peneliti juga tertuju pada kebiasaan doomscrolling, yaitu aktivitas menggulir berita atau konten negatif secara terus-menerus.

    Menurut Harvard Health Publishing, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang terus terpapar informasi yang memicu stres dan kecemasan, serta berpotensi memengaruhi kualitas tidur dan kemampuan berkonsentrasi.

    Meski demikian, media sosial tetap memiliki berbagai manfaat apabila digunakan secara bijak. Harvard T.H. Chan School of Public Health menyebutkan, platform digital dapat membantu seseorang membangun relasi, memperoleh informasi, hingga menemukan komunitas yang saling mendukung.

    Oleh karena itu, yang menjadi perhatian bukanlah media sosial itu sendiri, melainkan bagaimana seseorang mengatur waktu dan pola penggunaannya.

    Menerapkan digital detox tidak harus dilakukan secara ekstrem. Mengurangi durasi penggunaan media sosial secara bertahap, mematikan notifikasi yang tidak diperlukan, atau menyediakan waktu tanpa gawai di sela aktivitas harian dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.

    Pada akhirnya, digital detox bukanlah solusi tunggal untuk menjaga kesehatan mental. Namun, berdasarkan temuan sejumlah penelitian, membatasi penggunaan media sosial dapat menjadi salah satu cara yang membantu sebagian orang mengurangi dampak negatif dari penggunaan media sosial yang berlebihan, selama dilakukan secara konsisten dan disertai pola hidup yang sehat.

     

    Digital Detox Gadget lifestyle Media sosial
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    R’sya

    Related Posts

    TPP ASN Belum Cair, Dinkes Kaltim Minta Rumah Sakit Koordinasi dengan Bank

    September 9, 2026

    TPP Belum Dibayar, Ratusan Pegawai RSUD AWS Teken Petisi Tuntut Pencairan

    September 8, 2026

    Kemenkes Perkuat Pemulihan Mental Warga NTT Pascagempa, 160 Nakes Dikirim

    September 8, 2026

    Pola Makan Keluarga Jadi Penentu Tumbuh Kembang dan Prestasi Anak

    September 8, 2026

    Udara Pascakarhutla Mulai Membaik, Dinkes Kaltim Sebut ISPA Belum Signifikan

    September 7, 2026

    PWI Kaltim Dorong Gaya Hidup Sehat Wartawan Lewat Porwada

    September 7, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Bukan Kekurangan Anggaran, Ini Alasan Insentif Guru Samarinda Terlambat Dibayar

    R’syaSeptember 9, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Wali Kota Samarinda Andi Harun memastikan insentif guru triwulan II yang belum…

    Hadapi Eskalasi Karhutla, Pemkot Siagakan Damkar dengan Response Time 10 Menit

    September 9, 2026

    Usai Pemadaman Karhutla, Kualitas Udara dan ISPU PM2.5 Turun ke Kategori Sedang

    September 9, 2026

    MTQN Jadi Ajang Penguatan Pendidikan Al-Qur’an, Kaltim Siap Tampilkan Generasi Berprestasi dan Berakhlak

    September 9, 2026

    Pemkot Samarinda Perketat Pengawasan Pematangan Lahan hingga Tingkat RT

    September 9, 2026
    1 2 3 … 3,330 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.