Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    38 Hektare Lahan Terbakar, Disbun Kaltim Mulai Waspadai Api Merembet ke Perkebunan

    Oktober 20, 2026

    Golkar Samarinda Bidik Kursi Ketua DPRD pada Pemilu 2029

    Oktober 20, 2026

    Andi Harun: Pemusnahan Barang Bukti Jadi Bukti Kepastian Hukum

    Oktober 20, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Digital Detox, Benarkah Baik untuk Kesehatan Mental?
    Lifestyle

    Digital Detox, Benarkah Baik untuk Kesehatan Mental?

    R’syaBy R’syaJuli 19, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Meluangkan waktu menikmati suasana tanpa gawai menjadi salah satu bentuk sederhana digital detox untuk mengurangi paparan aktivitas digital (Insitekaltim/R’sya)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Ponsel menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari bekerja, belajar, mencari hiburan, hingga berkomunikasi, hampir semua aktivitas kini dilakukan melalui perangkat digital.

    Di tengah tingginya intensitas penggunaan gawai, muncul istilah digital detox, yakni upaya mengurangi penggunaan media sosial atau perangkat digital dalam kurun waktu tertentu.

    Tujuan digital detox bukan untuk meninggalkan teknologi sepenuhnya, melainkan memberi jeda dari paparan informasi yang terus-menerus dan membangun kebiasaan menggunakan media sosial secara lebih seimbang.

    Lantas, benarkah cara ini dapat memberikan manfaat bagi kesehatan mental?

    Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Network Open pada 2025 mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Penelitian yang melibatkan 373 responden berusia 18–24 tahun di Amerika Serikat itu meminta peserta mengurangi penggunaan media sosial selama satu pekan.

    Hasilnya menunjukkan peserta mengalami penurunan gejala kecemasan sebesar 16,1 persen, depresi 24,8 persen, serta insomnia 14,5 persen dibandingkan sebelum membatasi penggunaan media sosial.

    Namun, peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut masih memiliki keterbatasan karena hanya melibatkan kelompok usia tertentu dan dilakukan dalam waktu yang relatif singkat.

    Karena itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui dampak jangka panjang digital detox.

    Selain durasi penggunaan media sosial, perhatian para peneliti juga tertuju pada kebiasaan doomscrolling, yaitu aktivitas menggulir berita atau konten negatif secara terus-menerus.

    Menurut Harvard Health Publishing, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang terus terpapar informasi yang memicu stres dan kecemasan, serta berpotensi memengaruhi kualitas tidur dan kemampuan berkonsentrasi.

    Meski demikian, media sosial tetap memiliki berbagai manfaat apabila digunakan secara bijak. Harvard T.H. Chan School of Public Health menyebutkan, platform digital dapat membantu seseorang membangun relasi, memperoleh informasi, hingga menemukan komunitas yang saling mendukung.

    Oleh karena itu, yang menjadi perhatian bukanlah media sosial itu sendiri, melainkan bagaimana seseorang mengatur waktu dan pola penggunaannya.

    Menerapkan digital detox tidak harus dilakukan secara ekstrem. Mengurangi durasi penggunaan media sosial secara bertahap, mematikan notifikasi yang tidak diperlukan, atau menyediakan waktu tanpa gawai di sela aktivitas harian dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.

    Pada akhirnya, digital detox bukanlah solusi tunggal untuk menjaga kesehatan mental. Namun, berdasarkan temuan sejumlah penelitian, membatasi penggunaan media sosial dapat menjadi salah satu cara yang membantu sebagian orang mengurangi dampak negatif dari penggunaan media sosial yang berlebihan, selama dilakukan secara konsisten dan disertai pola hidup yang sehat.

     

    Digital Detox Gadget lifestyle Media sosial
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    R’sya

    Related Posts

    Kenali 3 Tanaman Indoor yang Berpotensi Menyerap Polutan di Dalam Rumah

    Oktober 18, 2026

    Dinkes Bantah Kematian Balita di Samarinda akibat Karhutla, Dokter Belum Bisa Memastikan

    Oktober 18, 2026

    Kabut Asap Karhutla Ancam Kesehatan, Kasus ISPA di Kaltim Tembus 13 Ribu

    Oktober 16, 2026

    Kasus ISPA Samarinda Tembus 36 Ribu

    Oktober 15, 2026

    Sering Minum Setelah Makan Malam? Perhatikan Dampaknya bagi Ginjal dan Tidur

    Oktober 4, 2026

    Kuliner Tradisional Kaltim Didorong Jadi Daya Tarik Wisata, dari Nasi Bekepor hingga Sambal Raja

    September 30, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    38 Hektare Lahan Terbakar, Disbun Kaltim Mulai Waspadai Api Merembet ke Perkebunan

    AminahOktober 20, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) masih perlu…

    Golkar Samarinda Bidik Kursi Ketua DPRD pada Pemilu 2029

    Oktober 20, 2026

    Andi Harun: Pemusnahan Barang Bukti Jadi Bukti Kepastian Hukum

    Oktober 20, 2026

    Sri Puji Nilai PJJ akibat Karhutla Belum Efektif bagi Semua Siswa

    Oktober 20, 2026

    Borneo FC Menang di AFC Challenge League, Pemkot Samarinda Dorong Kemajuan Sepak Bola Daerah

    Oktober 20, 2026
    1 2 3 … 3,395 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.