Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Belum Meratanya Nomenklatur di Daerah, Jadi Kendala Perkembangan Ekonomi Kreatif

    Juli 18, 2026

    KONI Samarinda Matangkan Kesiapan 64 Cabang Olahraga, Hadapi Porprov 2026

    Juli 18, 2026

    Hak Angket DPRD Kaltim Mandek, Pengamat: Diduga Sengaja Diulur hingga Publik Lelah

    Juli 18, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Kesehatan»Intensitas Skrining HIV Mampu Jaring Penderita Risiko Tinggi
    Kesehatan

    Intensitas Skrining HIV Mampu Jaring Penderita Risiko Tinggi

    Nur AjijahBy Nur AjijahJuli 18, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Kepala Dinkes Samarinda, Ismid Kusasih (Insitekaltim/Nur)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Peningkatan jumlah temuan kasus baru HIV, bukan berarti penularan semakin meluas. Tapi bertambahnya kasus, justru menunjukkan kegiatan skrining berjalan lebih optimal.

    “Sehingga lebih banyak penderita, yang berhasil ditemukan untuk segera mendapatkan pengobatan”, tegas Kepala Dinkes Samarinda Ismid Kusasih, Jumat, 17 Juli 2026.

    Ia menjelaskan, indikator keberhasilan program penanggulangan HIV tidak hanya diukur dari sedikitnya kasus yang ditemukan, tetapi juga dari luasnya cakupan skrining terhadap kelompok yang berisiko.

    “Jangan dipikir kalau suatu daerah kasusnya sedikit berarti bagus. Bisa saja karena skriningnya tidak dilakukan. Kalau tidak diperiksa, tentu kasusnya tidak akan ditemukan,” ujarnya.

    Menurut Ismid, Kementerian Kesehatan menjadikan cakupan skrining sebagai salah satu indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.

    Semakin banyak kelompok berisiko yang menjalani pemeriksaan, semakin besar peluang menemukan penderita HIV lebih dini sehingga dapat segera memperoleh terapi antiretroviral (ARV).

    Ia menegaskan, HIV merupakan penyakit menular yang penanganannya tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Diperlukan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, organisasi masyarakat hingga komunitas.

    “Seperti Covid-19 dulu, penanganannya tidak hanya urusan tenaga kesehatan. HIV juga begitu, harus menjadi perhatian bersama karena berkaitan dengan edukasi dan perubahan perilaku,” katanya.

    Menurut Ismid, fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan setiap penderita HIV yang telah ditemukan dapat segera menjalani pengobatan secara rutin. Dengan terapi yang teratur, jumlah virus di dalam tubuh dapat ditekan sehingga kualitas hidup penderita tetap terjaga dan risiko penularan dapat diminimalkan.

    Berdasarkan hasil pemantauan Dinkes Samarinda, kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) masih menjadi kelompok dengan jumlah temuan kasus HIV tertinggi di Kota Tepian.

    “Dari dulu memang kelompok LSL yang paling banyak ditemukan. Kasus-kasus baru yang kami temukan juga mayoritas berasal dari kelompok tersebut,” ungkapnya.

    Karena itu, Dinkes terus menggencarkan skrining kepada kelompok berisiko melalui kerja sama dengan sejumlah organisasi yang memiliki perhatian terhadap penanggulangan HIV di Samarinda.

    Selain meningkatkan pemeriksaan, pemerintah juga terus memperkuat edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV). Menurut Ismid, penanganan HIV membutuhkan dukungan sosial agar penderita tidak takut memeriksakan diri maupun menjalani pengobatan.

    Ia berharap semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya deteksi dini sehingga penanganan HIV di Samarinda dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan mampu menekan angka penularan di masa mendatang.

     

    Dinkes Samarinda HIV Ismid Kusasih Skrining TBC dan HIV/AIDS
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Nur Ajijah

    Related Posts

    Pelayanan Kesehatan Tak Boleh Terhenti, Pemkot Samarinda Cari Solusi Atasi Hambatan Anggaran

    Juli 17, 2026

    Kadinkes Samarinda Ajak Masyarakat Hapus Stigma Negatif terhadap ODHIV

    Juli 17, 2026

    Perkuat Deteksi Dini, Dinkes Samarinda Catat Hingga Mei 2026, Sudah 29 Kematian Akibat AIDS

    Juli 16, 2026

    Dinkes Kota Samarinda Genjot Skrining HIV, Baru Capai 45 Persen, Dari Target 43.189 Sasaran

    Juli 15, 2026

    Lampaui Target Nasional, Stunting di Samarinda Turun Jadi 17,13 Persen

    Juli 14, 2026

    Program MBG Belum Bisa Jadi Tolok Ukur Penurunan Stunting di Samarinda

    Juli 13, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    Anda harus masuk untuk berkomentar.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Belum Meratanya Nomenklatur di Daerah, Jadi Kendala Perkembangan Ekonomi Kreatif

    Nur AjijahJuli 18, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kalimantan Timur (Kaltim) Awang Khaliq mengatakan,…

    KONI Samarinda Matangkan Kesiapan 64 Cabang Olahraga, Hadapi Porprov 2026

    Juli 18, 2026

    Hak Angket DPRD Kaltim Mandek, Pengamat: Diduga Sengaja Diulur hingga Publik Lelah

    Juli 18, 2026

    Efek Permintaan MBG Mulai Terasa, Harga Telur Ayam Ras Mulai Naik

    Juli 18, 2026

    Intensitas Skrining HIV Mampu Jaring Penderita Risiko Tinggi

    Juli 18, 2026
    1 2 3 … 3,223 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.