Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Dana Global Fund Terancam Berubah, Penanganan HIV Kaltim Dibayangi Masalah Anggaran

    September 16, 2026

    Karhutla Belum Reda, Sekolah di Kubar dan Mahulu Masih Perpanjang Belajar dari Rumah

    September 16, 2026

    Di Tengah Upaya Perluas Deteksi HIV, Fasilitas Lab Kaltim Belum Terpakai

    September 16, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Kesehatan»Intensitas Skrining HIV Mampu Jaring Penderita Risiko Tinggi
    Kesehatan

    Intensitas Skrining HIV Mampu Jaring Penderita Risiko Tinggi

    IraBy IraJuli 18, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Kepala Dinkes Samarinda, Ismid Kusasih (Insitekaltim/Nur)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Peningkatan jumlah temuan kasus baru HIV, bukan berarti penularan semakin meluas. Tapi bertambahnya kasus, justru menunjukkan kegiatan skrining berjalan lebih optimal.

    “Sehingga lebih banyak penderita, yang berhasil ditemukan untuk segera mendapatkan pengobatan”, tegas Kepala Dinkes Samarinda Ismid Kusasih, Jumat, 17 Juli 2026.

    Ia menjelaskan, indikator keberhasilan program penanggulangan HIV tidak hanya diukur dari sedikitnya kasus yang ditemukan, tetapi juga dari luasnya cakupan skrining terhadap kelompok yang berisiko.

    “Jangan dipikir kalau suatu daerah kasusnya sedikit berarti bagus. Bisa saja karena skriningnya tidak dilakukan. Kalau tidak diperiksa, tentu kasusnya tidak akan ditemukan,” ujarnya.

    Menurut Ismid, Kementerian Kesehatan menjadikan cakupan skrining sebagai salah satu indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.

    Semakin banyak kelompok berisiko yang menjalani pemeriksaan, semakin besar peluang menemukan penderita HIV lebih dini sehingga dapat segera memperoleh terapi antiretroviral (ARV).

    Ia menegaskan, HIV merupakan penyakit menular yang penanganannya tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Diperlukan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, organisasi masyarakat hingga komunitas.

    “Seperti Covid-19 dulu, penanganannya tidak hanya urusan tenaga kesehatan. HIV juga begitu, harus menjadi perhatian bersama karena berkaitan dengan edukasi dan perubahan perilaku,” katanya.

    Menurut Ismid, fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan setiap penderita HIV yang telah ditemukan dapat segera menjalani pengobatan secara rutin. Dengan terapi yang teratur, jumlah virus di dalam tubuh dapat ditekan sehingga kualitas hidup penderita tetap terjaga dan risiko penularan dapat diminimalkan.

    Berdasarkan hasil pemantauan Dinkes Samarinda, kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) masih menjadi kelompok dengan jumlah temuan kasus HIV tertinggi di Kota Tepian.

    “Dari dulu memang kelompok LSL yang paling banyak ditemukan. Kasus-kasus baru yang kami temukan juga mayoritas berasal dari kelompok tersebut,” ungkapnya.

    Karena itu, Dinkes terus menggencarkan skrining kepada kelompok berisiko melalui kerja sama dengan sejumlah organisasi yang memiliki perhatian terhadap penanggulangan HIV di Samarinda.

    Selain meningkatkan pemeriksaan, pemerintah juga terus memperkuat edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV). Menurut Ismid, penanganan HIV membutuhkan dukungan sosial agar penderita tidak takut memeriksakan diri maupun menjalani pengobatan.

    Ia berharap semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya deteksi dini sehingga penanganan HIV di Samarinda dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan mampu menekan angka penularan di masa mendatang.

     

    Dinkes Samarinda HIV Ismid Kusasih Skrining TBC dan HIV/AIDS
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Ira

    Related Posts

    Dana Global Fund Terancam Berubah, Penanganan HIV Kaltim Dibayangi Masalah Anggaran

    September 16, 2026

    Di Tengah Upaya Perluas Deteksi HIV, Fasilitas Lab Kaltim Belum Terpakai

    September 16, 2026

    Air Minum Jadi Titik Rawan Penyakit Saat Kemarau

    September 15, 2026

    20 Ribu Anak Kaltim Berisiko Zero Dose, Pemerintah Punya Waktu Sebulan untuk Mengejar

    September 14, 2026

    Ubah Gaya Hidup Sebelum Terlambat, Esensi Pencegahan Kerusakan Tulang Belakang

    September 12, 2026

    Kemenkes Pastikan BIAS Tetap Jalan, Kasus KIPI di Karo Dinilai Tak Berkaitan dengan Vaksin HPV

    September 11, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Dana Global Fund Terancam Berubah, Penanganan HIV Kaltim Dibayangi Masalah Anggaran

    AminahSeptember 16, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) mulai mendorong pemerintah daerah menyiapkan pembiayaan penanggulangan HIV/AIDS…

    Karhutla Belum Reda, Sekolah di Kubar dan Mahulu Masih Perpanjang Belajar dari Rumah

    September 16, 2026

    Di Tengah Upaya Perluas Deteksi HIV, Fasilitas Lab Kaltim Belum Terpakai

    September 16, 2026

    59 Atlet dari Lima Daerah Ikuti Selekda Padel Kaltim Menuju Kejurnas 2026

    September 16, 2026

    Krisis Air Paksa Siswa SMA Sekolah Rakyat Samarinda Tak Lagi Tinggal di Asrama

    September 16, 2026
    1 2 3 … 3,345 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.