Insitekaltim, Samarinda – Krisis air bersih mulai mengganggu operasional Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 02 Samarinda di Palaran. Keterbatasan pasokan membuat siswa jenjang SMA untuk sementara tidak lagi tinggal di asrama.
Keputusan itu diambil ketika kebutuhan air untuk ratusan siswa tidak sebanding dengan pasokan yang tersedia. Kondisi semakin sulit setelah air asin masuk hingga ke intake dan membuat produksi air harus dihentikan ketika kadar garam melewati ambang batas.
Kepala Dinas Sosial Kalimantan Timur (Kaltim) Andi Muhammad Ishak mengatakan, gangguan tersebut bukan hanya berkaitan dengan berkurangnya debit air, tetapi juga intrusi air laut yang memengaruhi sumber air di kawasan sekolah.
“Air asin masuk sampai ke intake di sana. Itu juga menjadi salah satu sumber sehingga pada saat kadar garam di atas ambang batas, mau enggak mau harus di-stop produksinya,” kata Ishak di DPRD Kaltim, Selasa, 15 September 2026.
Dalam kondisi tersebut, suplai air menggunakan tangki sempat dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan sekolah. Namun, kapasitas tangki dinilai tidak cukup untuk menjadi solusi jangka panjang bagi kebutuhan air siswa yang tinggal di asrama.
“Waktu yang sementara di SMA 16 kan sempat juga kesulitan air karena debit airnya kurang. Sehingga kami bantu melalui suplai tangki. Nah, hanya kan ya tangki kapasitasnya tahu sendiri,” ungkapnya.
Sekolah kemudian mengambil jalan tengah dengan tidak mengasramakan siswa SMA. Sebagian besar siswa berasal dari Samarinda sehingga mereka masih memungkinkan untuk datang ke sekolah tanpa harus tinggal di asrama.
Masalahnya, kebutuhan air tidak berhenti pada persoalan tempat tinggal. Sebelumnya, pengelola SRT 02 Samarinda menyebut sekitar 520 siswa dari jenjang SD hingga SMA membutuhkan sekitar 30.000 liter air setiap hari untuk mandi, mencuci, sanitasi, kebersihan diri, dan lingkungan.
Setiap jenjang membutuhkan sedikitnya 10.000 liter air per hari. Dalam kondisi pasokan terganggu, suplai 5.000 liter bahkan belum mencukupi kebutuhan satu jenjang selama sehari.
Krisis tersebut membuat pengelola harus membatasi penggunaan air dan memprioritaskan kebutuhan dasar siswa. Penampungan utama sekolah memiliki kapasitas sekitar 27.000 liter, sementara kebutuhan normal seluruh jenjang mencapai sekitar 30.000 liter per hari.
Tidak tinggal di asrama juga memunculkan persoalan lain: bagaimana kegiatan belajar siswa SMA selama kondisi air belum normal.
Kegiatan belajar tetap harus berjalan. Namun, ia belum mengetahui mekanisme yang diterapkan sekolah setelah siswa tidak lagi diasramakan.
“Saya belum tahu persis mekanisme yang diambil, apakah mereka tetap hanya tidak bermalam di asrama untuk tetap belajar secara biasa atau secara hibrid. Saya belum update sampai ke sana,” katanya.
Menurut Ishak, koordinasi terkait Sekolah Rakyat Palaran lebih banyak dilakukan Pemerintah Kota Samarinda karena sekolah tersebut berada di bawah usulan pemerintah kota.
Sementara itu, pemerintah berharap perubahan cuaca dan meningkatnya curah hujan dapat mengurangi intrusi air laut. Dengan begitu, air asin tidak kembali masuk ke intake dan pasokan air dapat diproduksi secara normal.
“Tapi kalau seandainya cuaca lebih baik, banyak hujan, mudah-mudahan intrusi air laut juga bisa tidak sampai ke intake. Kita harapkan suplai air bisa lebih lancar,” pungkasnya.

