Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Pengamanan Besar-besaran di Samarinda, 2.263 Aparat Kawal Aksi Unjuk Rasa

    April 20, 2026

    4.500 Massa Diperkirakan Turun, Kesbangpol Samarinda Pastikan Kota Tetap Kondusif

    April 20, 2026

    DPRD Samarinda Dukung Pengolahan Sampah Jadi Energi, Soroti Lokasi dan Dampak Lingkungan

    April 20, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Tokoh
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    insitekaltim.com
    Home»Daerah»Diusia Senja, Asmadi Tinggal Digubuk Kecil Dekat SKM Tanpa Ada Penerangan
    Daerah

    Diusia Senja, Asmadi Tinggal Digubuk Kecil Dekat SKM Tanpa Ada Penerangan

    AdminBy AdminFebruari 14, 202003 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Reporter: Nada – Editor: Redaksi
    Insitekaltim, Samarinda – Sejak tahun 90-an, Asmadi (72) sudah tinggal di bantaran Sungai Karang Mumus (SKM) tepatnya di Jalan Abdul Muthalib, Kelurahan Sungai Pinang Luar, Kecamatan Samarinda Kota.
    Beralaskan kasur tipis dengan dinding kayu yang bercelah, Asmadi menghabiskan waktu istirahatnya terlelap di sebuah gubuk sederhana yang dibangun dari material seadanya. Ukurannya pun tak seberapa, 3×2 meter.

    “Dindingnya saya tambal material seng yang tidak dipakai atau dikasih sama orang,” ungkap Asmadi saat disambangi oleh wartawan, Kamis (13/2/2020).
    Di gubuk tersebut, dirinya tidur dengan suasana gelap tanpa penerangan atau terkadang ia menyalakan lampu teplok untuk menerangi kamar tidurnya.
    Dalam gubuk Asmadi, terlihat ada beberapa pakaian bergantung dan peralatan memasak seadanya yang tergeletak tak beraturan.

    “Untuk mandi, saya masih bergantung pada sungai,” katanya lirih.
    Pria parubaya tersebut bekerja menjadi kuli pikul air di Pasar Sungai Dama dan Pasar Pesut. Penghasilannya pun tak seberapa, mulai dari 5.000 rupiah hingga 20.000 rupiah.
    Asmadi bercerita, dirinya memiliki keluarga yang tinggal di Samarinda. Namun alasan personal ia memilih ‘mengasingkan’ diri di gubuk kecilnya.
    “Saya anak ke-3 dari 6 bersaudara. Saya pernah bantu-bantu saudara, tapi tidak ada upah yang saya terima. Cuman makan untuk hari-hari saja yand diberi,” tambahnya.
    Dirinya pun mengulas riwayat hidupnya, yaitu sekitar tahun 70-an ia pernah membina rumah tangga dan dikaruniai 2 orang anak.
    “Tapi saya tinggal karena tidak mau ikut dengan saya untuk tinggal di Samarinda. Mereka tinggal di Berau,” lanjutnya.
    Terlihat sendirian dan berusia cukup tua membuat beberapa pihak kasihan dengan Asmadi. Salah satunya ialah pedagang gorengan Fatimah (52).

    Fatimah mengaku iba melihat Asmadi hidup sendiri, bekerja sebagai kuli ditengah umur senja yang seharusnya hanya istirahat di rumah.
    “Kaik Asmadi ini selalu datang ke warung pagi-pagi pakai sepeda. Dia (Asmadi) kalau makan di sini, nanti bantu-bantu saya angkat air. Kadang saya kasih uang juga,” tutur Fatimah.
    Fatimah menyampaikan bahwa Asmadi sering menawarkan jasanya kepada pedagang untuk bantu-bantu. Dari hasil pikul dagangan, cukup buat Asmadi menyambung hidup hari-hari.
    “Kaik bilang katanya ada yang kasih 50.000 rupiah atau 20.000 rupiah. Uangnya disimpan, buat beli beras dan lauk,” terangnya.
    Fatimah berinisiatif untuk mengunggah kondisi Asmadi ke media sosial Facebook hingga akhirnya Dinas Sosial (Dinsos) Kota Samarinda pun membawa Asmadi ke panti jompo. Namun, Asmadi memilih pulang karena kepikiran soal gubuknya.
    Dengan alasan ingin mencuci pakaiannya di gubuk, Fatimah menjemput Asmadi dari panti jompo kembali ke gubuknya.
    “Yah itu keputusannya kaik, dia mau di sini (gubuknya) atau di panti jompo, tapi lebih baik jika ada keluarga dia yang mau merawat,” pungkasnya.

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Admin

    Related Posts

    Cetak Tenaga Kerja Siap Pakai, Menaker Genjot Pelatihan Vokasi Nasional 2026

    April 20, 2026

    Air Jadi Tambang Baru, Gubernur Rudy Mas’ud Genjot Pajak Permukaan di Kaltim

    Maret 28, 2026

    Kaltim Bidik Kelapa Genjah sebagai Primadona Baru di Era IKN

    Maret 27, 2026

    Prabowo Terima Kritik, Dorong Peran Devil’s Advocate untuk Uji Kebijakan

    Maret 20, 2026

    Prabowo Soroti Budaya Laporan Asal Bapak Senang, Tekankan Pentingnya Kejujuran Data

    Maret 20, 2026

    Hilal Tak Terpantau di 170 Titik, Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1447 H di Hari Sabtu

    Maret 19, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Pengamanan Besar-besaran di Samarinda, 2.263 Aparat Kawal Aksi Unjuk Rasa

    Andika SaputraApril 20, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Aparat gabungan dari TNI dan Polri menyiapkan pengamanan skala besar menjelang rencana…

    4.500 Massa Diperkirakan Turun, Kesbangpol Samarinda Pastikan Kota Tetap Kondusif

    April 20, 2026

    DPRD Samarinda Dukung Pengolahan Sampah Jadi Energi, Soroti Lokasi dan Dampak Lingkungan

    April 20, 2026

    Andi Harun Tegaskan Polemik Mobil Dinas Sewa Ditangani Terbuka, Siap Diawasi KPK

    April 20, 2026

    Kenaikan BBM Non-Subsidi Picu Efek Berantai, DPRD Samarinda Soroti Dampak ke Harga Kebutuhan

    April 20, 2026
    1 2 3 … 3,064 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.