Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Sekda Samarinda Ikuti Forum Nasional Pembangunan Hukum 2026, Perkuat Harmonisasi Regulasi Daerah

    Oktober 15, 2026

    Rinda Wahyuni Apresiasi Inovasi DP2KB Samarinda, Program Kesehatan Tetap Berjalan Tanpa Anggaran

    Oktober 15, 2026

    Sekda Samarinda Tekankan Integritas di Bangku Sekolah

    Oktober 15, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Daerah»Diusia Senja, Asmadi Tinggal Digubuk Kecil Dekat SKM Tanpa Ada Penerangan
    Daerah

    Diusia Senja, Asmadi Tinggal Digubuk Kecil Dekat SKM Tanpa Ada Penerangan

    AdminBy AdminFebruari 14, 202003 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Reporter: Nada – Editor: Redaksi
    Insitekaltim, Samarinda – Sejak tahun 90-an, Asmadi (72) sudah tinggal di bantaran Sungai Karang Mumus (SKM) tepatnya di Jalan Abdul Muthalib, Kelurahan Sungai Pinang Luar, Kecamatan Samarinda Kota.
    Beralaskan kasur tipis dengan dinding kayu yang bercelah, Asmadi menghabiskan waktu istirahatnya terlelap di sebuah gubuk sederhana yang dibangun dari material seadanya. Ukurannya pun tak seberapa, 3×2 meter.

    “Dindingnya saya tambal material seng yang tidak dipakai atau dikasih sama orang,” ungkap Asmadi saat disambangi oleh wartawan, Kamis (13/2/2020).
    Di gubuk tersebut, dirinya tidur dengan suasana gelap tanpa penerangan atau terkadang ia menyalakan lampu teplok untuk menerangi kamar tidurnya.
    Dalam gubuk Asmadi, terlihat ada beberapa pakaian bergantung dan peralatan memasak seadanya yang tergeletak tak beraturan.

    “Untuk mandi, saya masih bergantung pada sungai,” katanya lirih.
    Pria parubaya tersebut bekerja menjadi kuli pikul air di Pasar Sungai Dama dan Pasar Pesut. Penghasilannya pun tak seberapa, mulai dari 5.000 rupiah hingga 20.000 rupiah.
    Asmadi bercerita, dirinya memiliki keluarga yang tinggal di Samarinda. Namun alasan personal ia memilih ‘mengasingkan’ diri di gubuk kecilnya.
    “Saya anak ke-3 dari 6 bersaudara. Saya pernah bantu-bantu saudara, tapi tidak ada upah yang saya terima. Cuman makan untuk hari-hari saja yand diberi,” tambahnya.
    Dirinya pun mengulas riwayat hidupnya, yaitu sekitar tahun 70-an ia pernah membina rumah tangga dan dikaruniai 2 orang anak.
    “Tapi saya tinggal karena tidak mau ikut dengan saya untuk tinggal di Samarinda. Mereka tinggal di Berau,” lanjutnya.
    Terlihat sendirian dan berusia cukup tua membuat beberapa pihak kasihan dengan Asmadi. Salah satunya ialah pedagang gorengan Fatimah (52).

    Fatimah mengaku iba melihat Asmadi hidup sendiri, bekerja sebagai kuli ditengah umur senja yang seharusnya hanya istirahat di rumah.
    “Kaik Asmadi ini selalu datang ke warung pagi-pagi pakai sepeda. Dia (Asmadi) kalau makan di sini, nanti bantu-bantu saya angkat air. Kadang saya kasih uang juga,” tutur Fatimah.
    Fatimah menyampaikan bahwa Asmadi sering menawarkan jasanya kepada pedagang untuk bantu-bantu. Dari hasil pikul dagangan, cukup buat Asmadi menyambung hidup hari-hari.
    “Kaik bilang katanya ada yang kasih 50.000 rupiah atau 20.000 rupiah. Uangnya disimpan, buat beli beras dan lauk,” terangnya.
    Fatimah berinisiatif untuk mengunggah kondisi Asmadi ke media sosial Facebook hingga akhirnya Dinas Sosial (Dinsos) Kota Samarinda pun membawa Asmadi ke panti jompo. Namun, Asmadi memilih pulang karena kepikiran soal gubuknya.
    Dengan alasan ingin mencuci pakaiannya di gubuk, Fatimah menjemput Asmadi dari panti jompo kembali ke gubuknya.
    “Yah itu keputusannya kaik, dia mau di sini (gubuknya) atau di panti jompo, tapi lebih baik jika ada keluarga dia yang mau merawat,” pungkasnya.

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Admin

    Related Posts

    Teguh Santosa Soroti Pembangunan Sahara Maroko dalam Forum Dekolonisasi PBB

    Oktober 9, 2026

    FKUB Kaltim Dorong Pengurus Baru Samarinda Jadi Percontohan Kerukunan

    Agustus 11, 2026

    Jejak Laut Purba di Tangga Bidadari Jadi Modal Geopark Sangkulirang-Mangkalihat

    Juli 7, 2026

    20 Juta Kiloliter Bensin Masih Impor, Bahlil: Akan Kita Konversi ke Etanol

    Mei 22, 2026

    Bahlil Ingatkan KKKS, Segera Serahkan PI Kaltim

    Mei 21, 2026

    Rekrutmen CASN 2026 Makin Dekat, Kepala BKN Pastikan Pengumuman Segera Dirilis

    Mei 20, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Sekda Samarinda Ikuti Forum Nasional Pembangunan Hukum 2026, Perkuat Harmonisasi Regulasi Daerah

    SintaOktober 15, 2026

    Insitekaltim, Samarinda  – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus mencermati arah kebijakan nasional dalam memperkuat tata…

    Rinda Wahyuni Apresiasi Inovasi DP2KB Samarinda, Program Kesehatan Tetap Berjalan Tanpa Anggaran

    Oktober 15, 2026

    Sekda Samarinda Tekankan Integritas di Bangku Sekolah

    Oktober 15, 2026

    Momok Antrean BBM, Andi Harun Minta Distribusi Diawasi

    Oktober 15, 2026

    Kasus ISPA Samarinda Tembus 36 Ribu

    Oktober 15, 2026
    1 2 3 … 3,387 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.