Insitekaltim, Samarinda – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur (Kaltim) Mas’ud Rifai menilai penguatan mitigasi pasokan menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas harga di Kaltim. Hal itu menyusul masih adanya sejumlah komoditas kebutuhan masyarakat yang didatangkan dari luar daerah, sehingga gangguan produksi maupun distribusi di wilayah pemasok dapat berdampak terhadap harga di Kaltim.
“Kalau beberapa poin besarnya, salah satu yang perlu diperhatikan adalah sumber barang-barang yang kita konsumsi di Kaltim. Ada beberapa produk, bahkan mungkin sebagian besar, yang masih didatangkan dari luar. Nah, barangkali ini yang perlu diperhatikan betul,” ujarnya di Samarinda belum lama ini.
Ia mencontohkan kenaikan harga bawang merah dimana pada Mei, harga rata-rata bawang merah di Kaltim berada di kisaran Rp44.000 hingga Rp45.000 per kilogram. Sementara pada Juni, harga bawang merah melonjak hingga mencapai kisaran Rp60.000 hingga Rp70.000 per kilogram.
Menurutnya, kenaikan tersebut salah satunya dipengaruhi penurunan produksi di daerah pemasok, seperti Sulawesi dan Jawa, sehingga pasokan berkurang.
“Sebagai contoh, bawang merah secara month to month mengalami peningkatan. Salah satu sebabnya di pemasoknya sedang drop produksinya, sebagian Sulawesi dan sebagian Jawa. Akhirnya menyebabkan kekurangan pasokan bawang, otomatis harganya meningkat,” bebernya.
Ia menegaskan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemerintah memastikan ketersediaan barang kebutuhan masyarakat tetap terjaga. Gangguan pada rantai pasok, baik akibat penurunan produksi maupun faktor eksternal perlu diantisipasi agar tidak berlanjut menjadi tekanan terhadap harga.
Selain faktor produksi, Rifai menyebut kondisi global juga masih memberikan pengaruh terhadap inflasi melalui kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan tersebut kemudian berdampak pada biaya distribusi barang.
“Efek dari peristiwa global sekarang, perang masih lanjut. Ternyata rentetannya harga BBM naik. Itu juga termasuk yang memengaruhi inflasi kita,” terangnya.
Ia menambahkan, pengamanan pasokan dan distribusi menjadi langkah penting agar inflasi tetap terkendali di tengah berbagai risiko yang dapat memengaruhi harga komoditas di Benua Etam.

