Insitekaltim, Samarinda – Rencana pembentukan Koperasi Merah Putih di 59 kelurahan di Kota Tepian dinilai perlu diarahkan pada sektor yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Samarinda Iswandi mengingatkan agar koperasi tersebut tidak justru menjadi pesaing baru bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) yang telah lama bertahan.
Konsep bisnis koperasi harus memiliki fungsi yang berbeda dari usaha ritel maupun apotek yang sudah berkembang di tengah masyarakat. Jika tidak dirancang dengan tepat, keberadaan Koperasi Merah Putih berpotensi menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat.
“Yang terpenting, koperasi harus memberi nilai tambah, bukan menjadi pesaing langsung usaha yang sudah ada,” ujar Iswandi, Kamis, 16 Juli 2026.
Ketua DPC PDI Perjuangan itu menilai pemerintah perlu memanfaatkan jaringan Koperasi Merah Putih untuk menyelesaikan persoalan yang selama ini menjadi keluhan masyarakat. Salah satu sektor yang dinilai paling relevan adalah distribusi LPG subsidi 3 kilogram.
Koperasi di tingkat kelurahan memiliki posisi strategis untuk memangkas rantai distribusi sehingga pasokan gas melon dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat rukun tetangga (RT).
Skema tersebut dinilai lebih bermanfaat dibandingkan membuka usaha ritel yang sudah memiliki banyak pelaku.
“Kalau koperasi menjadi agen LPG 3 kilogram, distribusinya bisa langsung menjangkau RT-RT. Ini lebih efektif dibanding membuka usaha yang sudah banyak pesaingnya,” katanya.
Usulan tersebut juga dinilai dapat menjadi solusi atas persoalan kelangkaan LPG 3 kilogram yang masih kerap terjadi di sejumlah wilayah Kota Samarinda. Dengan jaringan koperasi yang tersebar di seluruh kelurahan, distribusi gas bersubsidi diharapkan lebih merata dan mudah diawasi.
Tak hanya itu, Iswandi juga mengusulkan agar koperasi-koperasi tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri. Ia mendorong pembentukan konsorsium antarkoperasi agar memiliki kapasitas usaha yang lebih besar.
Apabila setiap koperasi memperoleh dukungan anggaran sekitar Rp3 miliar, akumulasi modal tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun sistem distribusi yang lebih terintegrasi, bahkan membuka peluang pembangunan pabrik pengisian LPG di masa mendatang.
“Kalau digabungkan, ini bisa menjadi kekuatan besar. Kita bisa bicara sampai ke pembangunan pabrik pengisian LPG. Ini lebih jelas arah dan manfaatnya,” tegasnya.
Iswandi menilai pembentukan Koperasi Merah Putih seharusnya tidak berhenti pada pencapaian target jumlah koperasi yang berdiri. Pemerintah, kata dia, perlu memastikan koperasi memiliki model usaha yang mampu memperkuat ekonomi kerakyatan sekaligus menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia berharap gagasan tersebut menjadi bahan pertimbangan Pemerintah Kota Samarinda dalam menyusun arah pengembangan Koperasi Merah Putih, sehingga keberadaannya tidak hanya menjadi program administratif, tetapi benar-benar memberi manfaat nyata melalui penguatan distribusi energi bersubsidi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

