Insitekaltim, Samarinda – Peningkatan jumlah temuan kasus baru HIV, bukan berarti penularan semakin meluas. Tapi bertambahnya kasus, justru menunjukkan kegiatan skrining berjalan lebih optimal.
“Sehingga lebih banyak penderita, yang berhasil ditemukan untuk segera mendapatkan pengobatan”, tegas Kepala Dinkes Samarinda Ismid Kusasih, Jumat, 17 Juli 2026.
Ia menjelaskan, indikator keberhasilan program penanggulangan HIV tidak hanya diukur dari sedikitnya kasus yang ditemukan, tetapi juga dari luasnya cakupan skrining terhadap kelompok yang berisiko.
“Jangan dipikir kalau suatu daerah kasusnya sedikit berarti bagus. Bisa saja karena skriningnya tidak dilakukan. Kalau tidak diperiksa, tentu kasusnya tidak akan ditemukan,” ujarnya.
Menurut Ismid, Kementerian Kesehatan menjadikan cakupan skrining sebagai salah satu indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.
Semakin banyak kelompok berisiko yang menjalani pemeriksaan, semakin besar peluang menemukan penderita HIV lebih dini sehingga dapat segera memperoleh terapi antiretroviral (ARV).
Ia menegaskan, HIV merupakan penyakit menular yang penanganannya tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Diperlukan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, organisasi masyarakat hingga komunitas.
“Seperti Covid-19 dulu, penanganannya tidak hanya urusan tenaga kesehatan. HIV juga begitu, harus menjadi perhatian bersama karena berkaitan dengan edukasi dan perubahan perilaku,” katanya.
Menurut Ismid, fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan setiap penderita HIV yang telah ditemukan dapat segera menjalani pengobatan secara rutin. Dengan terapi yang teratur, jumlah virus di dalam tubuh dapat ditekan sehingga kualitas hidup penderita tetap terjaga dan risiko penularan dapat diminimalkan.
Berdasarkan hasil pemantauan Dinkes Samarinda, kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) masih menjadi kelompok dengan jumlah temuan kasus HIV tertinggi di Kota Tepian.
“Dari dulu memang kelompok LSL yang paling banyak ditemukan. Kasus-kasus baru yang kami temukan juga mayoritas berasal dari kelompok tersebut,” ungkapnya.
Karena itu, Dinkes terus menggencarkan skrining kepada kelompok berisiko melalui kerja sama dengan sejumlah organisasi yang memiliki perhatian terhadap penanggulangan HIV di Samarinda.
Selain meningkatkan pemeriksaan, pemerintah juga terus memperkuat edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV). Menurut Ismid, penanganan HIV membutuhkan dukungan sosial agar penderita tidak takut memeriksakan diri maupun menjalani pengobatan.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya deteksi dini sehingga penanganan HIV di Samarinda dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan mampu menekan angka penularan di masa mendatang.

