Insitekaltim, Samarinda – Tingginya biaya bermain padel dinilai masih menjadi tantangan bagi perkembangan olahraga tersebut di Samarinda. Riand, seorang pekerja muda yang baru pertama kali mencoba padel mengatakan olahraga yang tengah tren itu belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sebagai informasi, biaya sewa lapangan padel di Samarinda saat ini berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp300 ribu per jam, tergantung lokasi dan waktu bermain.
“Tarif padel masih relatif tinggi dibanding sejumlah olahraga rekreasi lainnya,” ujarnya di Samarinda, Senin, 8 Juni 2026.
Ia memperkirakan biaya bermain padel dapat menjadi lebih terjangkau di masa mendatang apabila jumlah lapangan terus bertambah dan persaingan antarpenyedia fasilitas semakin meningkat.
“Kemungkinan jika sudah lama dan banyak lapangan-lapangan padel lainnya, harga bisa dipertimbangkan agar lebih terjangkau,” tuturnya.
Ia menceritakan dirinya baru pertama kali mencoba padel pada Sabtu 6 Juni 2026, setelah diajak oleh seorang teman. Sebelumnya, Riand lebih sering berolahraga sepak bola. Saat pertama kali bermain, dirinya merasakan olahraga tersebut cukup menguras tenaga karena belum memahami sistem permainan secara menyeluruh. Namun, ia menyebut teknik dasar padel tidak terlalu sulit dipelajari oleh pemula.
“Kalau sudah tahu sistem permainannya, menurut saya tidak sulit,” ungkapnya.
Meski menganggap biaya bermain masih cukup tinggi, Riand menilai fasilitas yang tersedia di tempat ia bermain cukup sebanding dengan harga yang dibayarkan. Selain lapangan dan raket, pengelola juga menyediakan fasilitas pendukung seperti kamar mandi lengkap dan kedai kopi.
“Menurut saya layak saja dengan harga yang sekarang karena fasilitasnya cukup lengkap. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk kalangan menengah harga ini masih belum terjangkau,” terangnya.
Popularitas padel saat ini, lanjutnya, tidak lepas dari tren yang sedang berkembang di masyarakat. Ia bahkan menyebut olahraga padel berpotensi mengalami penurunan popularitas ketika muncul tren olahraga baru di kemudian hari.
Karena itu, ia belum yakin padel dapat menjadi alternatif olahraga utama bagi masyarakat Samarinda dalam jangka panjang. Selain faktor biaya, pemahaman terhadap sistem permainan juga menjadi tantangan tersendiri bagi pemain baru.
Pria berusia 24 tahun itu pun tak menutup kemungkinan untuk kembali bermain padel. Baginya, olahraga tersebut dapat menjadi sarana untuk menambah relasi sekaligus memperluas pengetahuan mengenai cabang olahraga yang sedang berkembang.
“Kalau main lagi, mungkin untuk menambah relasi dan pengetahuan tentang olahraga padel,” pungkasnya.

