Insitekaltim, Samarinda – Penumpukan pasien pada dokter yang dianggap favorit berpotensi meningkatkan risiko kelelahan tenaga medis. Ini pada akhirnya, dapat memengaruhi kualitas layanan dan keselamatan pasien.
Kebiasaan sebagian masyarakat, yang hanya ingin berobat kepada dokter tertentu. Dinilai, dapat menimbulkan dampak negatif terhadap pelayanan kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur Jaya Mualimin mengatakan, masyarakat sebenarnya tidak perlu khawatir. Jika ditangani dokter lain, yang bertugas di rumah sakit.
Menurutnya, seluruh dokter yang telah memperoleh izin praktik. Telah melalui proses kredensial dan memiliki standar, kompetensi yang sama sesuai bidang keahlian masing-masing.
Ia menilai, fenomena dokter favorit tidak jauh berbeda dengan kebiasaan masyarakat. Memilih rumah makan yang ramai, karena dianggap memiliki kualitas lebih baik dibanding tempat lain.
Padahal, dokter-dokter lain yang bertugas. Juga telah memenuhi standar pelayanan, yang ditetapkan.
“Pelayanan itu ada standarnya. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir kalau ditangani dokter yang lain,” ujarnya di Samarinda Jumat, 5 Juni 2026.
Menurut Jaya, penumpukan pasien pada satu dokter. Justru dapat memicu kelelahan, akibat tingginya beban kerja. Kondisi tersebut berpotensi, memengaruhi konsentrasi tenaga medis saat memberikan pelayanan kepada pasien.
“Kalau dokter itu capek tentu ada pengaruhnya. Karena itu jangan sampai masyarakat hanya terpaku pada satu dokter saja,” katanya.
Selain menyoroti fenomena dokter favorit, Jaya juga mengingatkan, pentingnya pengaturan jam kerja dokter. Terutama bagi tenaga medis, yang memiliki lebih dari satu tempat praktik.
Ia menilai, dokter perlu menjaga stamina dan waktu istirahat. Agar tetap, dapat memberikan pelayanan secara optimal.
Jaya menambahkan, pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya bergantung pada satu orang dokter.
Rumah sakit telah menerapkan, standar mutu dan sistem pengawasan untuk memastikan seluruh tenaga medis memberikan pelayanan sesuai kompetensinya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih terbuka. Dalam memilih dokter dan tidak hanya, berfokus pada nama-nama tertentu.
Selain membantu pemerataan pelayanan, langkah tersebut juga dapat mengurangi risiko kelelahan, tenaga medis akibat beban kerja yang berlebihan.
“Dokter yang terlalu lelah ? tentu ada bahaya yang mengintai. Karena itu perlu keseimbangan antara jumlah pasien, jam kerja, dan waktu istirahat agar pelayanan kepada masyarakat tetap maksimal,” pungkasnya.

