Insitekaltim, Samarinda – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda mencatat masa transisi dari sekolah dasar (SD) ke sekolah menengah pertama (SMP) serta dari SMP ke sekolah menengah atas (SMA) menjadi fase paling rentan anak putus sekolah. Kondisi itu tercermin dari penurunan angka partisipasi sekolah pada jenjang pendidikan menengah.

Kepala BPS Kota Samarinda Supriyanto mengatakan, hampir seluruh anak usia sekolah dasar telah mengenyam pendidikan. Namun, risiko putus sekolah mulai meningkat saat mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.
“Kalau dari angka partisipasi sekolah, yang rentan putus sekolah itu sebetulnya saat transisi dari SD ke SMP dan dari SMP ke SMA,” katanya kepada Insitekaltim, Rabu, 22 Juli 2026.
Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025, angka partisipasi sekolah (APS) pada kelompok usia SD mencapai 99,73 persen. Angka tersebut kemudian turun menjadi 96,11 persen pada jenjang SMP dan kembali menurun menjadi 87,63 persen di tingkat SMA.
Menurut Supriyanto, penurunan partisipasi sekolah dipengaruhi berbagai faktor. Selain keterbatasan ekonomi keluarga, sebagian anak terpaksa membantu orang tua mencari nafkah. Faktor lingkungan pergaulan juga menjadi salah satu penyebab anak memilih tidak melanjutkan pendidikan.
“Bisa karena kemampuan ekonomi orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan. Dampaknya anak ikut membantu mencari nafkah. Bisa juga karena pengaruh lingkungan sehingga anak memilih tidak melanjutkan sekolah,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagai daerah perkotaan, Samarinda juga menghadapi fenomena sebagian remaja yang memilih bekerja atau merintis usaha setelah lulus sekolah karena telah memperoleh penghasilan.
“Mungkin ada yang mencoba usaha, kemudian merasa nyaman sehingga memilih bekerja daripada melanjutkan sekolah,” ucapnya.
Selain APS, BPS juga mencatat penurunan Angka Partisipasi Murni (APM) pada seluruh jenjang pendidikan dibandingkan tahun sebelumnya. APM SD turun dari 98,10 persen pada 2024 menjadi 96,62 persen pada 2025. Di jenjang SMP, APM menurun dari 84,70 persen menjadi 83,12 persen. Sementara itu, penurunan terbesar terjadi pada jenjang SMA, yakni dari 78,78 persen menjadi 71,91 persen.
Menurut Supriyanto, tren tersebut perlu menjadi perhatian karena menunjukkan semakin sedikit anak yang mengenyam pendidikan sesuai kelompok usianya.
“Walaupun pendidikan gratis, tetap ada biaya lain yang harus dikeluarkan keluarga untuk menunjang pendidikan. Itu bisa berpengaruh terhadap keberlanjutan sekolah anak,” pungkasnya.

