Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Harga Obat Peserta JKN Tetap Terlindungi dan Dipastikan Tetap Stabil Meski Dolar Menguat

    Juni 13, 2026

    Targetkan Kursi yang Lepas, Demokrat Gandeng Tokoh Daerah Perkuat Barisan

    Juni 13, 2026

    Ingin Kulit Glowing Alami? Olahraga Rutin Bisa Jadi Rahasianya

    Juni 13, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Advertorial»DPRD Kaltim»Syahariah Mas’ud Sebut Sistem Perlindungan Anak di Kaltim Tak Jalan
    DPRD Kaltim

    Syahariah Mas’ud Sebut Sistem Perlindungan Anak di Kaltim Tak Jalan

    SittiBy SittiJuli 23, 202502 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Anggota Komisi IV DPRD Kaltim Syahariah Mas’ud
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Perlindungan terhadap perempuan dan anak di Kalimantan Timur kembali menjadi sorotan. Anggota Komisi IV DPRD Kaltim Syahariah Mas’ud menyuarakan kekhawatiran atas lemahnya kinerja Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) dan Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) dalam menangani kasus-kasus kekerasan dan eksploitasi yang terus terjadi.

    Setelah rapat dengar pendapat bersama DP3A dan KPAD di Gedung DPRD Kaltim, Senin, 21 Juli 2025, Syahariah menyebut banyak persoalan belum tersentuh secara sistemik. Kasus-kasus kekerasan masih sering muncul, dan penanganannya cenderung bersifat reaktif.

    “Saya anggap gagal. Masalah perempuan dan anak masih terus terjadi. Tidak ada perubahan berarti,” ucap Syahariah.

    Ia melihat program-program yang berjalan selama ini belum menyentuh akar persoalan. Intervensi lebih banyak dilakukan ketika kasus sudah muncul ke permukaan, tanpa pendekatan pencegahan yang sistematis dan berkelanjutan.

    Dalam situasi sosial yang kompleks, Syahariah menilai pendekatan lama tidak bisa lagi diandalkan. Persoalan perempuan dan anak membutuhkan keterlibatan lintas sektor dan kepemimpinan kelembagaan yang kuat, bukan hanya rutinitas kegiatan administratif atau seminar belaka.

    Perhatian juga diarahkan pada minimnya respons KPAD terhadap kasus-kasus besar seperti pencabulan anak yang marak di berbagai daerah. Ia menilai publik tidak merasakan kehadiran nyata KPAD di tengah masyarakat, terutama saat kasus mencuat dan butuh penanganan segera.

    “Masalah pencabulan anak sangat sering terjadi. Tapi kita tidak melihat peran aktif lembaga yang diberi mandat khusus ini. Kehadirannya nyaris tak terasa,” ungkap Syahariah.

    Ia juga menyoroti potensi bonus demografi yang dimiliki Indonesia, termasuk Kalimantan Timur. Di tengah peluang besar itu, perempuan dan anak justru masih berada dalam posisi rentan. Menurutnya, hal ini sangat ironis dan berisiko menciptakan generasi masa depan yang kehilangan daya saing sejak awal.

    “Kalau kita tidak menyiapkan mereka dengan baik, kita sedang menciptakan generasi yang rapuh secara sosial,” ujar politisi perempuan dari Fraksi Golkar ini.

    Syahariah mendorong pemerintah provinsi untuk melakukan pembenahan struktural terhadap lembaga-lembaga yang bergerak di isu perlindungan anak. Perlu peningkatan sumber daya, perbaikan tata kelola, serta penguatan strategi berbasis data dan kebutuhan lapangan.

    Ia berharap hasil rapat ini tidak hanya berakhir pada catatan, tapi menjadi pemicu perbaikan nyata di tubuh DP3A dan KPAD. Tantangan yang dihadapi ke depan kian kompleks, dan Kalimantan Timur tak boleh tertinggal dalam hal perlindungan kelompok rentan.

    “Lembaga-lembaga ini harus menjadi garda depan, bukan sekadar simbol kelembagaan. Kita butuh kerja nyata, bukan hanya hadir saat rapat lalu menghilang saat dibutuhkan,” tutupnya.

    DP3A KPAD Syahariah Mas’ud
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Sitti

    Related Posts

    Gelombang Pensiun dan Efisiensi Anggaran, Sekolah di PPU Hadapi Tantangan Berat

    Juni 12, 2026

    Gratispol Sudah Jalan, DPRD Kaltim Ingatkan Kampus Jangan Lambat Beri Kepastian Mahasiswa

    Juni 7, 2026

    Syahariah Mas’ud Tinjau Sekolah di Paser, Sejumlah Fasilitas Sekolah Masih Perlu Perbaikan

    Mei 21, 2026

    Pengangguran Perempuan di Kaltim Tinggi, Syahariah Dorong Lapangan Kerja Lebih Inklusif

    Mei 19, 2026

    Syahariah: Tak Boleh Lagi Ada Proyek Bangunan Sekolah Mangkrak

    Mei 18, 2026

    Anggaran Kaltim Terbatas, Gratispol Diusulkan Fokus ke SMA-SMK dan Warga Kurang Mampu

    Mei 18, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Harga Obat Peserta JKN Tetap Terlindungi dan Dipastikan Tetap Stabil Meski Dolar Menguat

    Nur AjijahJuni 13, 2026

    Insitekaltim, Jakarta – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memastikan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tetap…

    Targetkan Kursi yang Lepas, Demokrat Gandeng Tokoh Daerah Perkuat Barisan

    Juni 13, 2026

    Ingin Kulit Glowing Alami? Olahraga Rutin Bisa Jadi Rahasianya

    Juni 13, 2026

    Demokrat Siapkan Konsolidasi Menuju 2029, Bambang Soepriyadi Berpeluang Pimpin Kaltim

    Juni 13, 2026

    Meutya: Orang Tua Harus Lindungi Anak di Ruang Digital

    Juni 12, 2026
    1 2 3 … 3,142 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.