Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Calon Tunggal, Adipt Maraja Berpeluang Terpilih Aklamasi di Muscab HIPMI Bontang

    Juli 11, 2026

    Meniru Rawa Nusantara, Rahasia Air Ideal untuk Ikan Cupang

    Juli 11, 2026

    10 Jurusan Kuliah yang Paling Disesali di Tahun 2026

    Juli 11, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Pendidikan»Gratispol Sudah Jalan, DPRD Kaltim Ingatkan Kampus Jangan Lambat Beri Kepastian Mahasiswa
    Pendidikan

    Gratispol Sudah Jalan, DPRD Kaltim Ingatkan Kampus Jangan Lambat Beri Kepastian Mahasiswa

    SittiBy SittiJuni 7, 2026Updated:Juli 2, 202603 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Syahariah Mas'ud menilai evaluasi bersama diperlukan untuk menyempurnakan pelaksanaan Gratispol ke depan. (Insitekaltim/Aminah)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Program Gratispol pendidikan gratis Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus berjalan dan telah dirasakan puluhan ribu mahasiswa.

    Hingga tahap III penyaluran, bantuan pendidikan tersebut telah menjangkau 63.603 mahasiswa dengan total anggaran mencapai Rp288,5 miliar. Bahkan, Pemprov Kaltim menyiapkan anggaran sekitar Rp1,3 triliun untuk memperluas manfaat program pada tahun 2026.

    Di tengah capaian tersebut Anggota Komisi IV DPRD Kaltim Syahariah Mas’ud mengingatkan bahwa keberhasilan Gratispol tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran yang disiapkan pemerintah, tetapi juga oleh kesiapan kampus dalam menyampaikan informasi dan memberikan kepastian kepada mahasiswa.

    Berbagai keluhan yang muncul selama pelaksanaan program perlu dilihat secara objektif agar akar persoalan dapat ditemukan dan diperbaiki bersama.

    “Kita tentu mengapresiasi kritik dan masukan dari mahasiswa. Tetapi di saat yang sama, kita juga perlu melihat secara jernih di mana letak persoalan sebenarnya. Jangan sampai program yang sudah disiapkan dengan baik justru tersandung pada hal-hal yang seharusnya bisa diselesaikan di tingkat pelaksana,” ujarnya.

    Syahariah menyoroti masih adanya anggaran sekitar Rp2,1 miliar yang tidak terserap karena sejumlah mahasiswa tidak melakukan pendaftaran.

    Kondisi tersebut menjadi catatan penting bahwa persoalan tidak selalu berada pada ketersediaan anggaran, melainkan juga pada penyampaian informasi dan kesiapan administrasi.

    “Kadang kita terlalu fokus membahas anggaran yang belum cair, tetapi lupa bertanya mengapa ada anggaran yang sudah tersedia justru tidak sempat diakses. Ini menjadi pengingat bahwa informasi ternyata tidak selalu bergerak secepat pemberitaan yang beredar di media sosial,” katanya.

    Ia juga menyinggung polemik penyesuaian Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang sempat memunculkan kebingungan di kalangan mahasiswa.

    Dalam pandangannya, kampus seharusnya menjadi sumber informasi utama yang mampu memberikan penjelasan dan kepastian kepada mahasiswa ketika kebijakan baru diterapkan.

    “Mahasiswa datang ke kampus untuk mendapatkan pendidikan dan kepastian layanan. Karena itu, ketika muncul kebijakan baru, kemampuan menerjemahkan regulasi menjadi informasi yang mudah dipahami menjadi sangat penting. Jangan sampai mahasiswa lebih cepat mengetahui informasi dari grup percakapan dibandingkan dari institusinya sendiri,” tegasnya.

    Selain itu, kasus mahasiswa yang sempat dinyatakan lolos program namun kemudian dibatalkan karena tidak memenuhi syarat tertentu menunjukkan pentingnya proses verifikasi yang lebih cermat sejak awal.

    “Aturan itu sebenarnya tidak lahir kemarin sore. Karena itu semakin awal dilakukan penyaringan dan penjelasan, semakin kecil pula potensi munculnya kekecewaan di kemudian hari. Harapan mahasiswa adalah sesuatu yang perlu dijaga, jangan sampai tumbuh terlalu tinggi sebelum seluruh syarat benar-benar dipastikan,” ujarnya.

    Persoalan lain yang turut mendapat sorotan adalah syarat domisili yang sempat menjadi polemik di kalangan mahasiswa. Menurut Syahariah, masih terdapat ruang perbaikan dalam penyampaian informasi agar masyarakat memahami ketentuan program secara utuh sejak awal.

    “Sering kali yang dipersoalkan adalah hasil akhirnya, padahal persoalannya berada di tahap awal, yakni pemahaman terhadap syarat dan ketentuan. Mungkin kita perlu memastikan bahwa informasi penting tidak hanya diumumkan, tetapi juga benar-benar dipahami,” katanya.

    Meski begitu, berbagai dinamika tersebut tidak boleh mengaburkan tujuan utama Gratispol, yakni membuka akses pendidikan tinggi seluas-luasnya bagi masyarakat Kaltim.

    “Program ini masih sangat muda, tetapi capaian manfaatnya sudah sangat besar. Yang diperlukan sekarang bukan saling menyalahkan, melainkan kesediaan semua pihak untuk mengevaluasi diri. Pemerintah sudah menyiapkan anggaran, mahasiswa sudah menunjukkan antusiasme, sehingga tentu akan lebih baik apabila seluruh ekosistem pendidikan dapat bergerak dengan ritme yang sama,” tuturnya.

    Syahariah menambahkan, ukuran keberhasilan Gratispol nantinya bukan hanya besarnya dana yang tersalurkan, melainkan juga kemampuan seluruh pihak memastikan tidak ada mahasiswa yang tertinggal hanya karena informasi terlambat, data yang kurang akurat, atau koordinasi yang belum berjalan optimal.

    “Jangan sampai ada mahasiswa yang kehilangan kesempatan hanya karena persoalan administrasi dan komunikasi. Program ini harus benar-benar hadir untuk membantu mahasiswa mencapai pendidikan yang lebih baik,” pungkasnya.

     

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Sitti

    Related Posts

    10 Jurusan Kuliah yang Paling Disesali di Tahun 2026

    Juli 11, 2026

    Sebanyak 3.420 Mahasiswa KKN Kolaborasi 2026 Resmi Diterjunkan ke 377 Desa se-Kaltim

    Juli 11, 2026

    Menghapus Perpeloncoan Saja Tak Cukup, MPLS Ramah 2026 Darurat Kekerasan Seksual

    Juli 10, 2026

    Sambut Tahun Ajaran Baru, Praktisi Pendidikan Desak MPLS Digital Bebas Perundungan

    Juli 9, 2026

    Dominasi Lulusan Olahraga Warnai Yudisium IKIP PGRI Kaltim, Cetak Guru Berkarakter untuk Era IKN

    Juli 8, 2026

    74,4 Persen Orang Tua Paham Alur SPMB 2026, Kelompok Pendidikan Rendah Masih Terkendal

    Juli 8, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Calon Tunggal, Adipt Maraja Berpeluang Terpilih Aklamasi di Muscab HIPMI Bontang

    R’syaJuli 11, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Adipt Maraja berpeluang terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Cabang…

    Meniru Rawa Nusantara, Rahasia Air Ideal untuk Ikan Cupang

    Juli 11, 2026

    10 Jurusan Kuliah yang Paling Disesali di Tahun 2026

    Juli 11, 2026

    5 Tanda Social Battery Habis, Kenali Bedanya dengan Antisosial

    Juli 11, 2026

    Gerindra Dorong 70 Persen Dana Probebaya Dialihkan untuk Pelatihan Kerja Warga

    Juli 11, 2026
    1 2 3 … 3,207 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.