Insitekaltim, Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menetapkan status siaga darurat kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), serta asap akibat karhutla hingga 30 November 2026.
Di tengah status tersebut, stok bantuan sosial (Bansos) Pemerintah Provinsi Kaltim disebut tinggal sekitar 5.000–6.000 paket.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kaltim Andi Muhammad Ishak mengatakan, keterbatasan stok menjadi salah satu pertimbangan dalam merespons permintaan bantuan dari daerah, termasuk Mahakam Ulu yang sebelumnya mengajukan sekitar 6.000 paket.
“Kami melihat perkembangan sambil tetap komunikasi. Artinya kalau memang sangat dibutuhkan, ya kita segera. Kita juga tidak ingin sampai mereka kesulitan mendapatkan bantuan, apalagi persediaan makanan dan bahan pokok,” kata Ishak saat ditemui di DPRD Kaltim, Senin, 14 September 2026.
Stok bansos yang tersedia untuk satu tahun setelah dilakukan efisiensi mencapai sekitar 12.500 paket. Hingga September 2026, bantuan yang telah disalurkan diperkirakan sekitar separuh dari total stok tersebut.
“Kalau lihat ini baru separuh, jadi tinggal 6.000-an. Karena masuk triwulan IV masih sekitar 6.000, 5.000-an sekitar itu,” ujarnya.
Permintaan Mahakam Ulu belum langsung direalisasikan. Dinsos mempertimbangkan daerah tersebut sebelumnya telah menerima cadangan pangan pemerintah (CPP) berupa beras sebanyak dua kali.
Selain itu, persoalan distribusi juga menjadi kendala karena belum tersedia tempat penyimpanan atau gudang untuk menampung bantuan dalam jumlah besar.
Persoalan tersebut sebenarnya sudah menjadi catatan sejak pengalaman bencana banjir besar tahun sebelumnya. Pemprov telah menyarankan pemerintah daerah menyiapkan lumbung atau gudang agar stok bantuan dapat ditempatkan lebih dekat dengan masyarakat.
“Supaya stok itu kita bisa tempatkan di sana. Jadi jangan nunggu kalau sudah kejadian baru. Cuma karena enggak ada tempat, belum ada penampungan seperti gudang,” katanya.
Keberadaan gudang di daerah akan mempercepat penyaluran ketika kebutuhan meningkat. Kondisi geografis Mahakam Ulu juga menjadi tantangan tersendiri karena distribusi bantuan membutuhkan waktu dan biaya lebih besar.

