Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Terlalu Sering Membaca Berita Buruk? Kenali Doomscrolling dan Cara Menguranginya

    November 1, 2026

    Ramai Tren Stop the Wedding di Media Sosial, Kenali Tanda Hubungan yang Tidak Sehat Sebelum Menikah

    November 1, 2026

    Ikan Asin Diduga Disemprot Obat Serangga, Ini Risiko dan Cara Mengenalinya

    November 1, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Pemerintah»Karhutla di Lahan Gambut Tak Cukup Dipadamkan dari Permukaan
    Pemerintah

    Karhutla di Lahan Gambut Tak Cukup Dipadamkan dari Permukaan

    IraBy IraSeptember 14, 2026Updated:Oktober 5, 202604 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla di Kalimantan Timur, Senin, 14/9/2026 (Insitekaltim/Ira)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut membutuhkan metode berbeda dibandingkan kebakaran di lahan biasa.

    Api tidak hanya membakar permukaan, tetapi dapat merambat hingga ke bagian bawah gambut sehingga bara tetap bertahan meski api di permukaan telah dipadamkan.

    Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) Diaz Faisal Malik Hendropriyono mengatakan, kondisi muka air gambut menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah kebakaran meluas. Ketika muka air terlalu rendah, gambut menjadi kering dan lebih mudah terbakar.

    “Karena itu, air harus dijaga di atas 40 sentimeter,” kata Diaz dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Provinsi Kalimantan Timur, Senin, 14 September 2026.

    Menurut dia, air dapat keluar melalui kanal yang dibuat untuk berbagai kebutuhan, termasuk transportasi maupun aktivitas lainnya. Ketika muka air turun, kondisi gambut menjadi lebih kering dan api di permukaan dapat merambat ke lapisan bawah.

    “Ketika air keluar dan muka air menjadi rendah, saat terjadi kebakaran di permukaan, api dapat menjalar sampai ke bagian bawah gambut,” ujarnya.

    Karakteristik tersebut membuat pemadaman karhutla di lahan gambut tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman dari udara maupun permukaan. Operasi modifikasi cuaca (OMC) dan water bombing dapat membantu memadamkan api di bagian atas, tetapi bara di dalam gambut masih berpotensi menyala.

    “Namun, ketika diperiksa ke bagian bawah, masih bisa terdapat bara dan api yang terus membakar. Karena itu, air perlu disuntikkan hingga ke bagian dalam,” jelas Diaz.

    Ia mengatakan, pola penanganan tersebut memiliki kemiripan dengan kebakaran di tempat pemrosesan akhir (TPA). Api di dalam timbunan sampah juga dapat bertahan di bagian bawah sehingga pemadaman dari permukaan belum tentu membuat api benar-benar padam.

    “Karena itu, baik di TPA maupun di gambut, pemadaman perlu menjangkau bagian dalam,” katanya.

    Selain pemadaman, upaya pencegahan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko karhutla di kawasan gambut. Salah satunya dengan menjaga muka air agar tetap tinggi sehingga gambut tidak mengering.

    Diaz menjelaskan, pemerintah menggunakan sekat kanal atau canal blocking di sejumlah daerah yang memiliki kawasan gambut luas, seperti Jambi dan Kalimantan Barat.

    “Di daerah yang memiliki banyak lahan gambut seperti Jambi dan Kalimantan Barat, kami menggunakan sekat kanal atau canal blocking untuk menjaga air tetap berada di dalam gambut,” ujarnya.

    Sekat kanal berfungsi menahan aliran air agar tidak keluar dari kawasan gambut. Dengan demikian, kondisi gambut tetap lembap dan risiko terjadinya kebakaran dapat ditekan.

    “Air yang sudah keluar perlu ditahan kembali dengan sekat, sehingga gambut tetap terendam,” kata Diaz.

    Menurutnya, kondisi gambut yang tetap basah juga akan membantu proses pengendalian apabila terjadi kebakaran. Api tidak akan mudah menjalar ke lapisan bawah ketika kandungan air di dalam gambut tetap terjaga.

    Diaz juga menyinggung pengaruh El Nino dan pemanasan global terhadap kondisi kebakaran. Menurutnya, kedua faktor tersebut bukan menjadi satu-satunya penyebab munculnya api, tetapi dapat memperburuk kondisi ketika kebakaran sudah terjadi.

    “Kebakaran hampir dipastikan tetap ada faktor lain yang menyebabkannya. Namun, El Nino dan pemanasan global dapat membuat kondisi kebakaran menjadi lebih parah dan meluas dengan cepat,” katanya.

    Karena itu, pengawasan terhadap potensi munculnya titik api dinilai penting. Pengawasan tidak hanya dilakukan di kawasan gambut, tetapi juga di lokasi lain yang memiliki potensi kebakaran, termasuk TPA.

    Diaz menyebutkan, dari 522 TPA yang ada di seluruh Indonesia, sedikitnya 21 lokasi telah mengalami kebakaran sepanjang tahun ini.

    “Pengawasan menjadi sangat penting agar tidak muncul titik api, baik di lahan gambut maupun di TPA,” ujarnya.

    Ia menambahkan, Manggala Agni memiliki kemampuan khusus dalam menangani kebakaran di kawasan gambut, termasuk menggunakan metode pemadaman yang diarahkan hingga ke bagian bawah permukaan.

    Menurut Diaz, penanganan karhutla di gambut pada akhirnya harus berjalan beriringan antara pemadaman dan pencegahan. Pemadaman diperlukan ketika api muncul, sementara pengelolaan tata air melalui sekat kanal menjadi langkah penting untuk menjaga gambut tetap basah dan mengurangi potensi kebakaran berulang.

     

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Ira

    Related Posts

    Pemprov Kaltim Matangkan Tata Kelola Sangkulirang-Mangkalihat

    Oktober 30, 2026

    Bantuan untuk Warga Miskin Kaltim Perlu Disesuaikan dengan Mata Pencaharian

    Oktober 29, 2026

    DLH Kaltim Kejar Sinkronisasi KLHS dan Revisi RTRW

    Oktober 29, 2026

    Benih Tanpa Sertifikasi Terancam Tak Bisa Diedarkan di Kaltim

    Oktober 27, 2026

    BPBD Samarinda Catat 309 Kebakaran Lahan, Lima Orang Diproses Polisi

    Oktober 23, 2026

    Kaltim Raih Penghargaan TPAKD 2026, Gubernur dan Wagub Tak Hadir

    Oktober 23, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Terlalu Sering Membaca Berita Buruk? Kenali Doomscrolling dan Cara Menguranginya

    AminahNovember 1, 2026

    Insitekaltim – Pernah membuka media sosial hanya untuk melihat satu berita, tetapi akhirnya terus menggulir layar…

    Ramai Tren Stop the Wedding di Media Sosial, Kenali Tanda Hubungan yang Tidak Sehat Sebelum Menikah

    November 1, 2026

    Ikan Asin Diduga Disemprot Obat Serangga, Ini Risiko dan Cara Mengenalinya

    November 1, 2026

    Dari Pemulung Menjadi Mitra Pemilah, DLH Samarinda Bangun Kolaborasi Pengelolaan Sampah

    November 1, 2026

    Tekan Angka Kekerasan, DP2PA Samarinda Perkuat Kepedulian terhadap Perempuan dan Anak

    November 1, 2026
    1 2 3 … 3,419 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.