Insitekaltim, Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda belum akan menerima secara penuh pengelolaan Teras Samarinda sebelum sejumlah catatan hasil evaluasi diselesaikan kontraktor. Temuan tersebut mulai dari pemasangan keramik, sistem penyiraman tanaman, hingga ketersediaan bak sampah dan pagar pengaman.
Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda Marnabas Patiroy mengatakan, masa pemeliharaan proyek ditargetkan selesai pada 19 Agustus 2026. Setelah itu, Pemkot Samarinda mulai mengambil alih pengelolaan kawasan tersebut.
“Intinya bahwa ini kan tanggung jawab kontraktor. Sebelum kami terima, dia harus kerjakan sesuai dengan RAB yang ada,” ujarnya saat meninjau Teras Samarinda, Senin, 10 Agustus 2026.
Menurutnya, hasil peninjauan awal masih menemukan sejumlah bagian yang perlu diperbaiki sebelum kawasan tersebut benar-benar diserahkan kepada pemerintah kota. Salah satunya pemasangan keramik yang dinilai kurang baik dan berpotensi menimbulkan kerusakan dalam jangka panjang.
Marnabas menegaskan seluruh catatan tersebut harus segera disampaikan kepada kontraktor untuk diperbaiki. Pemkot tidak ingin kerusakan yang seharusnya masih menjadi tanggung jawab kontraktor justru menjadi beban pemerintah setelah serah terima.
“Seperti keramik yang ada yang kosong, itu kan jangka panjang. Tiga bulan nanti baru bisa patah, ya suruh perbaiki. Untuk sekarang sudah rusak, tapi nanti tiga bulan, enam bulan kalau diinjak akan patah itu,” tegasnya.
Selain konstruksi, pemkot juga menyoroti sistem penyiraman tanaman. Marnabas meminta penggunaan sprinkler diperbaiki agar tidak dilakukan setengah-setengah. Ia juga mengusulkan pemanfaatan air Sungai Mahakam untuk penyiraman dibandingkan air PDAM.
“Kalau memang pakai sprinkler, semuanya pakai sprinkler. Kalau memang tidak ada, sekalian tidak ada, manual,” jelasnya.
Setelah pengelolaan diambil alih, pembagian tugas juga mulai disiapkan. Sebagian segmen akan ditangani Dinas Lingkungan Hidup (DLH), sementara pengamanan kawasan sementara diserahkan kepada Satpol PP.
Pemkot juga tengah menyiapkan pengaturan aktivitas dan jam operasional. Marnabas menyebut Teras Samarinda tidak serta-merta akan dibuka selama 24 jam seperti pengalaman di Teras Samarinda I, mengingat kawasan tersebut berdekatan dengan fasilitas umum, termasuk masjid.
“Nah, karena itu akan kita atur nanti sampai jam berapa. Jangan sampai juga ini operasinya sampai 24 jam. Ada batas-batas waktunya,” terangnya.
Untuk parkir, Pemkot berencana menjajaki kerja sama dengan kawasan Pasar Pagi dan pengurus masjid di sekitar lokasi. Skema tersebut diharapkan dapat memanfaatkan kantong parkir yang tersedia ketika aktivitas di kedua kawasan tersebut mulai berkurang.
Sementara untuk pengelolaan, Pemkot Samarinda akan mengelola Teras Samarinda terlebih dahulu hingga Desember 2026 sembari membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga. Namun, Marnabas menyampaikan kerja sama tersebut tidak boleh berujung pada pembebanan biaya kepada masyarakat.
“Yang jelas kepentingan masyarakat di atas segala-galanya. Jangan sampai nanti juga akan merugikan masyarakat. Karena kita kerja sama dengan pihak ketiga, lantas ada biaya-biaya yang bisa membebani masyarakat, itu tidak kita inginkan,” tuturnya.
Pemkot menargetkan kawasan tersebut sudah siap setelah masa pemeliharaan berakhir. Selanjutnya, Wali Kota Samarinda Andi Harun direncanakan meninjau kembali kawasan tersebut sekitar 21–22 Agustus untuk memberikan masukan sebelum pembukaan resmi.
Marnabas menambahkan, Pemkot mengusulkan pembukaan resmi pada 1 September 2026. Namun, jadwal tersebut masih dapat berubah apabila wali kota menilai kawasan sudah siap lebih cepat.
“Kami cuma ambil posisi di tanggal 1 September supaya ketika ada kunjungan Pak Wali itu ada temuan-temuan beliau, kita punya kesempatan untuk memperbaiki,” katanya.
Di sisi lain, Pemkot juga akan mensterilkan kawasan dari sampah dan aktivitas lain yang tidak berkaitan dengan fungsi publik Teras Samarinda. Untuk sementara, kegiatan masih dimungkinkan di area dermaga.
Adapun bagian pedestrian yang berada di tengah Sungai Mahakam masih dalam proses pengerjaan dan ditargetkan baru dapat dibuka pada 2027.
Marnabas memastikan evaluasi akan terus dilakukan sebelum seluruh fasilitas dinyatakan siap digunakan masyarakat. Peninjauan kali ini merupakan tahap awal untuk memastikan seluruh fasilitas yang ada benar-benar berfungsi ketika kawasan tersebut dibuka.
“Banyak catatan, mulai dari keramiknya yang kurang bagus pemasangannya, sprinklernnya tidak, kemudian bak sampahnya juga begitu. Kita minta perbaiki,” pungkasnya.

