Insitekaltim, Samarinda – Tidak semua luka akan sembuh menjadi garis tipis yang samar di kulit. Pada sebagian orang, bekas luka justru tumbuh menebal, menonjol, dan terus membesar hingga melewati area luka awal. Kondisi inilah yang dikenal sebagai keloid.
Dokter umum dr. Itci Dwi Wijayanti menjelaskan bahwa keloid merupakan pertumbuhan jaringan parut abnormal akibat produksi kolagen yang berlebihan saat kulit sedang memperbaiki diri setelah terluka.
“Tubuh sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk menyembuhkan luka. Namun pada penderita keloid, proses pembentukan jaringan parut berlangsung terlalu aktif sehingga bekas luka menjadi menonjol dan sulit hilang,” jelas dr. Itci.
Keloid termasuk jaringan parut jinak dan bukan kanker. Meski demikian, kondisi ini sering mengganggu penampilan serta menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penderitanya.
Berbeda dengan Bekas Luka Biasa
Masyarakat masih banyak yang menyamakan keloid dengan bekas luka biasa atau luka hipertrofik. Padahal, keduanya memiliki perbedaan cukup jelas.
Luka hipertrofik hanya tumbuh di area luka awal dan umumnya dapat memudar dengan sendirinya dalam beberapa waktu. Sementara keloid justru dapat terus melebar melewati batas luka semula.
“Kalau keloid, pertumbuhannya lebih agresif. Bahkan setelah luka sembuh, jaringan parut masih bisa terus membesar selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun,” katanya.
Karena sifatnya yang progresif, keloid juga dikenal mudah kambuh meskipun sudah diobati atau dioperasi.
Penyebab Keloid Bisa Muncul
Keloid dapat muncul akibat berbagai jenis luka pada kulit. Luka besar maupun kecil sama-sama berpotensi memicu pembentukan jaringan parut berlebihan pada orang yang memiliki bakat keloid.
Beberapa penyebab paling umum antara lain bekas operasi, luka bakar, tindik telinga, tato, jerawat meradang, hingga luka gores dan bekas suntikan.
“Kadang luka kecil saja bisa memicu keloid, terutama kalau memang ada faktor keturunan,” ujar dr. Itci.
Ia menjelaskan bahwa faktor genetik menjadi salah satu penyebab utama seseorang lebih rentan mengalami keloid. Risiko juga meningkat pada individu dengan warna kulit lebih gelap dan usia produktif antara 10 hingga 30 tahun.
Selain itu, area tubuh tertentu lebih sering ditumbuhi keloid, terutama bagian yang memiliki tegangan kulit tinggi seperti dada, bahu, punggung, lengan atas, leher, dan cuping telinga.
Gejala yang Sering Dikeluhkan
Keloid biasanya muncul secara perlahan setelah luka mulai sembuh. Awalnya hanya tampak sedikit menonjol, namun lama-kelamaan ukurannya bisa semakin besar.
Secara fisik, keloid terlihat sebagai benjolan padat dan mengilap di permukaan kulit. Warnanya dapat berubah menjadi merah muda, kecokelatan, atau lebih gelap dibanding kulit sekitar.
“Keluhan pasien bukan hanya soal bentuknya yang mengganggu penampilan, tapi juga rasa gatal, nyeri, bahkan sensasi tertarik pada kulit,” terang dr. Itci.
Pada kasus tertentu, keloid yang tumbuh di dekat persendian dapat menyebabkan kulit terasa kaku dan mengganggu pergerakan tubuh.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan perubahan pada bekas luka yang tampak terus membesar.
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Meski umumnya tidak berbahaya, ada beberapa kondisi yang perlu segera diperiksakan ke dokter. Misalnya ketika keloid mengalami peradangan, terasa sangat nyeri, mengeluarkan cairan, atau berdarah.
“Kalau muncul nanah, kemerahan berlebihan, terasa panas, atau sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya jangan ditunda untuk konsultasi,” kata dr. Itci.
Dokter biasanya dapat mengenali keloid hanya melalui pemeriksaan fisik. Pemeriksaan tambahan jarang diperlukan kecuali terdapat kecurigaan penyakit kulit lain.
Menurut dr. Itci, pengobatan keloid membutuhkan kesabaran karena hasilnya tidak bisa diperoleh secara cepat. Selain itu, keloid juga memiliki risiko kambuh cukup tinggi.
Salah satu terapi yang paling sering digunakan adalah suntikan kortikosteroid langsung ke jaringan keloid. Terapi ini bertujuan membantu meratakan benjolan dan mengurangi rasa gatal.
Selain suntikan, penggunaan gel silikon atau lembaran silikon medis juga cukup efektif, terutama untuk keloid yang masih baru.
“Terapi silikon biasanya dipakai rutin selama beberapa bulan untuk membantu menekan pertumbuhan jaringan parut,” jelasnya.
Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat melakukan terapi laser atau krioterapi, yaitu pembekuan jaringan menggunakan nitrogen cair.
Sementara untuk keloid berukuran besar, operasi pengangkatan bisa menjadi pilihan. Namun tindakan operasi tetap perlu dikombinasikan dengan terapi tambahan agar keloid tidak tumbuh kembali.
Pencegahan Jadi Langkah Terbaik
Karena sulit dihilangkan sepenuhnya, pencegahan menjadi langkah paling penting terutama bagi orang yang memiliki riwayat keloid dalam keluarga.
Dr. Itci menyarankan agar masyarakat menghindari prosedur yang dapat melukai kulit bila memang tidak diperlukan, seperti tindik atau tato.
Selain itu, luka sekecil apa pun perlu dirawat dengan baik agar proses penyembuhan berlangsung optimal.
“Jangan memencet jerawat atau menggaruk luka karena bisa memperparah peradangan dan memicu jaringan parut berlebihan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan obat atau ramuan tanpa anjuran medis untuk menghilangkan keloid.
“Kalau memang punya kecenderungan keloid, konsultasi sejak awal lebih baik agar penanganannya tepat dan tidak semakin parah,” tutup dr. Itci.

