Insitekaltim, Samarinda – Remaja yang lebih banyak menghabiskan waktu, dengan aktivitas pasif dan kurang bergerak. Memiliki risiko lebih besar, mengalami gangguan metabolisme yang dapat berujung pada diabetes maupun hipertensi.
Selain faktor pola makan, rendahnya aktivitas fisik juga menjadi perhatian.
Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu faktor utama. Mendorong peningkatan kasus penyakit metabolik, pada usia produktif, bahkan anak-anak.
Penyakit tidak menular seperti diabetes melitus dan hipertensi kini tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut.
Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) mencatat, kedua penyakit tersebut mulai banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda.
“Memang semakin menyasar usia muda. Salah satu penyebabnya karena kebutuhan pangan sekarang semakin instan,” ujar Jaya, di Samarinda, Senin, 15 Juni 2026.
Menurutnya, kemudahan memperoleh makanan cepat saji membuat masyarakat semakin sering mengonsumsi makanan dengan kandungan garam, gula, dan lemak (GGL) yang tinggi.
Pola konsumsi tersebut, berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Selain faktor pola makan, rendahnya aktivitas fisik juga menjadi perhatian.
“Garam, gula, dan lemak semakin mudah didapat. Kemudian metabolisme tubuh, terutama pada anak-anak yang kurang gerak, juga menjadi faktor risiko meningkatnya penyakit,” katanya.
Jaya menjelaskan, kombinasi antara pola makan tinggi kalori dan minim aktivitas fisik dapat memicu obesitas sejak usia dini. Kondisi tersebut menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit kronis yang sebelumnya lebih banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa dan lanjut usia.
Karena itu, Dinkes Kaltim mengimbau masyarakat untuk mulai menerapkan pola hidup sehat melalui konsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi asupan gula, garam, dan lemak, serta meningkatkan aktivitas fisik secara rutin.
Langkah pencegahan sejak dini dinilai penting untuk menekan peningkatan kasus diabetes dan hipertensi yang kini semakin banyak menyerang generasi muda.

