Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Pemkot Samarinda Prioritaskan Insentif Guru, Skema Pembayaran 2027 Dikaji

    Oktober 10, 2026

    Polisi Mulai Selidiki Dugaan Kawat Medis Tertinggal di Jantung Pasien RSUD AWS

    Oktober 9, 2026

    Teguh Santosa Soroti Pembangunan Sahara Maroko dalam Forum Dekolonisasi PBB

    Oktober 9, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Samarinda»Legislasi Didominasi Eksekutif, Andi Harun Peringatkan Bahaya Penyalahgunaan Kekuasaan
    Samarinda

    Legislasi Didominasi Eksekutif, Andi Harun Peringatkan Bahaya Penyalahgunaan Kekuasaan

    Ratu ArifanzaBy Ratu ArifanzaApril 11, 2026Updated:Juli 2, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Wali Kota Samarinda, Andi Harun, saat mencari narasumber pada kegiatan Seminar Nasional bertema “Dampak Kualitas Legislasi Terhadap Kebijakan Pemerintah Daerah”.(Insitekaltim/Ratu)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Wali Kota Samarinda Andi Harun menyoroti kuatnya dominasi kekuasaan eksekutif dalam proses legislasi di Indonesia, yang berpotensi menjadikan hukum sebagai alat kekuasaan.

    Hal itu disampaikannya dalam Seminar Nasional bertema “Dampak Kualitas Legislasi Terhadap Kebijakan Pemerintah Daerah” yang digelar di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Samarinda, Sabtu 11 April 2026.

    Menurut Andi Harun, dalam praktik sistem demokrasi presidensial di Indonesia, kekuasaan legislasi justru lebih banyak berada di tangan eksekutif, baik presiden maupun kepala daerah.

    Ia mengutip pandangan Saldi Isra dalam bukunya Pergeseran Legislasi: Kekuasaan Legislasi, yang menyebut bahwa sebagian besar fungsi legislasi dikendalikan oleh eksekutif.

    “Kalau kekuasaan itu berlebih, maka produk hukum sering kali menjadi alat untuk memanjakan kekuasaan itu sendiri,” ujarnya.

    Ia menjelaskan, meskipun DPR dan DPRD memiliki fungsi legislasi seperti pengusulan dan pembahasan, keputusan akhir tetap sangat dipengaruhi oleh eksekutif, termasuk dalam tahap pengundangan.

    Bahkan, kata dia, dalam kondisi tertentu presiden memiliki kewenangan tambahan untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu), yang semakin memperkuat posisi eksekutif dalam sistem hukum.

    Andi Harun juga menyinggung kontroversi Undang-Undang Cipta Kerja yang dinilai menjadi contoh bagaimana kebijakan besar dapat lahir dari dominasi kekuasaan tersebut.

    Selain itu, ia mengkritik lemahnya sinkronisasi antar peraturan perundang-undangan, khususnya dalam sektor lingkungan dan sumber daya alam.

    Menurutnya, saat ini banyak regulasi sektoral yang tidak lagi merujuk pada  payung undang-undang, sehingga menimbulkan ketidak konsisten dalam penerapan hukum.

    “Dulu undang-undang lingkungan menjadi payung. Sekarang hampir semua regulasi seolah sederajat,” jelasnya.

    Ia juga menyoroti praktik “pinjam pakai” kawasan hutan yang dinilai menyimpang dari prinsip awal perlindungan lingkungan.

    Mengacu pada teori Hans Kelsen tentang hierarki norma, ia menegaskan bahwa peraturan yang lebih rendah seharusnya tidak bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi.

    “Kalau prinsip berjenjang ini tidak dijalankan, maka yang terjadi adalah kekacauan dalam sistem hukum kita,” tegasnya.

    Melalui forum tersebut, Andi Harun menekankan pentingnya pembatasan kekuasaan politik agar kualitas legislasi tetap terjaga dan tidak menyimpang dari prinsip hukum yang adil.

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Ratu Arifanza

    Related Posts

    Tanggap Darurat Samarinda Diperpanjang hingga 19 Oktober, Karhutla Capai 643 Hektare

    Oktober 8, 2026

    Disnaker Samarinda Kembangkan Auto-Matching AK1 untuk Percepat Pencari Kerja Temukan Lowongan

    Oktober 7, 2026

    Dua Bulan Padamkan Karhutla, 15 Relawan Samarinda Mengeluh Sesak Napas

    Oktober 7, 2026

    Seluruh Buaya Muara di Taman Satwa Palaran Direlokasi, Kolam Kini Kosong

    Oktober 5, 2026

    Harga Pertamax Naik, Pekerja di Samarinda Kurangi Pulang ke Marangkayu

    Oktober 3, 2026

    Peluang Hujan di Kaltim di Atas 90 Persen, Curahnya Masih Rendah

    Oktober 2, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Pemkot Samarinda Prioritaskan Insentif Guru, Skema Pembayaran 2027 Dikaji

    Ratu ArifanzaOktober 10, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda masih mengkaji kemungkinan pembayaran insentif guru setiap bulan…

    Polisi Mulai Selidiki Dugaan Kawat Medis Tertinggal di Jantung Pasien RSUD AWS

    Oktober 9, 2026

    Teguh Santosa Soroti Pembangunan Sahara Maroko dalam Forum Dekolonisasi PBB

    Oktober 9, 2026

    Anggaran RTLH Samarinda 2027 Belum Pasti, Wali Kota Pastikan Program Tetap Berjalan

    Oktober 9, 2026

    Musim Hujan Kaltim Baru Mulai November, El Nino Diprediksi Bertahan hingga 2027

    Oktober 9, 2026
    1 2 3 … 3,379 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.