Insitekaltim, Samarinda – Melemahnya nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS belum banyak memengaruhi kebiasaan sebagian pekerja muda untuk bekerja dari kafe. Bagi mereka, nongkrong di kafe tidak sekadar untuk hiburan, melainkan juga menjadi bagian dari kebutuhan kerja.
Yoga, seorang pekerja di sektor food and beverage (F&B) mengaku masih rutin bekerja dari kafe. Menurutnya, aktivitas tersebut lebih didorong kebutuhan pekerjaan dibanding sekadar mencari tempat nongkrong.
“Saya lebih suka work from cafe. Nongkrong di kafe lebih ke kebutuhan karena sekalian kerja juga. Dengan situasi ekonomi yang sekarang mungkin sedikit berpengaruh dalam memilih kafe, tapi enggak begitu berpengaruh,” ujarnya di Samarinda, Jumat, 5 Juni 2026.
Untuk menjaga pengeluaran tetap terkendali, Yoga mengatakan telah mengalokasikan anggaran khusus untuk kebutuhan ngopi setiap bulan. Ia menyiapkan dana sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta yang digunakan sekaligus untuk menunjang aktivitas kerjanya.
“Saya sudah misahin budget buat ngopi. Per bulan antara Rp800 ribu sampai maksimal Rp1 juta. Tapi itu sekalian buat kerja juga, jadi enggak masalah,” terangnya.
Yoga menyebut, seluruh biaya nongkrong tersebut berasal dari penghasilannya sendiri. Ia pun tidak selalu menghabiskan akhir pekan di kafe sehingga pendapatannya tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan hiburan.
“Saya nongkrong kalau memang ada kebutuhan kerja. Tiap weekend juga nggak ke kafe kalau nggak ada kebutuhan,” tuturnya.
Meski demikian, pria berusia 24 tahun itu tak menyangkal kenyataan bahwa kondisi ekonomi saat ini tetap memengaruhi pola konsumsi pribadinya. Ia melakukan penyesuaian lebih banyak pada pengeluaran makanan dibanding kebiasaan bekerja dari kafe.
“Kalau pengaruh ada sedikit. Mungkin lebih ke makanan. Kalau kopi di kafe sudah jadi kebutuhan yang susah dikurangi. Kalau makanan masih bisa cari alternatif yang lebih murah karena pilihannya lebih bervariasi,” pungkasnya.

