Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Beban Utang Masih Rp411 Miliar, Pemkot Andalkan Efisiensi dan Peningkatan PAD

    Juli 17, 2026

    Cuaca Ekstrem Ancam Latihan Paskibraka, Kesbangpol Atur Intensitas Demi Jaga Kondisi Peserta

    Juli 17, 2026

    Spanyol vs Argentina di Final Piala Dunia 2026, Duel Dominasi La Roja Kontra Mental Juara Albiceleste

    Juli 17, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Kesehatan»Kadinkes Samarinda Ajak Masyarakat Hapus Stigma Negatif terhadap ODHIV
    Kesehatan

    Kadinkes Samarinda Ajak Masyarakat Hapus Stigma Negatif terhadap ODHIV

    Nur AjijahBy Nur AjijahJuli 17, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Kadinkes Samarinda, Ismid Kusasih (Insitekaltim/Nur)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda Ismid Kusasih mengajak masyarakat, menghilangkan stigma terhadap orang dengan Human Immunodeficiency Virus HIV (ODHIV).

    Ismid Kusasih, mengatakan HIV dan AIDS merupakan kondisi yang berbeda. HIV masih dapat dikendalikan, melalui terapi antiretroviral (ARV). Sedangkan AIDS merupakan fase lanjut, ketika sistem kekebalan tubuh telah mengalami penurunan drastis.

    “Kalau sudah HIV, yang penting berobat secara teratur. Jangan sampai berkembang menjadi AIDS. Kalau sudah jatuh ke AIDS, kondisinya jauh lebih berat dan bisa mengancam nyawa,” ujarnya.

    Selama menjalani pengobatan secara rutin, penderita HIV dapat hidup sehat dan produktif. Hanya perlu diwaspadai, adalah ketika infeksi berkembang menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) karena dapat mengancam keselamatan jiwa.

    Ismid Kusasih, mengatakan HIV dan AIDS merupakan kondisi yang berbeda. HIV masih dapat dikendalikan melalui terapi antiretroviral (ARV), sedangkan AIDS merupakan fase lanjut ketika sistem kekebalan tubuh telah mengalami penurunan drastis.

    “Kalau sudah HIV, yang penting berobat secara teratur. Jangan sampai berkembang menjadi AIDS. Kalau sudah jatuh ke AIDS, kondisinya jauh lebih berat dan bisa mengancam nyawa,” ujarnya.

    Menurut Ismid, penderita HIV yang terdeteksi sejak dini dan disiplin menjalani pengobatan dapat bertahan hidup dalam kondisi sehat selama bertahun-tahun.

    Ia menegaskan, pemerintah telah menyediakan layanan pengobatan HIV secara gratis di sejumlah puskesmas dan rumah sakit di Samarinda sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap biaya terapi.

    “Pengobatan HIV ini gratis. Di beberapa puskesmas dan rumah sakit sudah tersedia layanan pengobatan,” katanya.

    Ismid juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma atau mendiskriminasi orang dengan HIV. Menurutnya, yang harus diperangi adalah penyakitnya, bukan penderitanya.

    “Jangan jauhi orangnya, tapi tinggalkan penyakitnya. Itu yang harus dipahami masyarakat,” tegasnya.

    Lebih lanjut, ia menilai penanganan HIV tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari dunia pendidikan, organisasi masyarakat, hingga komunitas yang bergerak di bidang pencegahan HIV.

    Dinkes Samarinda juga terus memperluas skrining dengan menggandeng organisasi yang memiliki fokus pada penanggulangan HIV agar semakin banyak kasus dapat ditemukan lebih dini dan segera mendapatkan pengobatan.

    Berdasarkan data Dinkes Samarinda, kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) masih menjadi kelompok dengan temuan kasus HIV terbanyak di Kota Tepian. Karena itu, edukasi dan skrining terhadap kelompok berisiko terus diperkuat sebagai bagian dari upaya menekan penyebaran HIV di Samarinda.

     

    Dinkes Samarinda HIV HIV AIDS Ismid Kusasih
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Nur Ajijah

    Related Posts

    Perkuat Deteksi Dini, Dinkes Samarinda Catat Hingga Mei 2026, Sudah 29 Kematian Akibat AIDS

    Juli 16, 2026

    Dinkes Kota Samarinda Genjot Skrining HIV, Baru Capai 45 Persen, Dari Target 43.189 Sasaran

    Juli 15, 2026

    Lampaui Target Nasional, Stunting di Samarinda Turun Jadi 17,13 Persen

    Juli 14, 2026

    Program MBG Belum Bisa Jadi Tolok Ukur Penurunan Stunting di Samarinda

    Juli 13, 2026

    Cegah Anak Stunting, Kini Periksa Kehamilan Wajib Delapan Kali

    Juli 12, 2026

    Dinkes Kaltim Perkuat Skrining dan Pengobatan Terhadap Masyarakat yang Terpapar HIV

    Juli 11, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    Anda harus masuk untuk berkomentar.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Beban Utang Masih Rp411 Miliar, Pemkot Andalkan Efisiensi dan Peningkatan PAD

    SittiJuli 17, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda masih menyisakan beban kewajiban pembayaran sekitar Rp411,01 miliar…

    Cuaca Ekstrem Ancam Latihan Paskibraka, Kesbangpol Atur Intensitas Demi Jaga Kondisi Peserta

    Juli 17, 2026

    Spanyol vs Argentina di Final Piala Dunia 2026, Duel Dominasi La Roja Kontra Mental Juara Albiceleste

    Juli 17, 2026

    Anggaran Logistik Dinsos Samarinda Untuk Penanggulangan Bencana Tetap Aman

    Juli 17, 2026

    Kadinkes Samarinda Ajak Masyarakat Hapus Stigma Negatif terhadap ODHIV

    Juli 17, 2026
    1 2 3 … 3,220 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.