Insitekaltim, Samarinda – Inflasi tahunan Kalimantan Timur (Kaltim) mencapai 4,04 persen pada Oktober 2026. Kenaikan harga paling besar berasal dari kelompok transportasi dan makanan, minuman, serta tembakau.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai, mengatakan kelompok transportasi mengalami inflasi tahunan sebesar 9,85 persen dengan andil 1,27 persen terhadap inflasi Kaltim.
“Kelompok transportasi mengalami inflasi 9,85 persen dengan andil terhadap inflasi tahunan 1,27 persen,” ujar Mas’ud dalam keterangan resminya dikutip, Selasa, 3 November 2026.
Selain transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tahunan sebesar 5,68 persen. Kelompok ini justru memberikan andil paling besar terhadap inflasi, yakni 1,70 persen.
Kenaikan harga juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 5,18 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 2,95 persen, serta pendidikan 2,25 persen.
Pada pergerakan bulanan, sejumlah komoditas pangan menjadi pemicu kenaikan harga. Cabai rawit, tomat, kacang panjang, jagung manis, sawi hijau, cabai merah, dan jeruk nipis masuk dalam daftar komoditas yang dominan memberikan andil inflasi.
Mas’ud menyebut kenaikan harga pada Oktober juga dipengaruhi komoditas di luar pangan.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi m-to-m antara lain cabai rawit, tomat, kacang panjang, angkutan udara, jagung manis, sawi hijau, cabai merah, dan jeruk nipis atau limau,” ujarnya.
Di tengah kenaikan tersebut, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga. Ikan layang atau ikan benggol dan daging ayam ras menjadi komoditas yang memberikan andil deflasi pada Oktober.
Secara bulanan, kelompok transportasi mengalami inflasi 0,42 persen. Sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru mengalami deflasi 0,14 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga bulanan tidak terjadi merata pada seluruh kelompok pengeluaran.
Adapun secara tahunan, inflasi Kaltim sebesar 4,04 persen masih lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat 3,23 persen pada Oktober 2026.

