Insitekaltim, Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Kota Samarinda masih berulang. Salah satu titik yang menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda berada di Kecamatan Sambutan, khususnya Kelurahan Sungai Kapih dan Makroman.
Kondisi tersebut mendorong perlunya penanganan tambahan melalui jalur udara. BPBD Samarinda berharap pemerintah pusat segera merealisasikan dukungan water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu pemadaman yang selama ini mengandalkan Satgas darat.
Kepala Pelaksana BPBD Samarinda, Suwarso, mengatakan Kalimantan Timur (Kaltim) telah masuk dalam wilayah prioritas penanganan karhutla. Tim ahli dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga telah melakukan survei lapangan untuk memetakan kondisi kebakaran sekaligus mengidentifikasi sumber-sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk pemadaman.
Menurutnya, hasil survei tersebut diharapkan segera menjadi dasar pengambilan keputusan terkait pengerahan dukungan penanganan melalui jalur udara.
“Mudah-mudahan setelah beberapa hari bekerja di Samarinda, tim BNPB ini bisa memutuskan untuk segera melakukan tindakan penanganan dari sisi udara,” ujar Suwarso, Senin, 2 November 2026.
Ia menyebut, upaya pemadaman melalui jalur udara dibutuhkan untuk memperkuat kerja Satgas darat yang selama ini telah melakukan penanganan di sejumlah titik kebakaran.
“Ini saya sampaikan juga, kita butuh pemadaman dari Satgas udara, baik itu water bombing maupun OMC,” katanya.
Di sisi lain, ancaman karhutla terhadap permukiman warga juga mulai terlihat. Salah satunya terjadi di kawasan Jalan Padat Karya, Kelurahan Sungai Kapih. Api dilaporkan pernah mendekati permukiman dengan jarak sekitar lima meter.
Suwarso mengatakan, petugas segera melakukan pemblokiran api untuk mencegah kebakaran meluas ke rumah warga. Penanganan juga diprioritaskan pada pondok dan bangunan yang berada di sekitar titik kebakaran agar tidak menimbulkan kerugian lebih besar.
Ancaman serupa sebelumnya terjadi di kawasan Pelita 8 sekitar sebulan lalu. Kebakaran di kawasan tersebut berdampak terhadap 22 bangunan rumah kosong yang tidak berpenghuni.
Suwarso menjelaskan, kondisi vegetasi yang dipenuhi rumput tinggi membuat batas antara lahan terbuka dan bangunan sulit dikenali. Lahan bergambut serta angin kencang turut mempercepat perambatan api hingga mencapai bangunan.
“Ada 22 bangunan rumah kosong tidak ada penghuni. Rumputnya tinggi, sampai kita susah memisahkan antara rumah atau hutan karena memang tertutupi rumput yang sangat tinggi. Ketika angin kencang, api merambat dan berdampak ke bangunan,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan 22 bangunan tersebut tidak seluruhnya terbakar habis, melainkan terdampak kebakaran.
Untuk wilayah dengan kejadian kebakaran berulang, Kecamatan Sambutan menjadi salah satu kawasan yang paling mendapat perhatian BPBD. Kelurahan Makroman termasuk wilayah dengan luasan kebakaran yang cukup besar.
Sementara itu, Sungai Kapih juga tercatat mengalami kebakaran berulang. Bahkan, berdasarkan pemantauan BPBD, kebakaran di kawasan tersebut terjadi hampir setiap hari selama lima hari terakhir.
Wilayah Sungai Kapih yang berbatasan dengan Kelurahan Sambutan dan Kelurahan Pulau turut menjadi perhatian dalam upaya pengendalian karhutla.

