Insitekaltim, Samarinda – Beban tanggungan keluarga menjadi salah satu tantangan ekonomi yang dihadapi penduduk miskin di Kalimantan Timur (Kaltim). Rata-rata rumah tangga miskin memiliki 5,3 anggota keluarga, sementara 55 persen penduduk miskin tercatat tidak bekerja.
Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai menjelaskan, jumlah anggota keluarga dalam rumah tangga miskin cenderung lebih besar dibandingkan rumah tangga tidak miskin. Rata-rata rumah tangga tidak miskin memiliki 3,9 anggota keluarga.
“Kalau di rumah tangga miskin, rata-rata anggota keluarganya itu di 5,3-an. Jadi ada lima, ada enam anggota keluarganya. Kira-kira begitu. Jadi lebih besar anggota keluarganya,” kata Mas’ud di Kantor Gubernur Kaltim, Rabu, 28 Oktober 2026.
Di sisi lain, sekitar 55 persen penduduk miskin tidak bekerja, sedangkan 45 persen lainnya bekerja. Kondisi ini memperlihatkan bahwa sebagian rumah tangga miskin harus memenuhi kebutuhan lebih banyak anggota keluarga dengan sumber penghasilan yang terbatas.
Dari kelompok penduduk miskin yang tidak bekerja, sekitar 40 persen merupakan pengurus rumah tangga dan 15 persen lainnya masih bersekolah atau berstatus pelajar. Sementara itu, penduduk miskin yang bekerja banyak ditemukan di sektor perkebunan, perdagangan, dan pekerja rumah tangga.
Proporsi penduduk miskin yang bekerja di sektor perkebunan tercatat sekitar 15,5 persen, perdagangan 14,4 persen, dan pekerja rumah tangga sekitar 10 persen.
Mas’ud mengingatkan, kondisi penduduk miskin tidak bisa dipukul rata karena latar belakang dan kebutuhan setiap keluarga berbeda.
Karena itu, penanganan kemiskinan perlu mempertimbangkan keadaan masing-masing kelompok, termasuk pekerjaan dan kemampuan mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Walaupun sama-sama miskin, tetapi sepertinya mereka berbeda-beda,” tegasnya.
Karakteristik kemiskinan juga terlihat dari tingkat pendidikan kepala rumah tangga, sekitar 45,2 persen kepala rumah tangga miskin berpendidikan sekolah dasar, 12,6 persen berpendidikan sekolah menengah pertama, dan sekitar 25 persen berpendidikan sekolah menengah atas.
Di sisi tempat tinggal, sekitar 67 persen penduduk miskin tercatat menempati rumah milik sendiri. Sementara itu, sekitar 20 persen tinggal di rumah tanpa membayar sewa dan 11,6 persen menempati rumah kontrakan atau sewaan.
Kepadatan hunian juga menjadi bagian dari gambaran kondisi rumah tangga miskin. Sekitar 78 persen rumah dihuni satu keluarga, sedangkan 21 persen lainnya ditempati dua keluarga atau lebih.
Dari sisi pengeluaran, komponen makanan masih mendominasi garis kemiskinan Kaltim, dengan porsi sekitar 70 persen. Artinya, pemenuhan kebutuhan pangan menjadi komponen utama dalam penghitungan garis kemiskinan, di samping kebutuhan nonmakanan yang mencakup sekitar 29,74 persen.

