Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Miris, Anggaran Pembinaan Atlet Samarinda Seret Hanya Dialokasikan Rp100 Juta

    Juli 5, 2026

    Produktivitas Padi Kaltim Ditarget Naik Jadi 7 Ton per Hektare Lewat PMAAS

    Juli 5, 2026

    Pendidikan Masih Jadi Korban, Pengamat Kritik Prioritas Anggaran Pemerintah

    Juli 5, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Samarinda»Imlek dalam Balutan Sederhana: Doa, Angpao, dan Toleransi di Rumah Sunjaya
    Samarinda

    Imlek dalam Balutan Sederhana: Doa, Angpao, dan Toleransi di Rumah Sunjaya

    AbdiBy AbdiFebruari 17, 202603 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Suasana hangat kebersamaan keluarga saat perayaan Imlek di rumah Sunjaya (Insitekaltim/Abdi)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda — Gema Tahun Baru Imlek 2577 (2026) di Kota Samarinda mungkin tak semeriah perayaan di kota-kota dengan populasi besar warga keturunan Tionghoa. Namun, di balik pagar rumah Sunjaya, kehangatan Imlek terasa begitu nyata hadir dalam kesederhanaan, doa, dan kebersamaan lintas latar belakang.

    Bagi Sunjaya, warga keturunan Tionghoa yang menetap di Samarinda, Imlek bukan sekadar pergantian tahun, melainkan momen sakral untuk merawat tradisi leluhur sekaligus mempererat jalinan kebinekaan di lingkungan tempat tinggalnya.

    Menjelang hari perayaan, Sunjaya telah memulai ritual bersih-bersih rumah. Tradisi ini dimaknainya sebagai simbol membuang nasib buruk tahun lalu dan menyambut keberuntungan yang baru. Meja tamu dipenuhi kue khas Imlek dan bingkisan sederhana yang disiapkan untuk menjamu siapa saja yang berkunjung.

    “Kalau kami yang merayakan, ya bersih-bersih rumah, siap-siap bikin kue, bingkisan, buat menjamu tamu. Kebetulan saya masih memeluk Konghucu, jadi fokusnya adalah doa dan rasa syukur,” ujar Sunjaya saat ditemui di kediamannya, Selasa, 17 Februari 2026.

    Dalam obrolan santai tersebut, Sunjaya menegaskan bahwa Imlek sejatinya adalah perayaan budaya, bukan semata-mata hari besar keagamaan. Hal inilah yang membuat perayaan Imlek di keluarga dan lingkungannya berlangsung cair serta terbuka bagi siapa saja.

    “Sebenarnya Imlek itu bukan hari agama. Ini pergantian tahun menurut penanggalan lunar atau Chinese. Jadi siapa pun yang mau merayakan, silakan. Yang tidak pun tidak masalah,” jelasnya.

    Keterbukaan itu tercermin dari tamu yang hadir. Kerabat, tetangga, hingga petugas keamanan dan juru parkir di sekitar tempat usahanya turut berbaur tanpa sekat. Sunjaya pun bercerita bahwa di dalam keluarganya sendiri terdapat beragam latar belakang keyakinan, mulai dari Islam, Buddha, hingga Nasrani.

    Tak lengkap rasanya Imlek tanpa dominasi warna merah dan tradisi berbagi angpao. Bagi Sunjaya, merah bukan sekadar warna, melainkan simbol harapan akan rezeki dan kesejahteraan di tahun yang baru.

    “Identiknya pasti angpao, karena merah itu melambangkan rezeki. Jadi kami warga keturunan ini fokusnya rezeki. Cuan, cuan, cuan,” ujarnya sambil tersenyum.

    Meski perayaan Imlek di Samarinda berlangsung relatif tenang, mengingat jumlah warga keturunan Tionghoa di Kalimantan Timur tidak sebanyak daerah lain, Sunjaya menilai keakraban antarwarga justru terjaga kuat. Tanpa perayaan besar, silaturahmi personal menjadi kekuatan utama.

    Ia juga menekankan pentingnya prinsip timbal balik dalam bertoleransi. Menurutnya, kunjungan saat Imlek adalah balasan dari kunjungan pada hari-hari besar lainnya.

    “Nanti kalau Lebaran kita ke sana. Ada yang Natal, kita juga datang. Kita membaur semua. Dari momen seperti ini, pertemanan jadi akrab,” ungkapnya.

    Meski dirayakan secara sederhana oleh keluarga sederhana, esensi Imlek tetap tersampaikan doa yang tulus, harapan rezeki yang lancar, dan persaudaraan yang tak terputus oleh perbedaan keyakinan maupun ideologi.

     

    Imlek Imlek 2026 Sunjaya Tahun Baru Imlek
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Abdi

    Related Posts

    Satpol PP Akui Tak Bisa Bergerak Sendiri, Dukungan Polresta Dinilai Krusial Saat Penegakan Perda

    Juli 1, 2026

    Hari Bhayangkara ke-80, Polresta Samarinda Komitmen Tingkatkan Profesionalisme

    Juli 1, 2026

    PT PSB Persilakan Sengketa Ketenagakerjaan hingga Dugaan Pelanggaran Diuji di Pengadilan

    Juni 30, 2026

    Blasting PT PSB Disorot, Warga Keluhkan Debu Ganggu Kesehatan Anak hingga Air Hujan

    Juni 29, 2026

    Haraku Ramen Hadir Ramaikan Kuliner di Big Mall Samarinda

    Juni 26, 2026

    Kearifan Dayak Kenyah Jadi Pelajaran Menjaga Alam dan Identitas Samarinda

    Juni 25, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Miris, Anggaran Pembinaan Atlet Samarinda Seret Hanya Dialokasikan Rp100 Juta

    SittiJuli 5, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Alokasi anggaran untuk sektor pembinaan dan peningkatan prestasi atlet di Kota Samarinda…

    Produktivitas Padi Kaltim Ditarget Naik Jadi 7 Ton per Hektare Lewat PMAAS

    Juli 5, 2026

    Pendidikan Masih Jadi Korban, Pengamat Kritik Prioritas Anggaran Pemerintah

    Juli 5, 2026

    Bankeu Rp6,8 Miliar Pemprov Kaltim Bantu Muluskan Jalan Asa-Juaq Asa

    Juli 4, 2026

    Bapemperda Matangkan Perda Lingkungan Hidup, Segera Masuk Tahap Harmonisasi

    Juli 4, 2026
    1 2 3 … 3,191 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.