Insitekaltim, Samarinda – Tingginya ketergantungan daerah terhadap pasokan barang dari luar wilayah, yang seluruh proses distribusinya bergantung pada moda transportasi.
Akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), sangat berdampak terhadap laju inflasi dan kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok di Kalimantan Timur (Kaltim).
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (DPPKUKM) Kaltim, Heni Purwaningsih, mengatakan sebelum adanya kenaikan BBM, inflasi di Kaltim relatif stabil, meski berada pada tingkat harga yang cukup tinggi.
Menurutnya, masyarakat kerap keliru memaknai inflasi. Inflasi yang rendah bukan berarti harga barang murah, melainkan menunjukkan pergerakan kenaikan dan penurunan harga berlangsung stabil.
“Inflasi Kaltim sebelum kenaikan BBM itu relatif stabil, tetapi berada pada harga yang tinggi. Jadi inflasi tidak hanya dimaknai harga murah, tetapi bagaimana stabilitas naik turunnya harga,” ujarnya di Kantor Gubernur, Senin, 29 Juni 2026.
Heni menjelaskan, kebijakan kenaikan BBM hampir dipastikan akan memengaruhi biaya distribusi barang sehingga berimbas pada kenaikan harga di tingkat konsumen.
“Kalau ada kenaikan BBM, tentu pasti berdampak. Semua aspek distribusi menggunakan moda transportasi, baik darat, laut maupun udara. Jadi biaya distribusi meningkat dan harga barang juga ikut terdorong naik,” katanya.
Ia menambahkan, Kaltim bukan merupakan daerah produsen untuk sebagian besar kebutuhan pokok.
Pasokan pangan dan berbagai komoditas, masih didatangkan dari luar daerah. Sehingga biaya transportasi menjadi salah satu faktor utama pembentuk harga.
“Untuk sampai ke sini pasti menggunakan transportasi yang seluruhnya membutuhkan BBM,” jelasnya.
Meski demikian, Heni belum dapat memastikan besaran dampak kenaikan BBM terhadap inflasi daerah.
Ia menyarankan, agar angka terbaru mengacu pada data resmi Badan Pusat Statistik (BPS).
“Persentasenya saya belum melihat data terbaru. Tapi yang jelas kenaikan BBM pasti berdampak terhadap inflasi dan harga barang,” ucapnya.
Selain dipengaruhi kebijakan BBM, menurut Heni, kondisi perekonomian global juga turut memberi tekanan terhadap harga komoditas. Termasuk akibat dinamika geopolitik internasional, yang berdampak pada biaya logistik dan rantai pasok.
Berdasarkan data Bank Indonesia, inflasi Kaltim Mei 2026 tercatat sebesar 0,17 persen secara bulanan (month to month/mtm), meningkat dibanding April 2026 yang sebesar 0,11 persen.
Sementara secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Kaltim mencapai 3,04 persen, dengan inflasi tahun kalender (year to date/ytd) sebesar 1,65 persen.
Data tersebut menunjukkan, adanya tren kenaikan harga yang perlu terus diwaspadai, terlebih setelah adanya penyesuaian harga BBM.

