Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Andi Harun Soroti Temuan BPK Berulang, Dorong Sistem APBD Terintegrasi

    September 3, 2026

    Bukan Sekadar Penghargaan, Andi Harun Ingin ASN Award Bentuk Budaya Kinerja

    September 3, 2026

    Tarik Ulur Cabor Berakhir, Porprov Kaltim VIII Tetapkan 59 Cabor

    September 3, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Kaltim»Dari Toko Karpet Sepi ke Galeri Seni, Perjuangan Ramadhan Bangun Pameran Ilustrasi Terbesar di Kaltim Tanpa Dukungan Dana
    Kaltim

    Dari Toko Karpet Sepi ke Galeri Seni, Perjuangan Ramadhan Bangun Pameran Ilustrasi Terbesar di Kaltim Tanpa Dukungan Dana

    Andika SaputraBy Andika SaputraApril 13, 2026Updated:Juli 2, 202604 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Founder Samarinda Design Hub, Ramadhan S. Pernyata saat menceritakan pengalaman dan perjuangannya (Insitekaltim/Andika)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Berangkat dari keresahan pribadi hingga keterbatasan fasilitas seni di daerah, Ramadhan S. Pernyata yang merupakan Founder Samarinda Design Hub, berhasil membangun ruang kreatif mandiri yang kini dikenal sebagai salah satu pameran ilustrasi terbesar di Kalimantan Timur (Kaltim).

    Ramadhan yang juga merupakan komite penggagas sekaligus partisipan mengungkapkan, ide awal pameran ini muncul karena tidak adanya ruang yang secara khusus mengangkat cerita Kota Samarinda melalui karya visual.

    “Kenapa saya bikin ini? Karena nggak ada yang bikin. Selama ini belum pernah ada pameran yang benar-benar bercerita tentang Samarinda lewat gambar,” ujarnya saat diwawancara Minggu 12 April 2026.

    Ia menuturkan awalnya kegiatan serupa sempat dilakukan di lingkungan kampus. Namun seiring waktu berbagai keterbatasan membuatnya memutuskan untuk memanfaatkan ruang pribadinya.

    Tempat yang digunakan saat ini pun memiliki cerita tersendiri. Dulunya merupakan toko karpet miliknya yang mengalami penurunan ekonomi hingga sepi pengunjung.

    “Karena toko karpet sepi dan barang sudah tidak di-stock, akhirnya saya sulap tempat ini jadi galeri desain,” jelasnya.

    Sebagai lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Teknologi Bandung (ITB) sekitar 20 tahun lalu, Ramadhan mengaku merindukan suasana berkarya seperti saat kuliah. Namun ketika kembali ke Samarinda ia tidak menemukan ruang seni yang memadai.

    “Di sini nggak ada fakultas desain nggak ada galeri seni. Tapi kota ini berani menyebut dirinya pusat peradaban. Kalau berani klaim, harus berani bukti,” tegasnya.

    Berbekal tekad tersebut sejak 2018 ia mulai membangun pameran secara bertahap dengan mengajak rekan-rekan kreatif di Samarinda. Kini, pameran tersebut telah berjalan hingga tujuh kali penyelenggaraan.

    Setiap pameran, selalu didokumentasikan dalam bentuk katalog sebagai bukti karya. Bahkan, katalog tersebut telah menembus perpustakaan internasional.

    “Katalog kami sudah dikirim ke Library of Congress dan Leiden University. Jadi karya dari Samarinda sudah sampai ke sana,” ungkapnya.

    Pameran yang ia bangun tidak hanya menampilkan karya visual tetapi juga mengangkat narasi lokal. Mulai dari makanan khas seperti nasi kuning, mandai, hingga cerita tentang kawasan seperti Jalan Raudah, Karang Mumus, hingga Samarinda Utara.

    Konsep pameran tahun ini mengusung tema kenangan kolektif warga Samarinda atau graphic memoir yang diikuti oleh 20 partisipan dari berbagai latar belakang, bahkan bukan mahasiswa.

    “Ini tentang memori. Ada yang cerita soal masa kecil, ada yang tentang kota yang berubah, bahkan lapangan yang sekarang sudah jadi taman,” katanya.

    Meski terlihat berkembang perjalanan tersebut tidaklah mudah. Ramadhan mengaku selama tujuh tahun penyelenggaraan seluruh kegiatan dilakukan secara mandiri tanpa dukungan pendanaan dari pemerintah.

    “Kalau undangan datang ada tapi dukungan dana tidak ada. Semua murni dari kami sendiri,” tegasnya.

    Keterbatasan tim juga menjadi tantangan tersendiri. Ia hanya dibantu oleh empat orang dalam proses persiapan pameran.

    Selain itu, kondisi kesehatan juga sempat menjadi hambatan. Ramadhan mengungkapkan bahwa fungsi jantungnya hanya tersisa sekitar 17 persen dan mengalami gangguan ginjal kronis.

    “2025 kemarin saya tidak bisa bikin karena kondisi kesehatan. Tapi sebelum saya habis, saya ingin tetap bikin karya seperti ini,” ucapnya.

    Tak hanya pameran ia juga aktif mendorong mahasiswa untuk menghasilkan karya desain yang solutif terhadap permasalahan kota. Mulai dari desain rombong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), tempat duduk taman, hingga konsep kendaraan saat banjir.

    Namun hingga kini ide-ide tersebut belum diimplementasikan oleh pihak terkait.

    “Banyak desain sudah dibuat, tapi belum ada yang dipakai. Padahal itu solusi untuk kota,” ungkapnya.

    Ramadhan juga mencatat bahwa pada tahun 2024, pamerannya melibatkan 73 ilustrator dari seluruh Indonesia dengan lebih dari 200 karya dari 6 provinsi dan 14 kota.

    Ia bahkan sempat mendapat tawaran dari mantan Penjabat (Pj) Gubernur Kaltim Akmal Malik untuk membuat proyek ilustrasi Ibu Kota Nusantara (IKN), namun rencana tersebut tertunda karena kondisi kesehatannya.

    Ke depan ia berharap dapat terus berkarya dan memperluas skala pameran, sekaligus mendorong semangat para seniman lokal.

    “Harapan saya sederhana semoga saya tetap sehat dan bisa bikin yang lebih besar lagi. Untuk teman-teman, tetap berkarya walaupun AI semakin berkembang,” tuturnya.

    Ia juga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap gerakan kreatif yang telah berjalan secara mandiri selama bertahun-tahun.

    “Selama tujuh tahun ini kami jalan sendiri. Harusnya ini bisa jadi bahan pemikiran bersama,” pungkasnya.

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Andika Saputra

    Related Posts

    9 Jam Berjibaku, Warga dan Relawan Padamkan Kebakaran 4 Hektare di Prangat Baru

    Agustus 19, 2026

    Impian Sejak SMP Terwujud, Beatrice Limbong Jadi Pembawa Baki HUT ke-81 RI di Kaltim

    Agustus 17, 2026

    BMKG Catat 78 Titik Panas di Kaltim, Puncak Kemarau Diprediksi Terjadi Agustus

    Juli 19, 2026

    Kaltim Bidik Pertahankan Juara Umum MTQN, LPTQ Tekankan Pembinaan Berbasis Pengabdian

    Juli 14, 2026

    Produksi Ikan Kaltim Meningkat, DKP Pastikan Pasok Bahan Baku MBG Aman

    Juli 13, 2026

    PT PSB Hanya Kirim Kuasa Hukum, Komisi IV DPRD Kaltim Tunda Pembahasan Hasil Supervisi

    Juni 29, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Andi Harun Soroti Temuan BPK Berulang, Dorong Sistem APBD Terintegrasi

    Andika SaputraSeptember 3, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Wali Kota Samarinda Andi Harun mendorong pembenahan sistem pengelolaan pemerintahan melalui Corporate…

    Bukan Sekadar Penghargaan, Andi Harun Ingin ASN Award Bentuk Budaya Kinerja

    September 3, 2026

    Tarik Ulur Cabor Berakhir, Porprov Kaltim VIII Tetapkan 59 Cabor

    September 3, 2026

    Kualitas Udara Samarinda Tembus 100, Pemkot Belum Liburkan Sekolah

    September 3, 2026

    Sehat Tak Cukup dengan Olahraga, Udara yang Dihirup Juga Harus Dijaga

    September 3, 2026
    1 2 3 … 3,317 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.