Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    1.040 Mahasiswa di Berau Terima Gratispol Rp4,49 Miliar, Gubernur: Investasi SDM Kaltim

    Juli 23, 2026

    Rudy Mas’ud Ingatkan Orang Tua, Kehangatan Keluarga Tak Boleh Kalah dari Gawai

    Juli 23, 2026

    Porprov VIII Jadi Ajang Seleksi Awal Atlet Bulu Tangkis Menuju Prapon

    Juli 23, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Ekonomi»Dari Rumah Cagar Budaya, Tenun Samarinda Terus Menghidupi Generasi
    Ekonomi

    Dari Rumah Cagar Budaya, Tenun Samarinda Terus Menghidupi Generasi

    Andika SaputraBy Andika SaputraMaret 31, 2026Updated:Juli 2, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Owner Rumah Sarung Tenun, Fatmawati saat memperlihatkan produk tenun yang dijualnya (Insitekaltim/Andika)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Usaha sarung tenun khas Samarinda terus bertahan sebagai warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun, sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat di kawasan Samarinda Seberang, Kota Samarinda

    Owner Rumah Sarung Tenun Fatmawati mengungkapkan, dirinya melanjutkan usaha keluarga yang telah ada sejak sebelum dirinya lahir pada 1968, di rumah yang kini juga termasuk bangunan cagar budaya.

    “Saya ini meneruskan usaha orang tua. Dari dulu memang keluarga kami sudah menenun di sini,” ujarnya saat diwawancara, Selasa 31 Maret 2026.

    Dalam produksinya berbagai motif khas tetap dipertahankan, seperti balo hatta, belang negara, hingga pucuk rebung. Selain itu ia juga mengembangkan motif baru dengan pewarna alami.

    “Sekarang ada juga motif dengan pewarna alami dari indigo dan serat kulit, supaya lebih ramah lingkungan,” jelasnya.

    Harga sarung tenun bervariasi mulai dari Rp350 ribu hingga Rp1,5 juta per lembar tergantung motif, tingkat kerumitan, serta jenis pewarna yang digunakan.

    Menurutnya bahan baku benang masih didatangkan dari luar daerah karena kondisi cuaca lokal yang tidak menentu menyulitkan produksi bahan secara mandiri.

    Meski demikian regenerasi pengrajin terus diupayakan. Ia menyebut generasi muda tetap disiapkan sebagai penerus meski proses belajar menenun membutuhkan waktu dan ketekunan.

    “Belajar menenun itu tidak mudah saya sendiri dulu butuh sekitar tiga bulan baru bisa,” katanya.

    Dari sisi pemasaran produk sarung tenun Samarinda telah menjangkau berbagai daerah, bahkan hingga luar negeri seperti Brunei dan Malaysia. Wisatawan mancanegara juga kerap datang langsung untuk membeli.

    “Kalau orang Brunei itu biasanya kalau liburan pasti ke sini, karena mereka suka sarung tenun,” ungkapnya.

    Tak hanya itu, ia juga aktif mengikuti pameran baik di dalam maupun luar negeri, termasuk hingga Yordania melalui fasilitasi pemerintah.

    Selain pasar umum produk tenun ini juga diminati kalangan pejabat. Ia menyebut sejumlah tokoh nasional termasuk istri Jusuf Kalla dan pejabat kementerian, pernah membeli produknya.

    Dalam perjalanannya usaha ini juga mendapat pembinaan dari Bank Indonesia, yang turut membantu peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan promosi.

    Namun demikian ia mengakui produksi dan penjualan masih sangat dipengaruhi kondisi ekonomi, terutama sektor tambang dan perkebunan yang menjadi pasar utama.

    “Kalau ekonomi tambang naik, biasanya penjualan kami juga ikut naik. Tapi kalau turun, kami juga ikut terdampak,” jelasnya.

    Ia menegaskan kunci bertahan dalam usaha tenun adalah semangat dan konsistensi dalam menjaga kualitas serta budaya yang diwariskan.

    “Kalau tidak semangat, walaupun ada modal, usaha ini tidak akan jalan,” pungkasnya.

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Andika Saputra

    Related Posts

    Sensus Ekonomi Samarinda Capai 57 Persen, BPS Hadapi Tantangan Kepercayaan Masyarakat

    Juli 23, 2026

    Pemkot Dorong Urban Farming sebagai Strategi Jangka Panjang Kendalikan Inflasi

    Juli 23, 2026

    DWP Kaltim Dorong Pemberdayaan Anggota Lewat Peluang Ekonomi Kreatif Hampers

    Juli 22, 2026

    Antrean SPBU Dinilai Dipicu Selisih Harga BBM, Dishub Usulkan Penataan Distribusi Pertalite

    Juli 22, 2026

    Pemda Samarinda Siapkan Parkir Berlangganan, Sebagai Sumber PAD Baru

    Juli 21, 2026

    Ribuan Kios Pasar Pagi Belum Aktif, Berakibat Potensi Ekonomi Belum Tergarap Maksimal

    Juli 20, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    1.040 Mahasiswa di Berau Terima Gratispol Rp4,49 Miliar, Gubernur: Investasi SDM Kaltim

    R’syaJuli 23, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Sebanyak 1.040 mahasiswa dari tiga perguruan tinggi di Kabupaten Berau mulai merasakan…

    Rudy Mas’ud Ingatkan Orang Tua, Kehangatan Keluarga Tak Boleh Kalah dari Gawai

    Juli 23, 2026

    Porprov VIII Jadi Ajang Seleksi Awal Atlet Bulu Tangkis Menuju Prapon

    Juli 23, 2026

    Gelombang Sedang Landa Pesisir Kaltim, Nelayan Harus Pantau Prakiraan BMKG Sebelum Melaut

    Juli 23, 2026

    Andi Harun Pilih Tahan Sejumlah Program Demi Jaga TPP ASN

    Juli 23, 2026
    1 2 3 … 3,235 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.