Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    RKAB dan Ekspor Tambang Diambil Pusat, Bisnis Perusda Kaltim Ikut Tertekan

    September 18, 2026

    DPRD Kaltim Minta Penjelasan PLN soal Pemadaman dan Gangguan Empat Pembangkit

    September 18, 2026

    Udara Samarinda Memburuk, 3.000 Masker Demokrat Ludes Kurang dari 30 Menit

    September 18, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Ekonomi»Dari Rumah Cagar Budaya, Tenun Samarinda Terus Menghidupi Generasi
    Ekonomi

    Dari Rumah Cagar Budaya, Tenun Samarinda Terus Menghidupi Generasi

    Andika SaputraBy Andika SaputraMaret 31, 2026Updated:Juli 2, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Owner Rumah Sarung Tenun, Fatmawati saat memperlihatkan produk tenun yang dijualnya (Insitekaltim/Andika)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Usaha sarung tenun khas Samarinda terus bertahan sebagai warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun, sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat di kawasan Samarinda Seberang, Kota Samarinda

    Owner Rumah Sarung Tenun Fatmawati mengungkapkan, dirinya melanjutkan usaha keluarga yang telah ada sejak sebelum dirinya lahir pada 1968, di rumah yang kini juga termasuk bangunan cagar budaya.

    “Saya ini meneruskan usaha orang tua. Dari dulu memang keluarga kami sudah menenun di sini,” ujarnya saat diwawancara, Selasa 31 Maret 2026.

    Dalam produksinya berbagai motif khas tetap dipertahankan, seperti balo hatta, belang negara, hingga pucuk rebung. Selain itu ia juga mengembangkan motif baru dengan pewarna alami.

    “Sekarang ada juga motif dengan pewarna alami dari indigo dan serat kulit, supaya lebih ramah lingkungan,” jelasnya.

    Harga sarung tenun bervariasi mulai dari Rp350 ribu hingga Rp1,5 juta per lembar tergantung motif, tingkat kerumitan, serta jenis pewarna yang digunakan.

    Menurutnya bahan baku benang masih didatangkan dari luar daerah karena kondisi cuaca lokal yang tidak menentu menyulitkan produksi bahan secara mandiri.

    Meski demikian regenerasi pengrajin terus diupayakan. Ia menyebut generasi muda tetap disiapkan sebagai penerus meski proses belajar menenun membutuhkan waktu dan ketekunan.

    “Belajar menenun itu tidak mudah saya sendiri dulu butuh sekitar tiga bulan baru bisa,” katanya.

    Dari sisi pemasaran produk sarung tenun Samarinda telah menjangkau berbagai daerah, bahkan hingga luar negeri seperti Brunei dan Malaysia. Wisatawan mancanegara juga kerap datang langsung untuk membeli.

    “Kalau orang Brunei itu biasanya kalau liburan pasti ke sini, karena mereka suka sarung tenun,” ungkapnya.

    Tak hanya itu, ia juga aktif mengikuti pameran baik di dalam maupun luar negeri, termasuk hingga Yordania melalui fasilitasi pemerintah.

    Selain pasar umum produk tenun ini juga diminati kalangan pejabat. Ia menyebut sejumlah tokoh nasional termasuk istri Jusuf Kalla dan pejabat kementerian, pernah membeli produknya.

    Dalam perjalanannya usaha ini juga mendapat pembinaan dari Bank Indonesia, yang turut membantu peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan promosi.

    Namun demikian ia mengakui produksi dan penjualan masih sangat dipengaruhi kondisi ekonomi, terutama sektor tambang dan perkebunan yang menjadi pasar utama.

    “Kalau ekonomi tambang naik, biasanya penjualan kami juga ikut naik. Tapi kalau turun, kami juga ikut terdampak,” jelasnya.

    Ia menegaskan kunci bertahan dalam usaha tenun adalah semangat dan konsistensi dalam menjaga kualitas serta budaya yang diwariskan.

    “Kalau tidak semangat, walaupun ada modal, usaha ini tidak akan jalan,” pungkasnya.

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Andika Saputra

    Related Posts

    RKAB dan Ekspor Tambang Diambil Pusat, Bisnis Perusda Kaltim Ikut Tertekan

    September 18, 2026

    Target PAD dari Tambat Kapal Rp28 Miliar Kaltim Terancam Molor

    September 17, 2026

    Belanja Online Jadi Tantangan, Pemkot Ingin Hidupkan Kembali Pasar Pagi Samarinda

    September 17, 2026

    Penataan Pasar Pagi Didorong Pulihkan Aktivitas Perdagangan, Pedagang Diberi Ruang Bergabung

    September 17, 2026

    Penataan Pasar Pagi Berlanjut, Pemkot Cari Skema yang Tak Rugikan Pedagang

    September 16, 2026

    137 UMKM Penyintas Dapat KEMAS, Pertamina Siapkan Pemetaan Pasokan LPG 3 Kg

    September 16, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    RKAB dan Ekspor Tambang Diambil Pusat, Bisnis Perusda Kaltim Ikut Tertekan

    AminahSeptember 18, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Kebijakan pemerintah pusat dalam mengatur produksi dan ekspor komoditas tambang mulai berdampak…

    DPRD Kaltim Minta Penjelasan PLN soal Pemadaman dan Gangguan Empat Pembangkit

    September 18, 2026

    Udara Samarinda Memburuk, 3.000 Masker Demokrat Ludes Kurang dari 30 Menit

    September 18, 2026

    Porprov Kaltim 2026 Batasi Usia Atlet 30 Tahun, Larang Peraih Emas PON Tampil

    September 18, 2026

    Kaltim Kekurangan Jutaan Judul Buku untuk Capai Rasio Ideal Perpusnas

    September 18, 2026
    1 2 3 … 3,349 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.