Insitekaltim, Samarinda – Kedekatan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan sosok Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) terbukti sukses mendongkrak persepsi positif publik terhadap partai berlambang mawar tersebut.
Namun, moncernya citra politik ini memicu paradoks besar, lantaran belum mampu dikonversi menjadi modal suara yang signifikan untuk lolos ke parlemen.
Direktur Riset dan Kebijakan Politik LPI Fernando Emas mengungkapkan, telah terjadi fenomena image transfer atau perpindahan persepsi publik yang sangat kuat dari figur Jokowi ke tubuh PSI, terutama setelah mencuatnya kabar bahwa mantan wali kota Solo itu bakal mengisi posisi Ketua Dewan Pembina PSI.
“Dari temuan survei LPI, rata-rata 70,2 persen masyarakat menilai kedekatan PSI dengan Jokowi mampu meningkatkan kesan positif terhadap partai. Bahkan, 77,8 persen responden menganggap Jokowi punya pengaruh besar terhadap arah dukungan masyarakat ke PSI,” ujar Fernando saat memaparkan hasil survei dalam siaran YouTube belum lama ini.
Efek ekor jas dari figur Jokowi ini tidak hanya mendongkrak popularitas, tetapi juga berhasil menggeser persepsi publik terhadap karakter kepemimpinan PSI.
Survei LPI mencatat sebanyak 64,9 persen masyarakat kini menilai PSI sebagai partai yang merakyat khas gaya Jokowi, dan 62,8 persen menganggap PSI mencerminkan gaya kepemimpinan sang mantan presiden.
Menurut Fernando, asosiasi kuat ini merupakan buah dari strategi komunikasi politik yang konsisten dibangun oleh PSI, mulai dari merapatnya para relawan Jokowi hingga penunjukan Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum. Kombinasi nama besar bapak dan anak ini dinilai memperkuat identitas PSI di mata publik.
“Angka-angka ini menegaskan bahwa di mata publik, PSI dan Jokowi praktis sudah menjadi satu paket identitas politik. Faktor Jokowi dan faktor Kaesang pada akhirnya saling memperkuat satu sama lain dalam membentuk citra PSI sebagai partai anak muda yang diasosiasikan sebagai representasi politik Jokowi,” jelasnya.
Kendati sukses menguasai panggung persepsi publik, LPI memberikan catatan kritis berupa sebuah paradoks elektoral yang harus segera dijawab oleh internal PSI.
Sebab, dalam simulasi pemilu yang dilakukan saat ini, elektabilitas PSI nyatanya masih terlempar di bawah ambang batas parlemen, yakni hanya mengantongi 1,9 persen suara nasional.
Artinya, tingginya tingkat kesukaan masyarakat terhadap relasi PSI-Jokowi tidak serta-merta membuat pemilih otomatis mencoblos partai ini di bilik suara.
“Ini tantangan yang harus dicermati. Loyalitas publik terhadap Jokowi memang masih sangat kuat, namun belum cukup untuk mendorong mereka benar-benar berpindah pilihan ke PSI dalam jumlah signifikan,” tegas Fernando.
LPI memperingatkan bahwa modal investasi citra dari nama besar Jokowi ini akan sia-sia jika tidak segera diterjemahkan ke dalam kerja politik yang membumi.
“Modal citra dari sosok Jokowi ini perlu segera dikonversi menjadi program kerja yang konkret dan substansi politik yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Jika tidak, popularitas yang menyertai nama Jokowi berisiko hanya menjadi citra di permukaan tanpa pernah benar-benar berubah menjadi suara di kotak pemilu,” tegasnya.

