Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    BPS: Kaltim Perlu Perkuat Mitigasi Pasokan untuk Jaga Stabilitas Harga

    Juli 16, 2026

    Distribusi LPG Dinilai Lebih Tepat Dikelola Koperasi Merah Putih Ketimbang Bisnis Ritel

    Juli 16, 2026

    Rehabilitasi Sosial Terhadap Anjal dan Gepeng Menyisakan Kendala Karena Sebagian Kembali Turun ke Jalan

    Juli 16, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Daerah»Cegah Radikalisme, Madrasah Diniyah Diberikan Pendidikan Asas Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah
    Daerah

    Cegah Radikalisme, Madrasah Diniyah Diberikan Pendidikan Asas Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah

    MartinusBy MartinusOktober 19, 201902 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Reporter : Nada – Editor : Redaksi

    Insitekaltim, Samarinda – Kelompok Guru Kerja Madrasah Diniyah Kota Samarinda, menggelar acara pengajian untuk menyambut hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 2019 mendatang. Acara pengajian dilakukan di Masjid Al-Ma’ruf, Jalan Dr. Soetomo Nomor 17, Kota Samarinda dengan mengusung tema ‘Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia’.

    Acara ini dihadiri oleh Ustadz Muhammad Ju’i selaku Ketua Koordinator Madrasah Diniyah Kota Samarinda, Habib Alwi Baraqbah, dan tamu undangan lainnya.

    “Alhamdulillah pelaksanaan pengajian telah selesai kita lakukan. Tujuan acara ini untuk menyambut hari Santri  Nasional serta mengajak para santri-santri Diniyah Samarinda mengenang dan mengenal sejarah santri terdahulu yang juga belajar ilmu agama serta semangat untuk memperjuangkan negeri ini,” ungkap Ustadz Muhammad Ju’i kepada Insitekaltim.com, Minggu (20/10/2019).

    Ustadz Ju’i mengatakan, bahwa untuk menjadi santri tidak mesti harus belajar di pondok pesantren.

    “Masyarakat luas serta pemerintah selalu menyebut santri adalah pelajar yang ada di pondok pesantren. Sebenarnya tidak mesti begitu, karena kami adalah alumni-alumni yang berasal dari pondok pesantren, kami merantau kemudian menyampaikan dan membagi ilmu yang kami dapat kepada mereka dan itu juga santri namanya, bukan hanya yang mondok di pesantren. Tujuannya untuk mempertahankan akidahnya juga mempertahankan negaranya,” jelasnya.

    Terkait perbedaan paham yang kerap terjadi, Ustadz Ju’i menyampaikan, perlu adanya pembinaan ditingkat Diniyah.

    “Kalau saya pribadi, saat ini sudah banyak perbedaan yang terjadi, kami mengantisipasi generasi berikutnya dengan memberikan pendidikan ditingkat Diniyah. Pendidikan serta kurikulum yang berasaskan Ahlus-Sunnah wal Jama’ah supaya para santri tidak nyeleweng dan tidak lepas pahamnya dari Baginda Rasullulah,” pungkasnya.

    Ia mengaku, pedoman pendidikan yang diambil berasal dari pondok pesantren yang ada di Jawa dan Madura.

    “Upaya antisipasi yang kami berikan di Kalimantan Timur khususnya di Kota Samarinda berasal dari kedua daerah tersebut, kedepannya anak-anak didik kami mempunyai filter untuk menangkis paham-paham yang nyeleneh seperti radikalisme dan liberalisme,” tuturnya.

    Ia mengklaim, acara hari ini dihadiri oleh perwakilan Diniyah se-Kota Samarinda.

    “Mungkin tidak semuanya hadir dikarenakan sejak subuh tadi hujan jadi banyak yang ketika sudah ditengah perjalanan memilih putar balik,” katanya.

    Ditemui di lokasi yang sama, Habib Alwi Baraqbah juga memberikan pendapatnya untuk menangkal paham radikalisme terutama di wilayah Kaltim.

    “Santri-santri telah kita berikan pemahaman mengenai apa itu radikalisme, serta bagaimana sistemnya. Untuk menangkal itu, kita harus beri wejangan, kita beritahu paham-paham mana yang tidak boleh diikuti. Sehingga mereka paham, dan harus rutin didoktrinkan terus menerus biar mereka juga tidak bingung,” tutupnya.

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Martinus

    Related Posts

    Tumpang Tindih Kewenangan, Pesantren Berbasis Sekolah Formal Butuh Sinkronisasi Kebijakan Pendidikan

    Juli 16, 2026

    Disdikbud Pastikan 16 Calon Siswa SPMB 2026 Segera Dapat Sekolah Negeri

    Juli 15, 2026

    Efisiensi Anggaran Jangan Sampai Korbankan Mutu Pendidikan Kaltim

    Juli 14, 2026

    19 Aduan SPMB Tuntas, Pemkot Masih Tangani 17 Calon Siswa yang Belum Tertampung

    Juli 14, 2026

    Dugaan Manipulasi Domisili hingga Pungutan Warnai SPMB 2026, Pemkot Siapkan Evaluasi Menyeluruh

    Juli 13, 2026

    SPMB 2026 Menuai Polemik, Perubahan Sistem Zonasi Perlu Dievaluasi

    Juli 13, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    BPS: Kaltim Perlu Perkuat Mitigasi Pasokan untuk Jaga Stabilitas Harga

    R’syaJuli 16, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur (Kaltim) Mas’ud Rifai menilai penguatan…

    Distribusi LPG Dinilai Lebih Tepat Dikelola Koperasi Merah Putih Ketimbang Bisnis Ritel

    Juli 16, 2026

    Rehabilitasi Sosial Terhadap Anjal dan Gepeng Menyisakan Kendala Karena Sebagian Kembali Turun ke Jalan

    Juli 16, 2026

    Tumpang Tindih Kewenangan, Pesantren Berbasis Sekolah Formal Butuh Sinkronisasi Kebijakan Pendidikan

    Juli 16, 2026

    Perkuat Deteksi Dini, Dinkes Samarinda Catat Hingga Mei 2026, Sudah 29 Kematian Akibat AIDS

    Juli 16, 2026
    1 2 3 … 3,218 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.