Insitekaltim, Samarinda – Di tengah upaya memperluas deteksi dini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda mencatat 184 kasus baru HIV sepanjang Januari hingga Mei tahun ini, sementara capaian skrining baru mencapai 45 persen dari target tahunan.
Sementara 2.211 orang di Kota Samarinda masih aktif menjalani pengobatan HIV, hingga Mei 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Samarinda, Ismid Kusasih, mengatakan target skrining HIV pada 2026 sebanyak 43.189 orang. Hingga Mei, sebanyak 19.577 orang telah menjalani pemeriksaan atau sekitar 45 persen dari target tersebut.
Menurut Ismid, tingginya jumlah kasus yang ditemukan tidak bisa serta-merta diartikan sebagai meningkatnya penyebaran HIV.
Justru, semakin banyak masyarakat yang menjalani skrining. Semakin besar peluang menemukan kasus lebih awal sehingga penderita dapat segera memperoleh pengobatan.
“Dalam pengendalian HIV, yang terpenting adalah menemukan kasus lebih dini agar pasien bisa langsung mendapatkan pengobatan,” ujarnya, di Samarinda, Jumat, 24 Juli 2026.
Dari hasil skrining tersebut, Dinkes menemukan 184 kasus baru HIV hingga Mei 2026. Sebanyak 145 orang di antaranya telah memulai pengobatan antiretroviral (ARV). Sekitar 30 persen dari temuan kasus baru berasal dari kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL).
Sementara itu, jumlah kasus AIDS yang tercatat sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai 51 kasus.
Berdasarkan data Dinkes, komposisi pasien yang masih aktif menjalani pengobatan HIV didominasi kelompok LSL sebanyak 41 persen.
Sisanya berasal dari populasi umum (16 persen), pasangan berisiko tinggi atau pasangan orang dengan HIV (15 persen), pelanggan pekerja seksual (12 persen), serta pasien tuberkulosis (TB) (9 persen).
Secara kumulatif, jumlah temuan kasus HIV di Samarinda hingga Mei 2026 mencapai 4.385 kasus.
Dinkes juga mencatat tren angka kematian terkait HIV mulai menurun. Pada 2024 tercatat 102 kasus kematian, meningkat menjadi 103 kasus pada 2025, sedangkan hingga Mei 2026 jumlahnya tercatat 29 kasus.
Ismid menjelaskan, kematian pada orang dengan HIV umumnya bukan disebabkan langsung oleh virus HIV, melainkan akibat infeksi oportunistik atau penyakit penyerta yang muncul ketika sistem kekebalan tubuh telah menurun.
Ia menegaskan, penanganan HIV tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan.
Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, organisasi masyarakat hingga komunitas. Untuk meningkatkan edukasi, memperluas skrining. Serta mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV, agar mereka tetap menjalani pengobatan secara rutin.

