Insitekaltim, Samarinda – Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) mencatat tiga jemaah haji asal Benua Etam meninggal dunia selama menjalankan ibadah haji 2026.
Sebagian besar jemaah yang wafat merupakan kelompok lanjut usia (lansia) dengan riwayat penyakit yang sebelumnya telah terkontrol.
Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, berdasarkan hasil audit dan laporan tim kesehatan haji, dua dari tiga jemaah yang meninggal diduga akibat serangan jantung. Seluruhnya merupakan jemaah lansia yang memiliki faktor risiko kesehatan.
“Ada tiga yang meninggal. Dua di antaranya karena serangan jantung. Semuanya lansia,” kata Jaya di Samarinda, Selasa, 2 Juni 2026.
Meski memiliki riwayat penyakit, Jaya menegaskan kondisi kesehatan para jemaah tersebut sebenarnya telah melalui proses pemeriksaan dan dinyatakan terkendali sebelum keberangkatan.
Menurutnya, hasil evaluasi menunjukkan sebagian jemaah yang wafat memang memiliki penyakit penyerta, namun dalam kondisi terkontrol. Termasuk salah satu jemaah yang memiliki riwayat tuberkulosis (TB) dan telah menyelesaikan pengobatan sebelum berangkat ke Tanah Suci.
“Saya lakukan audit secara daring. Ternyata yang dilaporkan memang memiliki risiko kesehatan tetapi risikonya terkontrol. Ada yang punya riwayat TB namun pengobatannya sudah selesai,” ujarnya.
Jaya menilai kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi kesehatan jemaah. Berdasarkan laporan yang diterimanya, suhu udara di sejumlah lokasi pelaksanaan ibadah haji masih mencapai 45 derajat Celsius.
Padahal sebelumnya terdapat informasi bahwa musim haji tahun ini diperkirakan menjadi musim haji terakhir dengan cuaca yang relatif lebih sejuk.
“Ternyata di sana masih panas. Suhunya ada yang mencapai 45 derajat Celsius,” katanya.
Selain faktor cuaca, aktivitas fisik yang cukup berat selama menjalankan rangkaian ibadah juga menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah, terutama kelompok lansia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.
Salah satu jemaah dilaporkan tiba-tiba pingsan saat hendak melaksanakan salat. Peristiwa tersebut terjadi di kawasan Madinah, sementara kasus lainnya terjadi di Makkah.
“Ada yang di Madinah, ada yang di Makkah. Semuanya memang memiliki faktor risiko, terutama karena usia lanjut,” tuturnya.
Ia menambahkan, pihaknya menjadikan kejadian ini sebagai bahan evaluasi untuk memperketat pemantauan kesehatan jemaah selama berada di Arab Saudi.
Menurutnya pemeriksaan kesehatan tidak hanya perlu dilakukan terhadap jemaah yang sakit, tetapi juga mereka yang terlihat sehat.
“Setiap hari harus dicek, bukan hanya yang sakit. Yang sehat juga harus dipantau karena kondisinya bisa berubah tiba-tiba,” jelasnya.
Selain penyakit jantung, Dinkes Kaltim juga menerima laporan adanya jemaah yang mengalami gangguan paru-paru dan influenza. Salah satu kasus influenza diketahui terjadi pada jemaah yang tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.
Menurut Jaya, penyakit jantung dan paru-paru menjadi dua gangguan kesehatan yang paling perlu diwaspadai selama pelaksanaan ibadah haji karena tingginya aktivitas fisik dan kondisi lingkungan yang ekstrem.
Meski terdapat tiga jemaah yang meninggal dunia, Jaya menyebut angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan pelaksanaan ibadah haji pada tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, jumlah jemaah yang meninggal tahun ini masih relatif sedikit,” terangnya.
Dinkes Kaltim berharap jumlah tersebut tidak bertambah hingga seluruh rangkaian ibadah haji selesai dan jemaah kembali ke daerah asal masing-masing.
“Kita terus melakukan pemantauan dan pendampingan terhadap jemaah yang masih berada di Tanah Suci,” pungkasnya.

