Insitekaltim, Samarinda – Sekolah gratis bukan berarti seluruh beban pendidikan keluarga hilang. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda menilai kemampuan ekonomi rumah tangga masih menjadi penentu apakah seorang anak mampu menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang yang lebih tinggi.
Temuan itu muncul di tengah tren Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Samarinda yang terus membaik. Pada 2025, IPM mencapai 83,53 atau naik dibanding 83,11 pada 2024.
Namun di balik kenaikan tersebut, BPS mengingatkan, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sekolah, melainkan juga daya beli masyarakat.
Kepala BPS Kota Samarinda Supriyanto mengatakan, banyak kebutuhan pendidikan yang tetap harus ditanggung keluarga meski biaya sekolah telah digratiskan pemerintah.
“Pendidikan memang gratis, tetapi masih ada biaya transportasi, seragam, dan kebutuhan penunjang lainnya. Kalau ekonomi keluarga membaik, kemampuan orang tua mendukung pendidikan anak juga meningkat,” katanya kepada Insitekaltim, Kamis, 30 Juli 2026.
Kondisi itu membuat indikator ekonomi menjadi faktor yang paling cepat memengaruhi peningkatan kualitas sumber daya manusia dibanding dua indikator IPM lainnya, yakni kesehatan dan pendidikan.
Berbeda dengan pendidikan dan kesehatan yang peningkatannya berlangsung bertahap, perubahan pendapatan masyarakat dapat langsung memengaruhi kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan anak, termasuk mempertahankan mereka tetap bersekolah.
BPS mencatat rata-rata lama sekolah penduduk Samarinda saat ini mencapai 11,4 tahun atau setara kelas XI SMA. Sementara harapan lama sekolah mencapai 15,41 tahun atau setara pendidikan diploma.
Meski demikian, Supriyanto menilai kenaikan indikator pendidikan tidak lagi bisa melonjak tinggi karena akses pendidikan di Samarinda sudah relatif merata.
“Sekarang tantangannya bukan hanya menyediakan sekolah, tetapi memastikan anak-anak tidak berhenti sekolah karena kondisi ekonomi keluarganya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembangunan manusia tidak bisa hanya bertumpu pada sektor pendidikan. Peningkatan layanan kesehatan, penciptaan lapangan kerja, hingga kenaikan pendapatan masyarakat harus berjalan beriringan agar kualitas sumber daya manusia terus meningkat.
“Orang yang sehat bisa belajar. Setelah memiliki pendidikan yang baik, peluang masuk ke dunia kerja lebih besar. Ketika pendapatannya meningkat, mereka kembali bisa membiayai pendidikan anak-anaknya. Siklusnya saling berkaitan,” tutupnya.

