Insitekaltim, Samarinda – SD Negeri 010 Samarinda Kota terus memperkuat budaya peduli lingkungan melalui berbagai kebiasaan di lingkungan sekolah. Upaya tersebut dilakukan seiring sekolah yang tahun ini maju dalam penilaian Adiwiyata tingkat nasional.

Kepala SDN 010 Samarinda Kota Rina Mardiati mengatakan program Adiwiyata tidak sekadar berfokus pada kebersihan sekolah, tetapi juga membentuk kebiasaan siswa dalam menjaga lingkungan, termasuk mengurangi penggunaan sampah plastik.
“Adiwiyata sendiri itu tentang kebersihan sekolah, kebersihan lingkungan sekolah dan juga bagaimana cara pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan SD Negeri 010 Samarinda Kota, terutama untuk sampah,” ujarnya di Samarinda, Selasa, 11 Agustus 2026.
Salah satu kebijakan yang diterapkan sekolah yakni mewajibkan siswa membawa tumbler dan tempat makan yang dapat digunakan kembali. Siswa juga dianjurkan membawa lap atau sapu tangan sendiri untuk mengurangi penggunaan barang sekali pakai.
Sekolah turut mengimbau kantin agar tidak menjual makanan maupun minuman dengan kemasan plastik sekali pakai. Siswa yang ingin membeli minuman maupun makanan diarahkan menggunakan wadah yang telah mereka bawa dari rumah.
“Jadi itu meminimalisir penggunaan sampah plastik. Jadi sampahnya itu berkurang di sini,” jelasnya.
Selain pengelolaan sampah, Rina menyebut program Adiwiyata di sekolah juga mencakup sejumlah aspek lingkungan, seperti penghematan air dan listrik serta upaya menjaga keanekaragaman hayati.
Menurutnya, Adiwiyata bukanlah perlombaan antarsekolah, melainkan program yang menekankan pembiasaan positif dan kepedulian terhadap lingkungan secara berkelanjutan.
“Tidak bersaing untuk Adiwiyata, sebenarnya itu bukan perlombaan. Tetapi menekankan pada pembiasaan-pembiasaan baik, tentunya tentang lingkungan di sekolah tersebut,” terangnya.
SDN 010 Samarinda Kota sebelumnya telah meraih Adiwiyata tingkat kota. Pada 2026, sekolah tersebut mengajukan diri ke tingkat nasional.
Rina berharap capaian Adiwiyata nantinya tidak berhenti pada perolehan sertifikat, tetapi dapat dilanjutkan menuju Adiwiyata Mandiri dan menjadi budaya di lingkungan sekolah.
“Harapan kami yang jelas Adiwiyata tersebut tidak berhenti hanya sampai di misalnya sekarang sudah nasional berhenti di tahun ini. Akan tetapi bisa berlanjut lagi ke Adiwiyata Mandiri dan setelah itu juga tidak berhenti sampai situ, akan tetapi menjadi budaya,” pungkasnya.

