Insitekaltim, Samarinda – Bagi anak muda, kemerdekaan tidak selalu harus dimaknai lewat upacara, pengibaran bendera, atau perlombaan setiap 17 Agustus. Di kehidupan sehari-hari, kemerdekaan justru terasa ketika mereka memiliki kebebasan menentukan pilihan, menyampaikan pendapat, hingga berkarya dengan tetap bertanggung jawab.
Ersa, mahasiswa baru Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan untuk menentukan pilihan hidup dan berekspresi tanpa mengabaikan tanggung jawab.
“Bebas menentukan pilihan hidup dan berekspresi, tapi tetap bertanggung jawab,” ujarnya di Samarinda, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Menurutnya, bentuk kemerdekaan tersebut dapat dimulai dari keputusan-keputusan sederhana yang dekat dengan kehidupan anak muda. Misalnya berani memilih jurusan sesuai keinginan, berani menyampaikan pendapat mengenai hal yang dianggap benar di media sosial, serta tidak ikut melakukan hal-hal negatif.
Bagi Ersa, kemerdekaan juga seharusnya mendorong anak muda untuk menghasilkan sesuatu yang berdampak. Karena itu, perayaan kemerdekaan dinilainya tidak harus selalu berupa upacara dan lomba.
“Selain upacara dan lomba, cara paling relevan adalah berkarya dan berdampak. Contohnya bikin konten positif, dukung UMKM lokal, ikut kegiatan sosial,” sebutnya.
Ia menilai kontribusi anak muda terhadap lingkungan dan masyarakat juga tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Menjaga kebersihan, tidak menyebarkan hoaks, serta aktif dalam kegiatan kampus menjadi langkah sederhana yang menurutnya tetap memiliki arti.
“Hal kecil ini penting karena perubahan besar dimulai dari langkah kecil,” tuturnya.
Sementara itu, April 24 tahun yang telah bekerja, melihat kemerdekaan dari sisi yang lebih dekat dengan kebebasan menentukan masa depan. Setiap orang memiliki hak untuk memilih jalan hidup dan menyampaikan suara selama dilakukan dengan bertanggung jawab.
“Kalau dalam kehidupan sehari-hari menurutku kayak kita bebas mau ngelakuin apa aja, bebas memilih dan bebas mau bersuara, bukan asbun juga lah ya,” ungkapnya.
Ia mencontohkan kebebasan tersebut dapat dirasakan perempuan ketika memiliki kesempatan menentukan pilihan hidupnya sendiri, baik memilih untuk menikah, bekerja, maupun melanjutkan pendidikan.
Anak muda juga bisa merayakan kemerdekaan dengan kegiatan yang mengajak mereka kembali melihat Indonesia secara lebih reflektif. Ia mengusulkan doa bersama hingga menonton film yang berkaitan dengan perjuangan dan Indonesia.
“Aku pengen doa bersama atau nobar film yang berhubungan, karena sekarang anak-anak muda pada merendahkan negaranya sendiri,” ucapnya.
Selain kegiatan khusus pada momentum kemerdekaan, April menyebut kontribusi juga dapat dilakukan melalui kebiasaan sehari-hari. Ia mengingatkan anak muda untuk tidak hanya menjaga lingkungan dari sampah, tetapi juga menjaga perkataan.
“Segampang nggak nyampah sembarangan, sampah beneran dan sampah perkataan. Capek banget dengar orang putus asa, kita butuh orang optimis,” katanya.
Meski menginginkan perayaan yang lebih relevan dengan generasi muda, April menilai tradisi 17 Agustus tetap penting dipertahankan. Lomba-lomba di tingkat lingkungan tetap memiliki nilai sebagai ruang berkumpul sekaligus nostalgia bagi generasi muda.
“Namun kegiatan ini dapat dikembangkan dengan sentuhan yang lebih kekinian, seperti membuat video kreatif atau pertunjukan teater,” pungkasnya.

