Insitekaltim, Samarinda – Pendataan ukuran seragam peserta didik dalam program Gratispol di Kalimantan Timur (Kaltim) bakal diubah mulai penerimaan murid baru tahun depan. Data ukuran baju, celana atau rok, sepatu hingga kebutuhan jilbab akan dimasukkan langsung dalam formulir pendaftaran Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Langkah ini disiapkan setelah pendataan kebutuhan seragam sebelumnya masih dilakukan secara manual melalui masing-masing sekolah. Data siswa, termasuk ukuran pakaian dan sepatu, dikumpulkan dalam bentuk Excel sehingga membutuhkan waktu sebelum dapat digunakan sebagai dasar pengadaan.
Kepala UPTD Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (Tekkom dan Infodik) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kaltim Sulaiman mengatakan, persoalan pendataan menjadi salah satu kendala dalam proses penyediaan seragam.
“Kan salah satu kendalanya memang pendataan. Kita mohon maaf belum tahu persis data siswa terkait dengan ukuran baju, ukuran sepatu,” kata Sulaiman, Selasa 22 September 2026.
Menurutnya, sistem sebelumnya mengharuskan sekolah mengirimkan data secara terpisah. Sekolah perlu merinci jumlah peserta didik berdasarkan ukuran pakaian sebelum data tersebut dihimpun untuk kebutuhan pengadaan.
“Yang manual kan masih minta data excel-nya. Jadi per sekolah, berapa muridnya, berapa yang L, berapa yang M,” ujarnya.
Kondisi tersebut dinilai kurang efisien jika kebutuhan seragam harus dihitung untuk seluruh peserta didik penerima program. Terlebih, kebutuhan seragam tidak hanya berupa ukuran pakaian, tetapi juga jenis perlengkapan yang harus disesuaikan dengan kondisi peserta didik.
Melalui sistem baru, data tersebut akan diminta sejak calon murid melakukan pendaftaran SPMB. Formulir pendaftaran nantinya tidak hanya memuat data untuk keperluan seleksi, tetapi juga informasi yang dibutuhkan untuk mendukung program bantuan seragam.
“Ke depan di dalam proses seleksi itu, ketika orang daftar, anak-anak kita daftar itu sudah ada form yang harus diisi di situ terkait dengan ukuran. Ukuran baju, ukuran sepatu, ukuran celana. Jadi ketika nanti sudah diterima kan sudah ada datanya,” jelasnya.
Data tersebut diharapkan memungkinkan pemerintah melakukan pemetaan kebutuhan sejak awal. Misalnya, jumlah siswa dengan ukuran M dan L, kebutuhan seragam putra dan putri, hingga peserta didik yang membutuhkan jilbab.
“Itu sudah bisa kita identifikasi berapa se-Kaltim ini yang ukuran M, berapa yang ukuran L, terus berapa yang putri, berapa yang putra, terus berapa yang muslim yang menggunakan jilbab,” katanya.
Sulaiman menyebut pembenahan tersebut merupakan bagian dari upaya memanfaatkan teknologi untuk mengurangi persoalan administrasi yang sebelumnya muncul dalam pelaksanaan program.
Ia menilai program yang baru berjalan tetap membutuhkan evaluasi, terutama pada tahap pendataan. Menurutnya, kendala dalam pelaksanaan tidak berarti program sengaja dibuat tanpa persiapan, tetapi menjadi bahan untuk memperbaiki mekanisme pada pelaksanaan berikutnya.
“Karena program pertama tentu ada beberapa yang harus kita perbaiki. Ini salah satu fungsi dengan teknologi, meminimalisir catatan-catatan tadi supaya tidak terjadi lagi,” ujarnya.
UPTD Tekkom dan Infodik sendiri menjadi salah satu unit yang menangani pengembangan teknologi dan informasi pendidikan di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim. Selain mendukung digitalisasi SPMB, unit tersebut juga dipercaya mengembangkan aplikasi pengelolaan dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP).
Untuk SPMB, Sulaiman mengakui penerapan sistem digital tahun ini sempat menghadapi kendala ketika server mengalami down pada awal pendaftaran. Kondisi tersebut terjadi karena banyak calon murid mengakses sistem secara bersamaan.
“Kita enggak nyangka. Kita tidak buat jadwal secara khusus, langsung dalam satu waktu sama-sama mendaftar. Jadi enggak kuat server kami,” katanya.
Aplikasi SPMB tersebut dibuat UPTD Tekkom dan Infodik dengan dukungan infrastruktur server dari Dinas Komunikasi dan Informatika. Kendala pada pelaksanaan awal kemudian menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan sistem.

